BACAAJA, SEMARANG– Semarang sedang menyiapkan diri menjadi kota tangguh sampai 2045. Teknologi mulai dipasang, sistem deteksi banjir dikembangkan, sampah bahkan dirancang bisa berubah jadi bahan bakar. Tapi ada satu hal yang ternyata belum bisa di-upgrade dengan teknologi: perilaku manusia.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menilai, banjir, rob, dan sampah masih menjadi pekerjaan rumah serius yang harus dibereskan jika Semarang ingin benar-benar menjadi kota masa depan yang tangguh dan berkelanjutan.
Hal itu disampaikan Agustina saat menjadi keynote speech dalam Semarang Resilience Forum 2026 bertema “Semarang 2045 Kota Masa Depan yang Tangguh dan Berkelanjutan” di Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, belum lama ini.
Menurut Agustina, kota tangguh bukan berarti kota yang bebas dari bencana. Justru kota tangguh adalah kota yang mampu membaca risiko, bergerak cepat ketika masalah datang, dan punya sistem yang membuat warga serta pemerintah bisa beradaptasi.
“Kota yang tangguh bukanlah kota yang tidak pernah diterpa gelombang, melainkan kota yang tahu cara membaca arah angin dan menyiapkan dirinya untuk tetap berdiri tegak,” kata Agustina.
Baca juga: Semarang Kota Terandal 2026
Sebagai kota pesisir, Semarang memang punya paket tantangan yang cukup lengkap. Banjir, rob, sampai persoalan sampah perkotaan terus membutuhkan penanganan serius.
Apalagi produksi sampah di Kota Semarang mencapai sekitar 1.200 ton per hari. Jumlah yang jelas tidak mungkin diselesaikan dengan sekadar mengandalkan petugas kebersihan dan armada pengangkut.
Karena itu, Pemkot Semarang mulai mengandalkan teknologi. AISSA (AI Solusi Sampah Semarang) kembali diluncurkan untuk memantau kondisi tempat pembuangan sementara (TPS) secara real-time.
Sementara untuk urusan banjir dan rob, Pemkot memperkenalkan Flood Eye, platform yang dirancang membantu mendeteksi lebih dini potensi risiko banjir dan rob.
Pengolahan sampah juga mulai diarahkan ke berbagai teknologi. Di antaranya pirolisis untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar setara solar, penggunaan biodekomposer, hingga pengembangan skema PSEL (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah).
Metode Pirolisis
Agustina bahkan menyebut adanya dukungan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) untuk mengolah sekitar 3,5 juta ton tumpukan sampah melalui metode pirolisis.
“Ada dukungan dari KSAD untuk mengolah sekitar 3,5 juta ton tumpukan sampah di sana melalui metode pirolisis. Diolah pabrik nanti hasilnya menjadi bahan bakar,” ungkapnya.
Namun, menurut Agustina, teknologi secanggih apa pun tetap bisa kalah oleh kebiasaan buruk. Ia mencontohkan sampah yang ditemukan di sekitar sistem pompa pengendali banjir. Bukan cuma plastik atau bungkus makanan, tetapi juga barang-barang berukuran besar seperti ban dan berbagai perlengkapan rumah tangga yang berpotensi menghambat kerja pompa.
Artinya, membangun infrastruktur mahal belum otomatis membuat kota menjadi tangguh. Kalau perilaku warganya masih asal buang sampah, sistem yang sudah dibangun bisa kembali dibuat kewalahan.
“Infrastruktur yang dibangun dengan baik tidak akan sustain tanpa perilaku masyarakat yang mendukung,” tegasnya. Karena itu, Agustina mendorong pembangunan ketahanan kota tidak hanya berbicara soal beton, pompa, teknologi, atau aplikasi. Semuanya harus berjalan bersama dengan perubahan perilaku masyarakat dan tata kelola yang konsisten.
Baca juga: Semarang Masuk Tiga Besar Kota Paling Toleran
Ia juga menilai Semarang membutuhkan grand design penataan kota jangka panjang yang benar-benar mengikat. Dengan begitu, konsep penanganan banjir tidak ikut berubah setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan.
“Saya kira itu problematika paling krusial dalam proses perencanaan kita selama ini, yaitu belum tersusunnya grand design yang mengikat jangka panjang,” pungkasnya.
Semarang Resilience Forum 2026 sendiri digelar melalui kolaborasi Pemkot Semarang, Universitas Diponegoro, dan Katadata. Forum tersebut diikuti sekitar 150 peserta dari kalangan akademisi, pemerintah, swasta, komunitas, hingga media.
Ujung-ujungnya, Semarang 2045 mungkin sudah punya AI untuk membaca sampah, punya teknologi untuk mengendus banjir, dan punya pompa untuk melawan rob. Tinggal satu teknologi yang belum ditemukan: sistem yang bisa bikin manusia otomatis sadar kalau ban itu lebih cocok di bengkel daripada di depan pompa. (tebe)

