Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Semarang Mau Tangguh sampai 2045, Tapi Sampah Masih Suka Nyangkut
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Daerah

Semarang Mau Tangguh sampai 2045, Tapi Sampah Masih Suka Nyangkut

Mau jadi kota tangguh sampai 2045, Semarang ternyata tak cukup cuma modal pompa, AI, dan teknologi canggih. Sebab, secanggih apa pun sistemnya, tetap bisa dibuat kewalahan kalau barang rumah tangga dan sampah masih nyasar ke saluran serta sekitar pompa.

T. Budianto
Last updated: September 4, 2026 3:46 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
KEYNOTE SPEECH: Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng memeberikan keynote speech dalam Semarang Resilience Forum 2026 di Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, belum lama ini. (Foto: Pemkot Semarang)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG– Semarang sedang menyiapkan diri menjadi kota tangguh sampai 2045. Teknologi mulai dipasang, sistem deteksi banjir dikembangkan, sampah bahkan dirancang bisa berubah jadi bahan bakar. Tapi ada satu hal yang ternyata belum bisa di-upgrade dengan teknologi: perilaku manusia.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menilai, banjir, rob, dan sampah masih menjadi pekerjaan rumah serius yang harus dibereskan jika Semarang ingin benar-benar menjadi kota masa depan yang tangguh dan berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Agustina saat menjadi keynote speech dalam Semarang Resilience Forum 2026 bertema “Semarang 2045 Kota Masa Depan yang Tangguh dan Berkelanjutan” di Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, belum lama ini.

Menurut Agustina, kota tangguh bukan berarti kota yang bebas dari bencana. Justru kota tangguh adalah kota yang mampu membaca risiko, bergerak cepat ketika masalah datang, dan punya sistem yang membuat warga serta pemerintah bisa beradaptasi.

“Kota yang tangguh bukanlah kota yang tidak pernah diterpa gelombang, melainkan kota yang tahu cara membaca arah angin dan menyiapkan dirinya untuk tetap berdiri tegak,” kata Agustina.

Baca juga: Semarang Kota Terandal 2026

Sebagai kota pesisir, Semarang memang punya paket tantangan yang cukup lengkap. Banjir, rob, sampai persoalan sampah perkotaan terus membutuhkan penanganan serius.

Apalagi produksi sampah di Kota Semarang mencapai sekitar 1.200 ton per hari. Jumlah yang jelas tidak mungkin diselesaikan dengan sekadar mengandalkan petugas kebersihan dan armada pengangkut.

Karena itu, Pemkot Semarang mulai mengandalkan teknologi. AISSA (AI Solusi Sampah Semarang) kembali diluncurkan untuk memantau kondisi tempat pembuangan sementara (TPS) secara real-time.

Sementara untuk urusan banjir dan rob, Pemkot memperkenalkan Flood Eye, platform yang dirancang membantu mendeteksi lebih dini potensi risiko banjir dan rob.

Pengolahan sampah juga mulai diarahkan ke berbagai teknologi. Di antaranya pirolisis untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar setara solar, penggunaan biodekomposer, hingga pengembangan skema PSEL (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah).

Metode Pirolisis

Agustina bahkan menyebut adanya dukungan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) untuk mengolah sekitar 3,5 juta ton tumpukan sampah melalui metode pirolisis.

“Ada dukungan dari KSAD untuk mengolah sekitar 3,5 juta ton tumpukan sampah di sana melalui metode pirolisis. Diolah pabrik nanti hasilnya menjadi bahan bakar,” ungkapnya.

Namun, menurut Agustina, teknologi secanggih apa pun tetap bisa kalah oleh kebiasaan buruk. Ia mencontohkan sampah yang ditemukan di sekitar sistem pompa pengendali banjir. Bukan cuma plastik atau bungkus makanan, tetapi juga barang-barang berukuran besar seperti ban dan berbagai perlengkapan rumah tangga yang berpotensi menghambat kerja pompa.

Artinya, membangun infrastruktur mahal belum otomatis membuat kota menjadi tangguh. Kalau perilaku warganya masih asal buang sampah, sistem yang sudah dibangun bisa kembali dibuat kewalahan.

“Infrastruktur yang dibangun dengan baik tidak akan sustain tanpa perilaku masyarakat yang mendukung,” tegasnya. Karena itu, Agustina mendorong pembangunan ketahanan kota tidak hanya berbicara soal beton, pompa, teknologi, atau aplikasi. Semuanya harus berjalan bersama dengan perubahan perilaku masyarakat dan tata kelola yang konsisten.

Baca juga: Semarang Masuk Tiga Besar Kota Paling Toleran

Ia juga menilai Semarang membutuhkan grand design penataan kota jangka panjang yang benar-benar mengikat. Dengan begitu, konsep penanganan banjir tidak ikut berubah setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan.

“Saya kira itu problematika paling krusial dalam proses perencanaan kita selama ini, yaitu belum tersusunnya grand design yang mengikat jangka panjang,” pungkasnya.

Semarang Resilience Forum 2026 sendiri digelar melalui kolaborasi Pemkot Semarang, Universitas Diponegoro, dan Katadata. Forum tersebut diikuti sekitar 150 peserta dari kalangan akademisi, pemerintah, swasta, komunitas, hingga media.

Ujung-ujungnya, Semarang 2045 mungkin sudah punya AI untuk membaca sampah, punya teknologi untuk mengendus banjir, dan punya pompa untuk melawan rob. Tinggal satu teknologi yang belum ditemukan: sistem yang bisa bikin manusia otomatis sadar kalau ban itu lebih cocok di bengkel daripada di depan pompa. (tebe)

You Might Also Like

Polda Jateng Jamin Rekrutmen Polri 2026 Bersih Tanpa Titipan, Yakin?

Mohammad Saleh Imbau Pemudik Utamakan Keselamatan

SPMB Belum Mulai, Ombudsman Sudah Cium “Bau” Ribetnya

7 Poin Manifesto Muktamar Petani Nahdliyin di Semarang, akan Dibawa ke Muktamar NU di Jombang

Eks Karyawan RS Soewondo Menangis saat Rapat Pansus Pemakzulan Bupati Pati

TAGGED:agustina wilujengheadlinepemkot semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Dunia Hiburan Semarang, Lampu Masih Nyala, Tapi Bisnis Mulai Redup
Next Article KAMAR MAYAT - Korban tewas diantar ke ruang jenazah. (grafis/wahyu) Polisi Ungkap Identitas Korban Tertimpa Pohon Tumbang di Pandanaran

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno.

Pohon Tumbang 2 Nyawa Pengguna Jalan di Semarang, MTI: Bukan Sekadar Musibah

10 Perda Surakarta Dicek, Ada yang Harus “Dipensiunkan”

KAMAR MAYAT - Korban tewas diantar ke ruang jenazah. (grafis/wahyu)

Polisi Ungkap Identitas Korban Tertimpa Pohon Tumbang di Pandanaran

Semarang Mau Tangguh sampai 2045, Tapi Sampah Masih Suka Nyangkut

Dunia Hiburan Semarang, Lampu Masih Nyala, Tapi Bisnis Mulai Redup

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Fokus

Bus Listrik Bikin Udara Semarang Lega, Asal Jangan Berhenti di Seremoni

Juni 22, 2026
SAKSI SIDANG--Eks PPK Kemenhub,Ari Hendratno (kemeja putih) bersama saksi lain berjalan usai memberi keterangan di sidang terdakwa Sudewo, di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (27/7/2026). (bae)
Hukum

Nama Politikus Banjarnegara Anak Mantan Bupati Ikut Disebut dalam Sidang Korupsi Sudewo

Juli 28, 2026
Info

Antisipasi Krisis Pangan, 12 Pemprov Kumpul di Semarang

Mei 12, 2026
Ilustrasi eksplorasi panas bumi.
Info

Perusahaan Terafiliasi Israel Diberi Izin Pemerintah Garap Proyek Panas Bumi di Indonesia

Februari 17, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Semarang Mau Tangguh sampai 2045, Tapi Sampah Masih Suka Nyangkut
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?