BACAAJA, SEMARANG- Kota Semarang resmi masuk peringkat tiga nasional dalam ajang Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 yang digelar SETARA Institute di Jakarta, Rabu (22/4/2026). Penghargaan ini diterima Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, yang diwakili Kepala Kesbangpol Kota Semarang, Bambang Pramusinto.
Penilaian IKT sendiri nggak main-main. Ada 94 kota di seluruh Indonesia yang dinilai, dengan fokus utama pada kebebasan beragama dan inklusi sosial. Dan Semarang berhasil membuktikan diri sebagai salah satu yang terbaik.
Baca juga: Ogoh-Ogoh Turun ke Jalan, Semarang Siap Pesta Toleransi
Agustina menyebut capaian ini bukan garis finish. Justru jadi pengingat kalau menjaga keberagaman itu kerja panjang yang nggak ada jedanya. “Ini bukan akhir, tapi pengingat bahwa merawat keberagaman itu tugas yang terus berjalan,” ujarnya.
Kalau dilihat ke belakang, perjalanan Semarang memang nggak instan. Dari peringkat 12 di tahun 2021, naik ke 7 di 2022, lalu 5 di 2023, dan sekarang tembus posisi 3. Grafiknya jelas: naik terus.
Menurut Agustina, toleransi di Semarang itu bukan sekadar slogan atau acara seremoni. Tapi benar-benar hidup di keseharian warganya. Mulai dari kampung, tempat ibadah, sampai ruang publik, semuanya jadi ruang interaksi lintas perbedaan.
Taman Bunga
Ia bahkan mengibaratkan keberagaman di Semarang seperti taman bunga. Nggak perlu dipaksa indah, tapi tetap tumbuh, memberi warna, dan bikin hidup lebih hidup. “Yang penting tugas kami memastikan taman itu tetap terawat,” tambahnya.
Pemerintah Kota Semarang juga menegaskan, kunci dari semua ini ada di kebijakan yang inklusif dan hubungan antarwarga yang hangat. Kolaborasi lintas iman dan komunitas jadi fondasi kuat yang terus dijaga.
Baca juga: Semarang Bicara Toleransi: Agustina dan Sinta Nuriyah Kirim Pesan Harmoni
Penghargaan ini pun diharapkan bukan sekadar simbol, tapi jadi pemicu semangat semua pihak, mulai dari tokoh agama sampai generasi muda, buat terus menjaga harmoni sosial.
Di saat banyak tempat sibuk debat soal perbedaan, Semarang justru santai jalan bareng di tengah keberagaman. Mungkin memang, toleransi itu bukan soal siapa paling keras bicara, tapi siapa yang paling konsisten hidup berdampingan. (tebe)

