BACAAJA, SEMARANG – Di tengah dunia medis yang terus melesat dengan teknologi canggih dan terapi modern, ancaman penyakit juga ikut berubah wajah. Kalau dulu banyak orang lebih waspada pada infeksi yang datang cepat dan gejalanya jelas, sekarang tantangannya justru bergeser ke penyakit kronis yang tumbuh pelan, sering tak terasa, lalu baru ketahuan saat kondisinya sudah berat. Salah satu yang kini makin sering dibicarakan adalah autoimun.
Autoimun bukan penyakit biasa. Ini kondisi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi justru salah sasaran dan menyerang tubuh sendiri. Akibatnya, organ, jaringan, hingga fungsi tubuh bisa terganggu dalam waktu panjang. Karena berjalan diam-diam dan gejalanya kerap samar, banyak orang telat sadar sedang mengalaminya.
Di Indonesia, tren kasus autoimun disebut terus naik. Hingga April 2026, jumlah penderita diperkirakan sudah menembus lebih dari 2,5 juta orang. Angka sebesar itu menunjukkan bahwa autoimun bukan lagi kasus langka yang hanya muncul sesekali, melainkan sudah jadi isu kesehatan serius yang perlu perhatian besar.
Yang bikin makin waspada, dampak autoimun tak berhenti di urusan medis saja. Penyakit ini bisa mengganggu produktivitas, menekan kondisi ekonomi keluarga, hingga membuat kualitas hidup pasien turun drastis. Banyak penderita harus rutin kontrol, minum obat jangka panjang, dan menyesuaikan ritme hidup setiap hari.
Perkiraan angka kematian yang mencapai 35 ribu kasus pada 2025 menjadi sinyal keras bahwa penyakit ini tak bisa diremehkan. Autoimun kini masuk daftar masalah kesehatan besar, terutama karena menyerang usia produktif yang sedang aktif bekerja, membangun keluarga, dan menjalani banyak peran sosial.
Menariknya, penyakit ini tidak menyerang secara merata. Sekitar 80 persen penderita autoimun disebut merupakan perempuan, terutama di usia muda hingga paruh baya. Fakta ini membuat para ahli terus meneliti hubungan antara hormon, sistem imun, dan kerentanan biologis perempuan terhadap penyakit tersebut.
Salah satu jenis autoimun yang paling dikenal publik adalah lupus. Di Indonesia, jumlah penderitanya diperkirakan mencapai 400 ribu orang. Lupus sering disebut penyakit seribu wajah karena gejalanya beragam dan bisa menyerang banyak organ, mulai dari kulit, sendi, ginjal, sampai sistem saraf.
Secara sederhana, autoimun terjadi ketika tubuh gagal membedakan mana ancaman dari luar dan mana bagian dirinya sendiri. Sistem imun yang seharusnya jadi tameng malah berubah jadi penyerang. Dari sinilah muncul peradangan berkepanjangan yang lama-lama bisa merusak organ.
Masalahnya, banyak kasus berkembang perlahan tanpa tanda yang tegas. Seseorang bisa merasa mudah lelah, pegal, nyeri sendi, ruam kulit, atau demam ringan berulang, tapi menganggapnya sekadar kelelahan biasa. Saat diperiksa lebih lanjut, penyakit ternyata sudah berjalan cukup jauh.
Para peneliti menilai autoimun tidak punya satu penyebab tunggal. Penyakit ini muncul dari kombinasi banyak faktor yang saling terkait. Ada unsur genetik, lingkungan, infeksi, hormon, hingga gaya hidup modern yang ikut berperan sebagai pemicu.
Faktor keturunan memang memberi pengaruh. Orang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat autoimun disebut punya risiko lebih tinggi. Tapi gen bukan satu-satunya penentu. Banyak orang membawa bakat genetik namun tak pernah sakit, karena pemicunya tidak aktif.
Lingkungan ikut ambil bagian besar. Polusi udara, paparan bahan kimia, kebiasaan konsumsi makanan olahan berlebihan, sampai perubahan pola hidup serba cepat dianggap bisa mengacaukan keseimbangan sistem imun. Tubuh dipaksa beradaptasi terus-menerus dalam tekanan baru.
Dari sisi hormonal, perempuan dinilai lebih rentan karena perubahan hormon terjadi di banyak fase hidup. Mulai dari menstruasi, kehamilan, setelah melahirkan, hingga menopause, semuanya bisa memengaruhi cara sistem imun bekerja. Dalam kondisi tertentu, perubahan ini dapat memicu respons berlebihan.
Beberapa studi juga menyoroti peran hormon estrogen. Hormon ini memang penting bagi tubuh, namun pada situasi tertentu bisa mendorong aktivitas imun menjadi terlalu agresif. Inilah salah satu alasan mengapa kasus autoimun lebih banyak ditemukan pada perempuan.
Infeksi virus juga masuk daftar pemicu yang terus diteliti. Salah satunya Epstein-Barr virus yang diduga punya kaitan dengan sejumlah penyakit autoimun. Pada sebagian orang, sistem imun yang aktif karena infeksi tak kembali normal, lalu terus menyerang jaringan sehat.
Namun faktor yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari tetap gaya hidup. Kebiasaan merokok, kurang olahraga, tidur berantakan, konsumsi makanan ultra-proses, dan stres berkepanjangan memberi tekanan besar pada tubuh. Saat semua faktor berkumpul, risiko gangguan imun makin terbuka.
Obesitas juga disebut memperparah situasi karena berkaitan dengan peradangan kronis. Lemak tubuh berlebih bukan cuma soal bentuk badan, tapi juga aktif menghasilkan zat yang bisa memicu respons inflamasi terus-menerus. Kondisi ini membuat sistem imun makin tidak stabil.
Tantangan besar berikutnya adalah diagnosis yang sering terlambat. Gejalanya mirip banyak penyakit umum, sehingga pasien kerap berpindah-pindah dokter sebelum mendapat jawaban pasti. Akibatnya, terapi baru dimulai saat kerusakan organ sudah berjalan.
Di sisi lain, perkembangan teknologi mulai memberi harapan baru. Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam riset medis memungkinkan pencarian pola penyakit lebih cepat. Teknologi seperti ini berpotensi membantu deteksi dini dan pengembangan terapi yang lebih tepat sasaran.
Meski begitu, teknologi saja tidak cukup. Penanganan autoimun perlu pendekatan menyeluruh. Obat harus dibarengi pola makan seimbang, olahraga rutin, manajemen stres, tidur cukup, dan disiplin kontrol kesehatan. Tanpa perubahan kebiasaan hidup, hasil terapi sering tidak maksimal.
Autoimun kini jadi cermin gaya hidup zaman modern yang makin kompleks. Kabar baiknya, risiko tetap bisa ditekan jika masyarakat lebih peka pada gejala, rutin memeriksa kesehatan, dan mulai hidup lebih seimbang. Saat tubuh memberi sinyal kecil, jangan tunggu parah dulu baru peduli. (*)

