BACAAJA, CILACAP- Pulau Nusakambangan lagi-lagi jadi tujuan akhir bagi para narapidana kategori “high risk”. Sebanyak 263 napi dipindahkan dari berbagai wilayah, mulai dari Sumatra Utara, Riau, Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, sampai DKI Jakarta menuju sejumlah lapas di kawasan ini, Jumat (6/2/2026).
Proses pemindahan nggak main-main. Pengamanan dilakukan berlapis, melibatkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, kepolisian, hingga petugas lapas dan rutan. Semua berjalan sesuai SOP, demi memastikan situasi tetap kondusif dari awal sampai akhir perjalanan.
Setibanya di Nusakambangan, para napi langsung masuk “fase penyaringan”. Mulai dari cek administrasi, penggeledahan badan dan barang, sampai asesmen awal. Setelah itu, mereka ditempatkan di blok hunian sesuai tingkat risiko masing-masing. Intinya, nggak ada yang asal taruh, semua sudah diklasifikasikan.
Baca juga: Ajak Pejabat Intip Lapas, Gubernur Kasih Peringatan Halus
Kepala Lapas Kelas I Batu Nusakambangan, Irfan menegaskan, pemindahan ini bukan sekadar mutasi biasa. Ada misi besar di baliknya: memperkuat sistem pembinaan berbasis risiko sekaligus menjaga stabilitas keamanan di dalam lapas.
“Penempatan napi high risk di Nusakambangan ini bagian dari upaya optimalisasi pembinaan sekaligus penguatan pengamanan. Semua dilakukan secara profesional dan penuh kehati-hatian,” jelasnya.
Teknologi Keamanan
Dari sisi pengamanan, Lapas Batu juga sudah all out. Mulai dari pengawalan saat kedatangan, sterilisasi area, hingga pengawasan intensif di dalam blok hunian. Semua didukung teknologi keamanan dan sistem kontrol yang terintegrasi.
Tapi nggak melulu soal keamanan, pembinaan juga tetap jalan. Para napi ini bakal ikut program yang disesuaikan dengan karakter mereka, mulai dari pembinaan kepribadian, kegiatan keagamaan, sampai penguatan wawasan kebangsaan dan kesadaran hukum.
Langkah ini juga jadi bagian dari strategi besar pemasyarakatan untuk mengatasi overcapacity dan overcrowding di lapas. Sekaligus, jadi cara buat menekan peredaran narkoba dan potensi gangguan keamanan di dalam rutan dan lapas.
Baca juga: Hari Raya Imlek: Narapidana Nusakambangan Terbanyak Penerima Remisi
Nusakambangan sendiri memang punya peran penting. Dengan sistem pengamanan berlapis, pulau ini jadi “rumah khusus” bagi napi dengan tingkat risiko tinggi.
Pada akhirnya, pindah ke Nusakambangan bukan soal alamat baru, tapi soal level pengawasan yang naik kelas. Di sini, bukan cuma pintu yang dikunci rapat, tapi juga peluang untuk coba “berulah” yang makin sempit. (tebe)

