BACAAJA, SEMARANG – Rencana bikin jalan alternatif buat ngurai beban jalur Silayur, urung terlaksana. Dulu, Pemkot Semarang sempat menggagas jalan lingkar Semarang Outer Ring Road (SORR).
Dari sisi tujuan, proyek SORR bagus. Harapannya biar kendaraan besar dari Kawasan Industri BSB nggak numpuk di jalur padat dan rawan seperti Silayur.
Tapi di tengah jalan, rencana itu berubah arah. Proyek yang awalnya mau dibangun sebagai jalan arteri, sekarang justru dialihkan jadi jalan tol. Alasannya anggaran besar dan butuh campur tangan pemerintah pusat.
Bacaaja: Jalur Maut Silayur Ngaliyan Makan Korban Lagi, Mahasiswa Sentil Keras Pemkot Semarang
Bacaaja: Sudah Direkomendasikan, Belum Dikerjakan: Silayur Masih Jadi “Lintasan Uji Nyali”
Pengamat transportasi dari Soegijapranata Catholic University, Djoko Setijowarno, mengulik soal rencana lama jalur alternatif pemecah kebuntuan jalur Silayur itu.
“Jadi dulu tuh ada rencana SORR, sebenarnya memungkinkan jadi jalur alternatif,” kata Djoko.
Sayangnya, setelah jalan tol hadir, harapan buat SORR makin tipis. Pemerintah pusat cenderung menganggap kebutuhan sudah terjawab lewat tol, jadi dukungan untuk proyek lain jadi berkurang.
“Setelah ada jalan tol nampaknya impian itu agak berat. Karena sudah jalan tol ya sudah pemerintah pusat enggak bantuin,” lanjutnya.
Fenomena ini bukan cuma terjadi di Semarang. Djoko mencontohkan kasus serupa di Pekalongan. Dulu juga sempat direncanakan Outer Ring Road supaya truk nggak masuk kota.
Sekarang fakta yang muncul cukup ironis. Jalan tol memang sudah ada dan beroperasi. Tapi kendaraan besar dari kawasan industri BSB tetap nggak punya pilihan lain selain lewat jalur Silayur.
Artinya, keberadaan jalan tol sampai sekarang belum benar-benar menjawab persoalan klasik di jalur rawan tersebut.
Lantas, sekarang bagaimana? Masa iya semua orang yang lewat jalur Silayur harus terus menerus khawatir? (bae)

