BACAAJA, SEMARANG – Pelaku usaha tekstil sedang menghadapi situasi yang nggak mudah. Di saat harga bahan baku terus naik akibat pelemahan rupiah, mereka juga harus berhadapan dengan membanjirnya produk impor murah yang makin mudah ditemukan di pasaran.
Kondisi ini membuat banyak pedagang lokal berada di posisi serba salah. Harga modal naik, tapi menaikkan harga jual juga bukan keputusan yang gampang karena konsumen punya banyak pilihan yang lebih murah.
Hal itu dirasakan langsung oleh Edi Gunawan (36), pelaku usaha tekstil yang sudah tujuh tahun berkecimpung di bisnis tersebut. Menurutnya, persaingan dengan produk impor kini semakin berat dibanding beberapa tahun lalu.
Bacaaja: Siasat Perajin Tempe agar Harga Tak Naik di Tengah Himpitan Lesunya Rupiah
Bacaaja: Saat Rupiah Terus-terusan Nyungsep, Presiden Prabowo Buka Kran Impor Pangan dari Prancis
“Banyak barang dari luar yang masuk ke Indonesia. Kaus, kemeja, dan produk tekstil lainnya dijual murah. Kita jadi susah bersaing,” ujar Edi, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, produk impor yang dijual dengan harga rendah membuat pasar semakin kompetitif. Sementara di sisi lain, harga kain lokal justru terus mengalami kenaikan karena biaya produksi ikut terdorong oleh menguatnya dolar AS.
Akibatnya, pedagang lokal harus menghadapi dua tekanan sekaligus. Modal usaha membengkak, sementara ruang untuk menaikkan harga jual semakin terbatas.
Kalau harga dinaikkan, pelanggan bisa beralih ke produk yang lebih murah. Tapi kalau harga dipertahankan, keuntungan yang didapat semakin tipis.
“Nggak gampang. Semua serba naik, tapi pembeli juga maunya harga tetap murah,” katanya.
Tantangan lain yang tak kalah berat adalah kebutuhan modal yang besar. Dalam bisnis tekstil, pembelian kain dari pabrik biasanya harus dilakukan dalam jumlah banyak.
“Kalau ambil ke pabrik minimal sekitar 2.000 meter. Modalnya bisa puluhan juta rupiah hanya untuk satu warna kain,” jelasnya.
Dengan harga kain yang terus naik, kebutuhan modal otomatis ikut membengkak. Sementara kondisi pasar belum sepenuhnya pulih dan penjualan masih cenderung fluktuatif.
Meski begitu, Edi memilih tetap bertahan. Baginya, industri tekstil bukan hanya soal bisnis, tetapi juga menyangkut banyak orang yang menggantungkan hidup dari sektor ini. Mulai dari pekerja pabrik, penjahit, pelaku konveksi, hingga pedagang kecil di pasar.
“Ya mau bagaimana lagi, usaha harus tetap jalan. Semoga ke depan kondisi ekonomi membaik dan industri tekstil lokal bisa lebih diperhatikan,” tuturnya.
Di tengah gempuran produk impor murah dan tekanan kurs dolar, para pelaku usaha tekstil lokal kini sedang berjuang menjaga usahanya tetap hidup. Sebab jika industri tekstil terus melemah, yang terdampak bukan hanya pedagang, tetapi juga ribuan orang yang bergantung pada roda ekonomi sektor ini.
Bagi mereka, bertahan hari ini bukan sekadar soal mencari untung, tetapi menjaga agar usaha yang sudah dibangun bertahun-tahun tidak ikut tumbang di tengah ketatnya persaingan pasar. (dul)

