BACAAJA, CILACAP– Pulau Nusakambangan menunjukkan wajah baru. Kawasan yang selama ini identik dengan lembaga pemasyarakatan berpengamanan tinggi kini berkembang menjadi pusat produksi pangan sekaligus lokasi pembinaan keterampilan bagi warga binaan.
Perubahan itu mendapat apresiasi langsung dari Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto, saat melakukan kunjungan kerja bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto, Sabtu (20/6/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Titiek melihat berbagai aktivitas produktif yang dijalankan warga binaan, mulai dari budidaya udang vaname, ikan sidat, peternakan ayam dan bebek petelur, persawahan, pengolahan pupuk organik, produksi batako dan paving block, hingga budidaya tanaman anggur serta anggrek.
Menurut Titiek, perubahan yang terjadi di Nusakambangan menjadi bukti bahwa lahan yang sebelumnya terbengkalai bisa memberi manfaat besar jika dikelola secara serius.
“Kami datang untuk melihat program ketahanan pangan, dan ternyata lahan tidur di sini berhasil disulap menjadi kawasan produktif. Ini luar biasa dan layak diapresiasi,” ujarnya.
Baca juga: 263 Napi ‘High Risk’ Dipindah ke Nusakambangan
Ia mengaku cukup terkejut melihat transformasi Nusakambangan yang selama ini dikenal sebagai pulau penjara dengan kesan angker. “Pulau yang memiliki image seram ternyata bisa menjadi lebih ramah dan menghasilkan banyak produk yang bermanfaat. Mudah-mudahan model seperti ini bisa diterapkan di tempat lain,” katanya.
Titiek menilai Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah. Karena itu, menurutnya, yang dibutuhkan adalah kemauan dan pengelolaan yang tepat.
“Nusakambangan saja bisa seperti ini, apalagi daerah lain. Kita dikaruniai tanah yang subur, tinggal bagaimana memanfaatkannya sebaik mungkin,” tambahnya.
Sementara itu, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menjelaskan pengembangan kawasan produktif di Nusakambangan merupakan bagian dari implementasi Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di bidang ketahanan pangan.
Ketahanan Pangan
Menurut Agus, lahan-lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kini dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan di lingkungan pemasyarakatan sekaligus mendukung pasokan pangan nasional.
“Kami memanfaatkan lahan yang sebelumnya belum digunakan untuk membantu kebutuhan internal pemasyarakatan, termasuk penyediaan bahan pangan bagi warga binaan,” jelasnya.
Ia berharap hasil produksi, terutama komoditas seperti telur, ikan, hingga hasil pertanian lainnya, dapat ikut membantu menjaga stabilitas pasokan sekaligus mengendalikan harga di masyarakat.
Saat ini, sekitar 135 hektare lahan produktif di Nusakambangan telah dimanfaatkan. Ratusan warga binaan dari berbagai lembaga pemasyarakatan juga dilibatkan dalam berbagai sektor usaha produktif.
Baca juga: Hari Raya Imlek: Narapidana Nusakambangan Terbanyak Penerima Remisi
Namun, menurut Agus, manfaat program ini tidak berhenti pada hasil panen semata. Melalui berbagai kegiatan pertanian, peternakan, perikanan hingga pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK), warga binaan memperoleh keterampilan baru yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Selain pengalaman kerja, mereka juga memperoleh premi dari hasil kegiatan produksi yang bisa dimanfaatkan sebagai modal awal setelah bebas. Agus memastikan seluruh program akan terus dievaluasi dan dikembangkan agar manfaatnya semakin luas, baik bagi pembinaan warga binaan maupun dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.
Ia menegaskan, konsep pemasyarakatan saat ini bukan sekadar menjalani hukuman, tetapi juga mempersiapkan seseorang agar mampu kembali hidup mandiri setelah masa pidananya selesai.
Nusakambangan perlahan membuktikan bahwa tembok penjara memang bisa membatasi ruang gerak, tetapi tidak selalu membatasi kesempatan untuk berubah. Kadang yang paling subur bukan hanya tanahnya, melainkan harapan yang akhirnya diberi ruang untuk tumbuh. (tebe)

