Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Kesetaraan di Jalan Pergerakan dan Demonstrasi
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Kesetaraan di Jalan Pergerakan dan Demonstrasi

Redaktur Opini
Last updated: November 5, 2026 8:22 am
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Ahmad Alfani Hasan, mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Berasal dari Banyuwangi.

Perempuan tidak perlu meniru maskulinitas laki-laki untuk menjadi aktor utama dalam perlawanan. Perlawanan tidak mengharuskan dipimpin adalah laki-laki.

Rabu 28 Oktober kemarin Indonesia mengalami gelombang demonstrasi yang besar. Gerakan demonstrasi bertajuk #IndonesiaSadar ini dilakukan di bundaran HI dan menuntut setidaknya lima hal yang mencakup berbagai aspek, yakni ekonomi, ekologi, pendidikan dan pekerjaan, HAM dan demokrasi hingga hukum.

Aksi itu menjadi perhatian bukan hanya karena isu yang diangkat, melainkan karena keterlibatan dua wanita dalam berani dalam menyuarakan perlawanan ini. Hal ini membuat nuansa perlawanan menjadi berbeda dari demontrasi pada umumnya yang biasanya didominasi oleh oleh aktor laki-laki. Hal ini membawa kita ke pertanyaan reflektif, “Apakah kehadiran perempuan dalam perlawanan masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak biasa?”

Dua wanita yang dimaksud dalam hal ini adalah Fatimah Azzahra yang menjabat sebagai Wakil Presiden BEM UI dan Zahra Nazira Firman yang menjabat sebagai Ketua BEM FH Universitas Trisakti. Keduanya mendapat perhatian karena kepiawaiannya dalam berorasi dan memimpin masa aksi untuk menerobos bundaran HI yang dijaga sekitar kurang lebih 14.000 personel gabungan TNI dan Polri.

Mereka dengan lantang menyuarakan pelbagai isu yang menjadi keresahan masyarakat Indonesia hari ini. Salah satu momen ikonik adalah ketika Fatimah berkata, “Sejak kapan bundaran HI jadi milik militer? Apakah sejak presiden yang memimpin adalah seorang militer?” Jujur saja saya terkagum dengan cara Fatimah beretorika yang sanggup membuat semua bersorak dan sadar bahwa militerisme di negeri ini sudah mencapai titik kronis.

Mencuatnya kedua tokoh muda perempuan di tengah kondisi Indonesia yang masih kental dengan unsur patriarki cukup menarik untuk dilihat lebih kritis. Masyarakat kita kerap menempatkan wanita untuk urusan domestik. Banyak perempuan memilih lebih nyaman berjibaku soal urusan standar pasangan dan update soal tren tiktok. Kemunculan Fatimah dan Zahra mendobrak semua itu. Mereka hadir dengan keberanian yang menembus sekat gender dengan suara orasi yang lantang dan menusuk jantung rezim.

Bukan hadir sebagai pelengkap aksi dan ditaruh di posisi belakang agar tidak terkena represi aparat. Mereka justru hadir di barisan paling depan dan menambah keberanian masa aksi. Tidak ada keraguan pada wajah mereka berdua. Mereka adalah aktor penting dalam demonstrasi. Kecantikan mereka terletak bukan lagi pada paras penuh polesan make up. Tetapi pada keberanian mereka untuk melawan dan menyuarakan aspirasi rakyat.

Keberanian untuk bersuara pada dasarnya sama sekali tidak terbatas pada gender. Semua orang bisa memiliki keberanian dan tentunya punya hak yang sama untuk bersuara soal apa pun. Hal ihwal mengenai segala bentuk protes atas isu yang ada di negara ini adalah kebebasan mutlak sebagai rakyat tanpa perlu memandang laki-laki atau peempuan. Perempuan pun punya hak untuk memimpin dan beridiri setara dengan laki-laki dalam proses perlawanan.

Perempuan tidak perlu meniru maskulinitas laki-laki untuk menjadi aktor utama dalam perlawanan. Perlawanan tidak mengharuskan dipimpin adalah laki-laki. Selama seseorang itu mampu dan memiliki kapasitas, legitimasi itu akan hadir dengan sendirinya tanpa diminta. Perempuan punya caranya sendiri untuk menjadi sosok pemimpin dan tidak perlu didikte untuk meniru cara laki-laki.

Jika kita tarik lebih jauh, persoalannya bukan sekadar soal Fatimah dan Zahra. Akan tetapi hal ini membawa kita pada persoalan konstruksi sosial masyarakat atas posisi perempuan. Keduanya masih dinggap berbeda dan menjadi sesuatu yang baru di saat sejarah Indonesia menunjukkan bahwa perempuan dalam konteks perlawanan bukanlah hal yang baru.

Sudah sepantasnya kita membiasakan dan memosikan individu bukan lagi berbasis gender. Tetapi berdasarkan kapasitas yang dimiliki. Fatimah dan Zahra bukan hanya sekadar cerita dua perempuan di jalanan bundaran HI. Mereka adalah representasi perempuan yang terlibat dalam usaha gerakan perlawanan di Indonesia. Sebab, selama ketidakadilan masih berlangsung, jalanan akan selalu menjadi ruang bagi siapa pun untuk melawan. Baik lelaki maupun perempuan.(*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Eksploitasi Berdalih Swasembada Pangan

Mencari “Pangku” di Kamus-Kamus Lama

Ketika Makna Feminisme Dibajak Warganet yang Malas Membaca

Dari Lagu “Kicau Mania” Kita Belajar Menikmati Hidup di Tengah Ancaman Burnout

Indonesia Bukan Krisis Petani, tetapi Krisis Kapabilitas Pertanian

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article HP Disadap? Kenali Tanda dan Cara Mengeceknya
Next Article WhatsApp dan Telegram Bisa Disadap LIMS? Ini Faktanya

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Dasco Diseret Isu Cawapres, Sebut Ada Pengalihan Isu

WhatsApp dan Telegram Bisa Disadap LIMS? Ini Faktanya

Kesetaraan di Jalan Pergerakan dan Demonstrasi

HP Disadap? Kenali Tanda dan Cara Mengeceknya

Jangan Asal Klik! Anak SMP Temanggung Diingatkan, Radikalisme Bisa Menyelinap Lewat Medsos dan Gim Online

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Kekalahan Perempuan di Balik Pertambangan Nikel dan Batu Bara

Desember 29, 2025
Opini

Manusia di Bawah Rezim Perut Lapar

November 20, 2025
OpiniPolitik

Resah Menjelang Agustus

Juli 24, 2026
Opini

“Western Gaze”, “Eastern Gaze”, dan “Single Story” ala Chimamanda Ngozi Adichie

November 24, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Kesetaraan di Jalan Pergerakan dan Demonstrasi
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?