BACAAJA, TEMANGGUNG – Anak-anak pada kondisi tertentu rentan bahkan menjadi target utama perekrutan kelompok radikal melalui media sosial. Sebab itu, memberikan narasi-narasi pengetahuan bagaimana mengidentifikasi agar kemudian anak punya mitigasi sendiri, menjadi perlu dilakukan.
Hal itu diungkap saat kegiatan Advokasi Cegah IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, Terorisme) Gen-Z di Ruang Digital kerja bareng antara Bacaaja.co-Satgaswil Jateng Densus 88/Antiteror-Polres Temanggung dan Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Temanggung.
Kegiatan yang didukung Bank Mandiri ini juga melibatkan perwakilan pelajar SMP se-Kabupaten Temanggung di Kantor Dindikpora setempat, Rabu (4/11/2026).
Kepala Tim Idensos Satgaswil Jateng Densus 88/Antiteror, Ipda Ferry memaparkan, anak-anak jadi target utama perekrutan karena dalam fase pencarian jati diri, labil mudah terbawa suasana, literasi digital rendah dan mudah terpengaruh media sosial ataupun gim online hingga merasa ingin diakui bahkan ingin “dianggap hebat.
Baca juga: Densus 88 Sikat 11 Terduga Teroris di 6 Provinsi
“Pada kondisi seperti ini anak menjadi lebih mudah direkrut kelompok radikal teror,” ungkap Ferry di depan ratusan anak SMP se-Kabupaten Temanggung. Ferry menyebut, bullying yang dialami anak-anak membuat risiko terekrut kelompok tersebut menjadi meningkat.
“Jadi perlu kerja sama, bagaimana membuat anak-anak paham dengan risiko tersebut, sekaligus bagaimana mengidentifikasi sekaligus memitigasinya,” sambungnya.
Dia mengimbau jika menemukan konten berbau kekerasan, kebencian, di media sosial agar diblokir dan dilaporkan, screenshoot buktinya, termasuk melaporkan ke guru dan orangtua sekaligus ke pihak berwenang.
“Di Jateng, anak terpapar radikalisme dan terorisme juga terjadi, termasuk secara nasional juga terjadi tersebar di berbagai provinsi. Kami bekerjasama dengan berbagai pihak untuk melakukan pencegahan ini,” lanjut dia.
Hidup Berdampingan
Psikolog Soegijapranata Catholic University (SCU), Kuriake Kharismawan menyebut anak-anak perlu dipahamkan hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan sebagai hal yang harus dirawat. “Apalagi sekarang dunia digital bikin semuanya masuk ke HP (ponsel) kita,” kata Kak Ake, sapaannya.
Kepala Satuan Intelijen Keamanan Polres Temanggung, AKP Tanu Eko Putro juga menjadi salah satu pemateri pada kegiatan tersebut. Dia mengamini perkembangan dunia digital punya dampak positif, salah satunya memudahkan berkomunikasi secara cepat termasuk memperoleh informasi.
“Tetapi di sisi lain, di ruang digital itu juga masif sekali konten-konten negatif, seperti pornografi, ujaran kebencian hingga informasi palsu,” paparnya. Dia mengingatkan agar tidak gampang membagikan foto pribadi hingga aktivitas pribadi kepada orang yang tak dikenal di media sosial.
Termasuk pula mengingatkan agar tak melakukan perundungan alias bullying digital karena memberikan dampak negatif. “Jika menemukan yang negatif di media sosial, bisa di-screenshoot untuk alat bukti, nanti dari unsur kepolisian yang akan melakukan penyelidikan untuk mengungkapnya. Karena basic kita pelajar, fokuslah belajar, mencapai keinginan kedua orangtuamu,” pesannya.
Baca juga: Wow! 39 Anak Jateng Terpapar Radikalisme di Ruang Digital, Tim Gabungan Bergerak
Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan Bidang PSM Dindikpora Kab. Temanggung, Isro Hendar Saputro yang memberikan materi, menyampaikan pengaruh digital yang negatif jika tidak dimitigasi dengan baik bisa menyebabkan kenakalan di kalangan pelajar.
Kepala Dindikpora Kabupaten Temanggung, Djoko Prasetyo mengapresiasi kegiatan kolaborasi semacam ini. Dia menyebut Indonesia adalah negara yang prural, kaya dengan perbedaan suku, bahasa hingga keyakinan.
“Hari ini anak-anak kita diberi pehamanan bagamana cara melihat Indonesia dengan segala perbedaannya,” ungkapnya sembari menyebut kolaborasi serupa perlu dilakukan sebagai salah satu upaya menjaga masa depan anak-anak. (eks)

