Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Kader Posyandu Diminta Bantu Deteksi Stunting dan Anak Putus Sekolah
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Kader Posyandu Diminta Bantu Deteksi Stunting dan Anak Putus Sekolah

T. Budianto
Last updated: November 4, 2026 6:47 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
SAPA KADER: Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menyapa para kader Posyandu seusai peluncuran Posyandu Model 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Rumah Dinas Wali Kota, Semarang, Rabu (4/11/2026). (Foto: Pemkot Semarang)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG– Persoalan warga tidak selalu terlihat dari jalan raya atau gedung pemerintahan. Ada balita yang mengalami stunting, anak yang kehilangan akses pendidikan, keluarga yang kesulitan ekonomi, hingga warga yang masih tinggal di rumah tak layak huni. Sebagian masalah itu bahkan berada tak jauh dari lingkungan tempat tinggal kita.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng. Ia meminta kader Posyandu ikut menjadi garda terdepan dalam mendeteksi persoalan sosial masyarakat melalui transformasi Posyandu berbasis enam Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Hal itu disampaikan Agustina saat meluncurkan Posyandu Model 6 SPM di Aula Rumah Dinas Wali Kota Semarang, Rabu (4/11/2026). Agustina menilai, penanganan persoalan masyarakat tidak bisa dilakukan secara parsial. Masalah kesehatan, pendidikan, perumahan, dan kesejahteraan sosial saling berkaitan sehingga membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Salah satu persoalan yang disorot adalah stunting. Di Kota Semarang tercatat masih ada 3.439 balita mengalami stunting dari total 68.739 anak. Menurut Agustina, penanganan stunting tidak cukup hanya dengan memperhatikan asupan gizi. Kondisi ekonomi keluarga, pengetahuan orang tua, sanitasi, dan lingkungan tempat tinggal juga harus menjadi perhatian.

Baca juga: Sekolah Rakyat Hadir di Semarang, Wali Kota: Saatnya Semua Anak Bisa Sekolah!

Selain kesehatan, persoalan pendidikan juga membutuhkan penanganan serius. Agustina menyebut sekitar 7.700 anak di Kota Semarang tidak sekolah.

Ia meminta kader Posyandu ikut mengenali anak-anak yang kehilangan akses pendidikan di lingkungan masing-masing agar bisa segera mendapatkan pendampingan.

“Kalau menemukan anak-anak yang tidak sekolah, mari kita deteksi dini. Kita perlu memastikan setiap anak memperoleh kesempatan pendidikan dan terjangkau oleh layanan pendidikan,” tegasnya.

Persoalan kemiskinan juga menjadi pekerjaan rumah. Angka kemiskinan Kota Semarang tercatat 3,89 persen atau sekitar 65.346 jiwa. Kader Posyandu diharapkan membantu mengenali keluarga yang membutuhkan pendampingan, termasuk warga yang belum terjangkau program perlindungan sosial pemerintah.

Persoalan rumah tidak layak huni (RTLH) juga tak luput dari perhatian. Hingga akhir 2025 tercatat 2.363 rumah tidak layak huni. Namun, setelah dilakukan pendataan ulang, jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 2.500 rumah.

Berkelanjutan

Agustina meminta pendataan dilakukan secara berkelanjutan. Sebab, rumah yang pernah mendapatkan bantuan beberapa tahun lalu bisa saja kembali rusak dan membutuhkan penanganan.

“Rumah tidak layak huni itu ada di sekitar kita. Kita deteksi ulang. Mungkin yang diberikan bantuan lima atau enam tahun lalu sekarang sudah rusak. Kita kembangkan lagi, mungkin ada rumah tidak layak huni yang lain,” katanya.

Akses air bersih juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Saat ini, cakupan layanan air minum melalui jaringan perpipaan di Kota Semarang baru mencapai 60,75 persen.

Informasi dari kader di tingkat lingkungan diharapkan bisa membantu pemerintah mengetahui warga yang belum mendapatkan akses air bersih maupun sanitasi layak.

Baca juga: Agustina Minta Tiap Sekolah Punya Forum Anti-Perundungan

Melalui transformasi Posyandu 6 SPM, Pemkot Semarang menghadirkan satu Posyandu percontohan di setiap kelurahan pada 2026. Program tersebut menjangkau 177 kelurahan.

Agustina berharap kader tidak hanya menjalankan pelayanan rutin, tetapi juga menjadi mata dan telinga pemerintah dalam mengenali kebutuhan masyarakat.

Namun, ia juga meminta camat, lurah, dan perangkat daerah ikut memberikan pendampingan agar kader tidak bekerja sendirian.

Sebab, data stunting, anak tidak sekolah, kemiskinan, dan RTLH bukan sekadar deretan angka dalam laporan pemerintah. Di baliknya ada warga yang membutuhkan solusi nyata.

Jangan sampai pemerintah begitu rajin mengumpulkan data orang miskin, anak putus sekolah, dan rumah reyot, tetapi warga yang masuk daftar justru harus menunggu terlalu lama untuk merasakan perubahan. Data boleh lengkap, tetapi pekerjaan rumahnya jangan cuma dipindahkan dari satu laporan ke laporan berikutnya. (tebe)

You Might Also Like

Kemarau Belum Puncak, Semarang Sudah Pasang Mode Siaga

Disnakertrans Jateng Siapkan Skema Serap Kembali Pekerja Korban PHK

Akhirnya Sejoli Aktivis Dera-Munif Keluar dari Tahanan

Namanya Ikut Viral di Kasus MBG, Sumanto Bantah Terlibat

Napi Narkoba Bakal Dibina di Pulau Buaya, Ini Rencana Yusril

TAGGED:agustina wilujengheadlinepemkot semarangposyandu semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Bupati Ngawi Minta Koperasi Desa Dikelola Profesional
Next Article Ilustrasi upah buruh yang belum mencukupi kebutuhan hidup layak (KHL). Buruh Jateng Desak Perubahan Kebijakan 2027: Upah Layak Bukan Bonus!

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

DWS Soroti Penyadapan Prabowo, Sebut Mengarah ke Makar jika Unsur Pidana Terpenuhi

Ilustrasi upah buruh yang belum mencukupi kebutuhan hidup layak (KHL).

Buruh Jateng Desak Perubahan Kebijakan 2027: Upah Layak Bukan Bonus!

Kader Posyandu Diminta Bantu Deteksi Stunting dan Anak Putus Sekolah

Bupati Ngawi Minta Koperasi Desa Dikelola Profesional

Agustina Dorong Kelurahan di Semarang Punya Posyandu Model 6 SPM

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Daerah

Kemarau Mulai Ngegas, Delapan Desa Cilacap Kebagian Kiriman Air Bersih

Juli 4, 2026
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Klaten mewakili Bupati KLaten Hamenang saat sosialisasi penggunaan Trap Barrier System pada lahan tanam padi. Foto: dok/humas
Daerah

Inovatif! Petani Klaten Usir Tikus Pakai TBS, Panen Padi Aman Lagi

September 20, 2025
COMO SUMMER CAMPS - Gahan Rompies, anak dari Vincent Rompies jadi satu-satunya orang Asia yang mengikut Como Summer Camps, di klub Serie A Italia, Como 1907. (ist)
Olahraga

Keren! Gahan Anak Vincent Rompies Satu-satunya Orang Asia Ikut Summer Camp Sepak Bola di Como Italia

Agustus 18, 2026
Pengunjung sedang memilih baju bekas di lapak thrifting depan Sam Po Kong, Semarang.
Info

Baju Lebaran Bukan Hanya di Mal, Lapak Thrifting Depan Sam Poo Kong Diserbu Pengunjung

Maret 18, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Kader Posyandu Diminta Bantu Deteksi Stunting dan Anak Putus Sekolah
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?