BACAAJA, NGAWI– Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) jangan sampai cuma ramai saat dibentuk, tetapi bingung ketika harus menjalankan usaha.
Nama boleh Merah Putih, tetapi pengelolaannya juga harus punya semangat profesional, transparan, dan bisa dipertanggungjawabkan. Pesan itu disampaikan Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono saat membuka Sosialisasi Tata Kelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Tahun Anggaran 2026 yang digelar Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah Kabupaten Ngawi di Hall Rumah Makan Notosuman, Selasa (3/11/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas kelembagaan koperasi sekaligus meningkatkan kemampuan pengurus dalam menjalankan organisasi dan usaha di tingkat desa maupun kelurahan.
Dalam arahannya, Ony menekankan bahwa pengelolaan KDKMP tidak boleh dilakukan asal jalan. Pengurus harus menerapkan manajemen yang akuntabel, transparan, dan modern agar koperasi benar-benar bisa berkembang serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Baca juga: Ngawi Dapat Penghargaan Kedaulatan Pangan, Beras Jadi Andalan
Menurutnya, koperasi desa memiliki potensi menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal. Jika dikelola dengan baik, keberadaannya bisa membuka peluang usaha, mengoptimalkan potensi wilayah, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Penguatan Pemahaman
Sosialisasi ini diikuti para pengurus KDKMP serta jajaran pembina koperasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Ngawi. Mereka mendapatkan penguatan pemahaman mengenai prinsip tata kelola koperasi yang sehat dan profesional.
Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Ngawi berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda sosialisasi atau sekadar menambah tumpukan materi di meja peserta.
Lebih dari itu, para pengurus diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam operasional koperasi masing-masing. Inovasi dan kemampuan membaca peluang usaha juga menjadi modal penting agar koperasi tidak hanya berdiri secara kelembagaan, tetapi benar-benar bergerak secara ekonomi.
Baca juga: Kangsantri, Marketplace untuk Dongkrak Kemandirian Pesantren di Ngawi
Sebab, tantangan koperasi bukan sekadar membentuk kepengurusan, memasang papan nama, atau meresmikan gedung. Pekerjaan sesungguhnya justru dimulai ketika koperasi harus mengelola modal, membangun usaha, melayani anggota, dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Jangan sampai koperasinya sudah Merah Putih, tetapi laporan keuangannya masih abu-abu. Koperasi harus hidup dari aktivitas usaha, bukan sekadar ramai saat seremoni. (tebe)

