Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Indonesia Bukan Krisis Petani, tetapi Krisis Kapabilitas Pertanian
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Indonesia Bukan Krisis Petani, tetapi Krisis Kapabilitas Pertanian

Redaktur Opini
Last updated: April 14, 2026 8:17 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.

Masalah utamanya bukan jumlah petani, tetapi kemampuan sistem pertanian dalam mengubah lahan, teknologi, dan hasil panen menjadi produktivitas tinggi.

 

Indonesia kerap dinarasikan sedang menghadapi krisis petani. Usia petani yang semakin tua, rendahnya minat generasi muda untuk turun ke sawah, dan lemahnya regenerasi, sering dianggap sebagai ancaman utama masa depan pangan nasional.

Narasi itu mudah diterima karena persoalannya tampak nyata di lapangan. Namun, jika dicermati lebih dalam, problem mendasar pertanian Indonesia bukan terletak pada kurangnya jumlah petani, melainkan pada lemahnya kapabilitas sistem pertanian itu sendiri.

Menurut teori transformasi struktural yang dikembangkan Simon Kuznets dan Arthur Lewis, salah satu ciri utama negara berkembang adalah besarnya konsentrasi tenaga kerja pada sektor pertanian tradisional yang berproduktivitas rendah.

Dalam kondisi itu, pertanian menyerap banyak tenaga kerja. Tetapi kontribusinya terhadap pendapatan nasional dan percepatan pembangunan tetap terbatas karena nilai tambah per pekerja rendah.

Menurut CEIC (2024), sektor pertanian Indonesia menyumbang sekitar US$176,05 miliar pada 2024 dengan tenaga kerja sekitar 43 juta orang. Imbasnya nilai tambah per pekerja hanya sekitar US$4 ribu per tahun.

Sementara menurut Statistics Netherlands atau CBS (2024), Belanda dengan hanya sekitar 180 ribu tenaga kerja pertanian mampu menghasilkan sekitar €50,4 miliar (US$58,1 miliar) dari ekspor pertanian pada 2023, dengan total ekspor mencapai €123,8 miliar (US$142,7 miliar). Perbedaan ini menunjukkan bahwa ukuran utama bukan jumlah petani, melainkan out put per pekerja.

Gagasan ini sejalan dengan Lewis Dual-Sector Model dari Arthur Lewis, yang menjelaskan bahwa pembangunan ekonomi terjadi ketika produktivitas pertanian meningkat sehingga surplus tenaga kerja dapat berpindah ke sektor modern tanpa menurunkan out put pangan. Dalam model ini, fungsi pertanian bukan menyerap tenaga kerja sebanyak mungkin, tetapi menghasilkan surplus pangan dan produktivitas agar transformasi struktural berlangsung.

Di sinilah letak persoalan Indonesia. Masalah utamanya bukan jumlah petani, tetapi kemampuan sistem pertanian dalam mengubah lahan, teknologi, dan hasil panen menjadi produktivitas tinggi.

Banyak kawasan masih menghadapi persoalan klasik, mulai dari penggunaan benih yang belum optimal, mekanisasi terbatas, adopsi teknologi yang lambat, hingga lemahnya penyuluhan. Pada tahap pascapanen, storage, grading, cold chain, dan distribusi yang lemah masih sering menyebabkan kehilangan hasil serta penurunan kualitas sebelum produk sampai ke pasar.

Dalam situasi seperti ini, menambah jumlah petani bukanlah jawaban utama. Jika lahan relatif tetap sementara jumlah petani terus bertambah, yang terjadi justru fragmentasi lahan, mengecilnya skala ekonomi, dan stagnasi pendapatan. Dengan kata lain, memperbanyak petani tanpa meningkatkan kapabilitas hanya memperluas distribusi inefisiensi.

Tantangan peningkatan kapabilitas pertanian Indonesia juga tidak sederhana. Teknologi yang berhasil di satu wilayah belum tentu cocok di wilayah lain karena perbedaan tipologi lahan, kesuburan tanah, pola hidrologi, dan agroklimat.

Lahan gambut, sawah irigasi Jawa, dataran tinggi hortikultura, hingga lahan kering kawasan timur memerlukan pendekatan berbeda. Di sisi lain, kapasitas pengetahuan petani dalam mengadopsi inovasi masih beragam, sementara sistem penyuluhan belum selalu efektif menjembatani transfer teknologi.

Tantangan lain adalah rantai logistik, terutama storage, cold chain, akses pasar, dan integrasi agroindustri, yang sering membuat peningkatan produksi tidak otomatis meningkatkan nilai tambah.

Karena itu, Indonesia tidak sedang kekurangan petani. Yang lebih tepat adalah Indonesia masih kekurangan pertanian yang berkapabilitas tinggi. Jalan menuju negara maju bukan memperbanyak jumlah orang di sawah, tetapi memastikan satu petani Indonesia mampu menghasilkan out put berkali lipat melalui teknologi, manajemen pascapanen, dan hilirisasi yang unggul. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Bencana Ekologis Dimulai Ketika Manusia Memandang Alam sebagai Benda Mati

“Western Gaze”, “Eastern Gaze”, dan “Single Story” ala Chimamanda Ngozi Adichie

Bersama-sama Tapi Sendiri

Perihal Pajak dan Kekhawatiran Seorang Lelaki Beristri

Rindu Masa Kecil Padahal Dulu Ingin Cepat Dewasa

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Gudang sepi di Wonolopo, Mijen, Kota Semarang yang dialihfungsikan sebagai pabrika narkoba. Skala produksinya capai 1 ton ekstasi. Gudang Sepi di Mijen Semarang Ternyata Pabrik Narkoba! Kapasitas Produksi 1 Ton Ekstasi
Next Article Mantan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla atau lebih dikenal dengan inisial JK. Ceramah JK di UGM Berujung Laporan Polisi, Pernyataan ‘Syahid’ Disorot Tajam

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

KETERANGAN PERS - Kasat Reskrim Polres Temanggung, I Komang Mahendra Deputra menjelaskan penanganan kasus kematian korban glamping Posong. (ist)

Polisi Ungkap Perkembangan Kasus Glamping Maut Temanggung: Butuh 5 Hari

SEPAKAT IMPOR PANGAN - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto saat melakukan kunjungan kenegaraan dan bertemu Presiden Republik Prancis Emmanuel Macron di Istana Elysee, Paris, Prancis pada Kamis (28/5/2026) waktu setempat. Prabowo sepakat membuka kran impor pangan, daging dan susu sapi, dari Prancis. (BPMI Sekretariat Presiden)

Saat Rupiah Terus-terusan Nyungsep, Presiden Prabowo Buka Kran Impor Pangan dari Prancis

Pocong Bawa Sajam Keliling Cilacap Bikin Warga Susah Tidur

Mengenal Warteg, Awalnya untuk Kuli, kini Mendunia

Mau Tahu Penyebab Bau Amis Daging Kurban? Sepele Banget

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Prabowo dan Sirkus Uang

Mei 20, 2026
Opini

Langkah Keliru Indonesia Memasuki Perang Orang Lain

Februari 11, 2026
Opini

Sekolah Enam Hari, Solusi atau Nostalgia?

November 24, 2025
Opini

Merayakan Kebebasan dengan Kata-Kata

November 14, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Indonesia Bukan Krisis Petani, tetapi Krisis Kapabilitas Pertanian
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?