BACAAJA, SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan yang menimpa ratusan santri di Sidoarjo usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) ikut mendapat sorotan dari Kementerian Agama (Kemenag). Program yang punya tujuan baik itu dinilai tetap harus dibarengi kontrol ketat, terutama soal keamanan makanan yang dikonsumsi para santri.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno mengingatkan, urusan MBG bukan cuma soal kandungan gizi. Mulai dari bahan makanan, proses memasak, pengemasan, pengiriman, sampai pengawasan di lapangan harus benar-benar diperhatikan.
“Pemenuhan gizi bagi anak-anak dan santri merupakan ikhtiar yang sangat baik. Namun, pelaksanaannya harus benar-benar memperhatikan keamanan pangan, kualitas makanan, proses pengolahan, distribusi, dan pengawasan,” ujar Amien dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).
Amien tak ingin program yang dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak justru memunculkan masalah baru bagi penerima manfaat. Karena itu, setiap tahapan penyediaan makanan harus dijalankan sesuai standar kesehatan.
Menurutnya, pesantren punya kondisi yang berbeda dibanding lingkungan sekolah biasa. Selain menjadi tempat belajar, pesantren juga menjadi tempat para santri tinggal dan beraktivitas sehari-hari.
“Pesantren adalah tempat belajar dan membentuk karakter generasi muda. Jangan sampai persoalan kesehatan seperti ini mengganggu proses belajar mengajar,” katanya.
Kemenag melalui Direktorat Pesantren pun terus mengikuti perkembangan kondisi para santri. Koordinasi dilakukan bersama jajaran Kemenag di daerah dan pihak pesantren untuk memastikan penanganan terhadap para korban berjalan dengan baik.
Amien juga mengapresiasi respons cepat Kanwil Kemenag Jawa Timur dan Kemenag Kabupaten Sidoarjo setelah mendapat laporan dari pihak pesantren. Menurut dia, gerak cepat di lapangan menjadi hal penting ketika muncul kejadian seperti ini.
“Dalam situasi seperti ini, kecepatan koordinasi dan kehadiran di lapangan sangat penting,” ucap Amien.
Ia berharap para santri yang terdampak segera pulih dan bisa kembali mengikuti kegiatan belajar serta aktivitas di lingkungan pesantren. Penanganan kesehatan para korban menjadi perhatian utama sambil menunggu perkembangan lebih lanjut.
Kasus di Pesantren Manbaul Hikam tersebut juga diminta tidak berhenti sebagai penanganan insiden semata. Kemenag mendorong seluruh pihak melakukan evaluasi terhadap mekanisme penyediaan MBG di lingkungan pesantren.
Pengawasan disebut perlu diperketat, termasuk koordinasi antara pihak pesantren, penyedia makanan, dan instansi terkait. Langkah ini penting supaya kualitas makanan tetap terjaga sebelum sampai ke tangan para santri.
Kemenag berharap kejadian tersebut menjadi pelajaran bersama. Jangan sampai program MBG yang seharusnya membantu memenuhi kebutuhan gizi malah menimbulkan persoalan kesehatan di lingkungan pesantren lainnya. (*)

