BACAAJA, TEMANGGUNG – Berbagai cara terus dilakukan petani tembakau untuk menyuarakan penolakan terhadap aturan turunan PP Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan. Jika sebelumnya aspirasi disampaikan lewat audiensi dan dialog dengan berbagai pihak, kali ini mereka memilih jalur spiritual.
Ratusan warga Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, menggelar Haukl Ki Ageng Makukuhan dan Kirab Pikukuh Syuro, Kamis (18/6/2026). Di tengah rangkaian tradisi tahunan tersebut, para petani turut menyampaikan penolakan terhadap rencana pembatasan kadar TAR dan nikotin serta kebijakan penyeragaman kemasan rokok.
Sepanjang kirab berlangsung, sejumlah spanduk berisi aspirasi petani tampak dibentangkan warga. Tak hanya itu, mereka juga menggelar doa bersama di kompleks Makam Ki Ageng Makukuhan dengan harapan pemerintah pusat lebih membuka ruang dialog sebelum menetapkan kebijakan yang berdampak pada sektor pertembakauan.
Bacaaja: Temui Massa Aksi, Bupati Temanggung Agus Gondrong Nyanyi Darah Juang bareng Demonstran
Bacaaja: Aturan Tar dan Nikotin Ancam Nasib Petani Tembakau, Golkar-PPP Temanggung Bereaksi Keras
Kepala Desa Wonosari, Agus Parmuji, mengatakan langkah tersebut menjadi bentuk ikhtiar sekaligus harapan agar suara petani bisa didengar.
“Kami berharap melalui panjatan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, pemerintah pusat menyadari bahwa kebijakan dalam PP Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan berpotensi mengancam sektor ekonomi pertembakauan dan merugikan petani,” ujarnya.
Menurut Agus, berbagai upaya sebenarnya sudah dilakukan petani, mulai dari audiensi hingga penyampaian aspirasi kepada kementerian terkait. Namun karena hingga kini keresahan mereka masih belum terjawab, doa dipilih sebagai jalan terakhir yang bisa ditempuh.
“Kalau aspirasi masyarakat, khususnya petani, belum juga mendapatkan respons, mungkin doa bisa menjadi jembatan kami dengan Tuhan agar pemerintah lebih bijak dalam menyusun regulasi pertembakauan,” katanya.
Kekhawatiran petani bukan tanpa alasan. Mereka menilai rencana pembatasan kadar TAR dan nikotin bisa berdampak langsung terhadap serapan hasil panen. Sebab, tembakau yang dihasilkan petani Temanggung dan sejumlah daerah lain umumnya memiliki karakteristik kadar TAR dan nikotin yang relatif tinggi.
Jika aturan tersebut diterapkan secara ketat, petani khawatir hasil panen mereka tidak lagi terserap maksimal oleh industri rokok.
Padahal hingga saat ini tembakau masih menjadi komoditas utama yang diandalkan petani saat musim kemarau. Di tengah keterbatasan air dan pilihan tanaman yang terbatas, tembakau dianggap sebagai salah satu sumber penghasilan paling menjanjikan bagi masyarakat.
Menariknya, lokasi pelaksanaan doa bersama juga memiliki nilai historis bagi masyarakat setempat. Ki Ageng Makukuhan dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam yang tidak hanya mengajarkan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga ilmu pertanian dan ekonomi kepada masyarakat di kawasan Kedu Raya.
Karena itu, masyarakat berharap momentum tahun baru Islam sekaligus haul tokoh tersebut dapat menjadi pengingat pentingnya menjaga keberlangsungan sektor pertanian yang selama ini menjadi penopang kehidupan warga.
Kirab Pikukuh Syuro sendiri merupakan tradisi tahunan yang rutin digelar warga Desa Wonosari untuk menyambut Tahun Baru Islam. Prosesi dimulai dengan arak-arakan membawa lurup atau kain penutup makam, gunungan hasil bumi, hingga tumpeng robyong.
Sesampainya di Bumi Makukuhan, warga melanjutkan rangkaian acara dengan jamasan atau pembersihan benda-benda pusaka desa seperti gamelan, wayang, jaran kepang, hingga alat pencacah tembakau.
Tradisi kemudian dilanjutkan dengan pergantian lurup makam Ki Ageng Makukuhan, doa bersama, dan ditutup dengan kembul bujono atau makan bersama menggunakan tumpeng yang dibawa warga dari rumah masing-masing.
“Memasuki tahun baru Islam ini, kami berharap seluruh masyarakat mendapatkan berkah, kemakmuran, dan hasil panen yang baik,” pungkas Agus. (*)

