BACAAJA, SEMARANG- Dampak kenaikan harga kedelai impor ternyata tidak berhenti pada meningkatnya biaya produksi. Di lapangan, para produsen tahu juga mulai merasakan menurunnya daya beli masyarakat yang berimbas pada berkurangnya permintaan.
Kondisi itu diungkapkan Hartono, pekerja di Pabrik Tahu Hasan (HS) yang berlokasi di Jomblang, Candisari, Kota Semarang. Dia menyebut perubahan pola belanja pelanggan semakin terlihat dalam beberapa bulan terakhir.
Pedagang yang biasanya membeli tahu dalam jumlah besar kini mulai mengurangi pesanan karena penjualan mereka juga mengalami penurunan. “Biasanya ada yang ambil empat, sekarang dua. Ada yang dulu ambil tiga, sekarang satu. Pedagang bilang pembelinya lagi sepi,” kata Hartono, Rabu (10/6/2026).
Baca juga: Ketika Dolar Naik, Jangan Biarkan UMKM Berjuang Sendiri
Penurunan jumlah pembelian tersebut menjadi gambaran bahwa tekanan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh produsen, tetapi juga oleh masyarakat sebagai konsumen akhir. Ketika harga berbagai kebutuhan hidup meningkat, banyak warga memilih mengurangi pengeluaran, termasuk untuk membeli bahan makanan.
Akibatnya, efek domino terjadi di sepanjang rantai distribusi. Pedagang menjual lebih sedikit, produsen menerima pesanan lebih sedikit, dan perputaran ekonomi menjadi lebih lambat dibandingkan sebelumnya.
Hartono mengaku situasi saat ini berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika permintaan tahu relatif stabil. Menurutnya, saat pasar sedang ramai, produksi bisa berjalan lebih lancar karena barang yang dibuat langsung terserap oleh pedagang.
Terasa Berkurang
Namun kini, kondisi tersebut mulai berubah. Meski produksi tetap dilakukan setiap hari, jumlah pesanan tidak lagi seramai sebelumnya. “Kalau pedagang sepi ya kita ikut sepi. Biasanya ramai, sekarang terasa berkurang,” ujarnya.
Selain dipengaruhi daya beli masyarakat, Hartono menilai gejolak nilai tukar dolar juga menjadi faktor yang memperberat kondisi pelaku usaha tahu. Pasalnya, sebagian besar kedelai yang digunakan masih berasal dari luar negeri, khususnya Amerika Serikat.
Ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat produsen sulit menghindari dampak fluktuasi kurs. Ketika dolar menguat, harga kedelai ikut naik dan biaya produksi semakin tinggi.
Baca juga: Permainkan Harga Kedelai, Mentan Ancam Cabut Izin Usaha
Sementara di sisi lain, kemampuan masyarakat untuk membeli produk juga cenderung menurun. “Kami berharap keadaan bisa kembali stabil seperti dulu. Kalau ekonomi membaik, pedagang ramai, otomatis kami juga ikut ramai,” tutur Hartono.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, para pelaku usaha tahu masih berusaha mempertahankan produksinya. Mereka berharap stabilitas harga bahan baku dan membaiknya kondisi ekonomi dapat mengembalikan daya beli masyarakat sehingga usaha kecil yang bergantung pada sektor pangan tetap dapat bertahan.
Dulu tahu dikenal sebagai lauk rakyat yang murah meriah dan selalu ada di meja makan. Kini, bahkan tahu ikut merasakan tekanan ekonomi. Saat dolar naik, kedelai mahal.
Saat harga kebutuhan lain ikut merangkak, pembeli pun mulai mengurangi belanja. Akhirnya yang mengembang bukan hanya adonan tahu, tetapi juga daftar persoalan yang harus ditanggung pelaku usaha kecil setiap harinya. (dul)

