BACAAJA, SEMARANG – Nasib guru honorer memang seperti di ujung tanduk. Selalu rapuh dalam hal penghasilan karena gajinya kecil, dan rentan terkait kekerasan baik oleh siswa maupun oleh pihak di luar sekolah, seperti orang tua siswa.
Poin itulah yang diangkat menjadi materi stand up comedi oleh Rachmad Rizkiawan, peserta PPG Calon Guru dalam Tahun 2026 Gelombang 1 Pascasarjana Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Gelar Karya Projek Kepemimpinan, di halaman Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, pada Minggu (1/11/2026).
Dimulai dari berita-berita di media tentang kekerasan para guru, Rachmad mulai mengangkat premis tersebut sebagai materi. “Ada guru diketapel matanya oleh wali murid. Dan, itu kena! Sampai buta pula,” ucap Rakhmad memulai penampilannya.
Bahkan tidak hanya itu. Menteri Agama Nasaruddin Umar malah menyebut guru seharusnya bisa menjadi “nabi kecil”. “Mungkin kemampuan seperti nabi tapi gajinya kecil!,” ledek Rachmad yang disambut tawa ger-geran dari penonton dan dewan juri.
Rachmad Rizkiawan dari PGSD Kelas D akhirnya meraih Juara 1 dan menyisihkan 12 peserta lain yang merupakan perwakilan kelas mahasiswa PPG Calon Guru UPGRIS. Disusul posisi kedua diraih Saeful Abidin dari PPKn Kelas A, sedangkan juara ketiga diraih Adien Bagus dari PGSD Kelas B.
Acara ini mengusung tema “Guru Berdampak, Pendidikan Berkelanjutan: Gelar Karya Mahasiswa PPG untuk Pencapaian SDGs”, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempresentasikan berbagai proyek kepemimpinan yang telah dikembangkan.
Acara ini diselenggarakan di luar lingkungan kampus, yaitu di halaman Masjid Agung Jawa Tengah, dan diikuti 12 kelas dengan menghadirkan 37 stan karya, termasuk satu stan khusus Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UPGRIS.
Direktur Pascasarjana UPGRIS, Prof. Dr. Harjito, M.Hum., mengatakan, terdapat 37 judul proyek kepemimpinan yang ditampilkan mahasiswa. Berbagai proyek tersebut mengangkat persoalan aktual di masyarakat, mulai dari pengembangan media pembelajaran, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), kesehatan dan kebugaran, penguatan literasi, hingga pelestarian budaya lokal.
Menurut Harjito, pengalaman tersebut penting untuk membentuk calon guru yang tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga kepedulian sosial. Melalui projek kepemimpinan, mahasiswa belajar mengenali persoalan, merancang solusi, membangun kerja sama, dan menghadirkan program yang berdampak.
Rektor UPGRIS, Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H., mengapresiasi seluruh panitia dan mahasiswa yang terlibat. Ia secara khusus menyampaikan penghargaan kepada mereka yang tetap meluangkan waktu pada hari Minggu untuk menyukseskan kegiatan yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari tersebut.
Menurut Rektor, penyelenggaraan gelar karya di luar kampus menjadi kesempatan untuk memperluas apresiasi dan memperkenalkan kontribusi UPGRIS kepada masyarakat. Guru memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan materi pelajaran.
“Menjadi guru bukan tentang menyampaikan materi, tetapi kemampuan untuk memberikan dampak positif bagi peserta didik. Pendidikan harus mendukung pembentukan karakter,” ujarnya.
Rektor menambahkan, keberlanjutan pendidikan membutuhkan komitmen guru untuk terus bertumbuh dan mengembangkan diri. Karena itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang belajar sekaligus memperluas komitmen mahasiswa dalam membangun pendidikan yang memberikan manfaat jangka panjang.
Melalui gelar karya ini, mahasiswa PPG Calon Guru UPGRIS diharapkan semakin memahami bahwa profesionalisme guru tidak hanya diukur dari kemampuan mengajar, tetapi juga dari kesanggupan membaca persoalan sosial dan menghadirkan perubahan.
Dengan demikian, guru dapat menjadi bagian penting dalam mewujudkan pendidikan berkelanjutan sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). (*)

