Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Cerita Judheg Singgah, Film Ngapak Akhirnya Masuk Panggung Festival
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Cerita Judheg Singgah, Film Ngapak Akhirnya Masuk Panggung Festival

Selain ceritanya yang kuat, ada beberapa fakta menarik dari Judheg. Film ini jadi film panjang pertama dari wilayah Purbalingga dan Banyumas Raya yang sepenuhnya memakai bahasa Banyumasan. Selain itu, seluruh pemain serta tim produksi benar-benar berasal dari daerah tersebut, bikin nuansa lokalnya terasa otentik.

Nugroho P.
Last updated: November 14, 2025 10:37 am
By Nugroho P.
3 Min Read
Share
Film panjang berbahasa Banyumasan berjudul Judheg siap tampil perdana di panggung Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025.
SHARE

BACAAJA, PURBALINGGA – Film panjang berbahasa Banyumasan berjudul Judheg siap tampil perdana di panggung Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025. Kehadirannya jadi angin baru buat sinema Banyumas Raya, karena ini pertama kalinya bahasa Ngapak nongol dalam film panjang yang masuk kompetisi resmi.

Judheg masuk kategori Indonesian Screen Awards dan bakal tayang di Empire XXI Yogyakarta pada dua jadwal: 3 Desember pukul 15.15 WIB dan 4 Desember pukul 21.30 WIB. Antusiasnya sudah terasa sejak pengumuman rilis jadwal pemutaran.

Sutradara Misya Latief bilang film ini bukan sekadar karya, tapi juga penanda sejarah. Ia menyebut Judheg sebagai simbol kebanggaan pada bahasa ibu dan akar budaya lokal. Lebih dari itu, seluruh pemain dan kru berasal dari wilayah Banyumas Raya: Purbalingga, Banyumas, Cilacap, sampai Banjarnegara.

Secara tema, film ini bicara soal pernikahan dini, kemiskinan, dan beban berat yang kadang harus ditanggung perempuan muda—hal-hal yang jarang dibahas sedalam ini di film Indonesia. Judulnya sendiri, “Judheg,” berarti “penat”, sementara untuk internasional diberi judul Worn Out.

Kisahnya fokus pada Warti, remaja 16 tahun yang sudah jadi ibu. Ia berjuang membesarkan bayinya, Cahyo, dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan. ASI-nya nggak keluar karena stres, sementara suaminya, Supri, tenggelam dalam judi online dan kekerasan rumah tangga.

Untuk bertahan hidup, Warti merangkai bulu mata palsu sambil memikirkan langkah besar yang harus diambil: tetap bertahan di rumah tangga yang makin nggak sehat, atau mengambil kesempatan terakhir buat menyelamatkan dirinya dan anaknya.

Judheg nggak cuma memotret luka sosial yang dialami perempuan muda, tapi juga memperlihatkan ketahanan tubuh dan mental mereka. Ada getir, tapi juga ada harapan yang pelan-pelan tumbuh.

Film ini diproduksi oleh Rekam Films, rumah produksi yang sejak awal dikenal konsisten bikin karya sosial-realistik. Mereka sebelumnya mengerjakan dokumenter dan film fiksi seperti Balada Bala Sinema (2017), Nyanyian Akar Rumput (2018), Roda-Roda Nada (2022), dan Harmoni (2024).

Tahun ini, Rekam Films juga merilis film Menuju Pelaminan yang tayang serentak di bioskop pada 16 Oktober. Setelah itu, mereka meluncurkan Judheg sebagai karya terbaru yang langsung masuk nominasi Indonesian Screen Award di JAFF 2025.

Selain ceritanya yang kuat, ada beberapa fakta menarik dari Judheg. Film ini jadi film panjang pertama dari wilayah Purbalingga dan Banyumas Raya yang sepenuhnya memakai bahasa Banyumasan. Selain itu, seluruh pemain serta tim produksi benar-benar berasal dari daerah tersebut, bikin nuansa lokalnya terasa otentik.

Pemutaran di JAFF 2025 jadi pintu pembuka buat Judheg menuju penonton yang lebih luas. Dengan isu yang relevan, bahasa daerah yang dibawa secara percaya diri, serta tim lokal yang total nggarapnya, film ini berpotensi jadi langkah besar buat perkembangan sinema Banyumasan.

Kalau responnya positif, bukan mustahil ke depan bakal muncul lebih banyak film berbahasa daerah yang tampil berani dan otentik seperti Judheg. Film ini jadi pengingat bahwa cerita dari kampung halaman pun punya tempat di panggung festival internasional. (*)

You Might Also Like

Telantarkan Puluhan Korban, Dua Penyalur Pekerja Migran Diringkus Polisi

Legitimasi Bupati Pati Sudewo: Masih Sah di Atas Kertas, Tapi di Lapangan? Yah…

Ibu Gendong Masih Bertahan di Kranggan, Bakal Disulap Jadi Ikon Wisata Baru Semarang

Emoh Kecolongan, Saudi Tindak Keras Jemaah Ilegal, Lebih dari 200 Ribu Diusir

Asteroid Mining: The Future of Resources

TAGGED:banyumasfestival filmfilm banyumasfilm ngapak
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Merayakan Kebebasan dengan Kata-Kata
Next Article MUI Haramkan Aksi Viral Dai Elham, Etika Publik Disorot Lagi

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

SIDANG TPPU--Gus Yazid terdakwa kasus pencucian uang BUMD Cilacap, digiring dari ruang sidang menuju mobil tahanan. (bae)

Istri Gus Yazid Ungkap Fakta Mencengangkan: Dia Lebih Pilih Setia kepada Jenderal Widi

JALAN--Jalan baru Undip Tembalang. (google earth)

Pemkot Semarang Ikut Terseret, Warga Tuntut Ganti Rugi Lahan Proyek Jalan Jangli-Undip

Mohammad Saleh Minta Perbaikan Jalan Pantura Barat Dipercepat

Menengok Ulang Kontroversi “Wonderland Indonesia” yang Mengubah Cara Kita Melihat Budaya

Warga Binaan Lapas Purwodadi Belajar Jadi Barista

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Bupati Temanggung Agus Gondrong bersama warga dan perwakilan perusahaan rokok menghadiri prosesi 'Wiwitan' atau mengawali musim tanam tembakau di Lereng Sumbing.
Unik

Wiwitan di Lereng Sumbing: saat Doa dan Benih Tembakau Bertemu di Awal Musim Tanam

April 27, 2026
Eldea bersama Ruth, seekor anjing labrador pelacak narkotika milik Bea Cukai Jateng-DIY.
Kerjo Aneh-aneh

Cerita Eldea si Pawang Anjing Pelacak Bea Cukai yang Ditakuti Bandar Narkoba

September 22, 2025
Tips

Awas! Minum Sembarangan Saat Mudik, Fokus Bisa Buyar Total

Maret 4, 2026
Unik

Raja Ampat Teriak: 10 Artis Ini Galang Suara Lawan Tambang Nikel

Juni 9, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Cerita Judheg Singgah, Film Ngapak Akhirnya Masuk Panggung Festival
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?