BACAAJA, SEMARANG – Kasus bullying masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang belum terselesaikan di Jawa Tengah (Jateng).
Belum reda dugaan bullying di Pati hingga jari siswa putus, muncul kasus yang lebih memprihatinkan di Pemalang. Siswa SMP di Pemalang tewas diduga korban bullying.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), menegaskan perundungan masih menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus ditangani dari berbagai sisi. Persoalan bullying bukan hanya tanggung jawab sekolah.
Bacaaja: Dua Jari Siswa Putus: Sekolah Bilang Kecelakaan, Keluarga Yakin Ada Bully
Bacaaja: Viral Keluhan Pasien BPJS Ditanggapi Sadis Dokter hingga Korban Meninggal, RSUP dr Sardjito Buka Suara
“Bullying saat ini kita konsen ke sana. Kemarin juga di Hari Anak kita sampaikan,” kata Taj Yasin, Jumat (7/8/2026).
Ia mengatakan, pencegahan bullying harus dimulai sejak dini dan melibatkan semua pihak. Bukan hanya sekolah, tapi juga keluarga, lingkungan sekitar, hingga lembaga pendidikan nonformal seperti pesantren.
“Ini menjadi PR kita bersama. Apalagi isu-isu bullying di usia remaja,” ujarnya.
Gus Yasin mengungkapkan, Pemprov Jateng kini juga memperkuat upaya pencegahan di lingkungan pesantren melalui Forum Anak Pesantren. Lewat forum tersebut, pemerintah memberikan edukasi sekaligus membangun komunikasi dengan para santri.
“Bukan hanya di sekolahan, tetapi juga sampai ke pesantren. Kita sudah bangun Forum Anak Pesantren untuk edukasi dan penanganan,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, perhatian juga diberikan kepada anak usia dini. Menurutnya, guru-guru PAUD ikut dibekali agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi anak.
“Kita tingkatkan sampai ke bawah, di tingkat PAUD. Guru-guru juga harus dibekali supaya anak-anak merasa nyaman,” katanya.
Ia menilai, akar persoalan bullying sering kali berasal dari lingkungan di luar sekolah. Karena itu, setiap kasus perlu dianalisis lebih dalam, bukan sekadar menyalahkan lembaga pendidikan.
“Jangan-jangan masalahnya ada di lingkungan, lalu terbawa ke sekolah,” tuturnya.
Gus Yasin juga mendorong komunikasi yang lebih erat antara sekolah dan orang tua. Menurutnya, kedua pihak harus saling berbagi informasi mengenai perilaku anak, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal.
“Yang harus kita libatkan seluruh stakeholder, termasuk komunikasi dengan orang tua. Sekolah harus tahu bagaimana perilaku anak di sekolah maupun di lingkungannya,” ujarnya.
Menariknya, Gus Yasin justru melihat banyaknya laporan kasus bullying sebagai sinyal positif. Baginya, hal itu menunjukkan masyarakat mulai berani melapor dan semakin peduli terhadap kasus perundungan.
“Dengan banyaknya aduan, artinya masyarakat semakin aware. Semakin banyak yang melapor, semakin mudah juga kita menangani persoalan ini,” pungkasnya. (dul)

