BACAAJA, SEMARANG – Aktivis sosial Ferry Irwandi ngajak patungan ‘beli’ hutan Kalimantan. Mungkin juga ke depan untuk hutan-hutan lain di Indonesia. Melalui gerakan ‘Patungan untuk Hutan’.
Patungan ‘beli’ hutan Kalimantan, agar paru-paru dunia itu tidak ditebang. Tidak dibakar. Tidak kemudian dijadikan lahan tambang.
Video gerakan ‘Patungan untuk Hutan’ diunggah Ferry di kanal YouTube miliknya. Juga tersebar di berbagai platform media sosial. Ferry bilang, gerakan tersebut bukan untuk membeli kawasan hutan sebagaimana jual-beli lahan.
Dana yang terkumpul nantinya diarahkan untuk memperkuat upaya pencegahan kebakaran, penanganan kondisi darurat,m hingga pemulihan ekosistem.
Bacaaja: Kebakaran Hutan dan Lahan di Jateng Meledak 700 Persen
Bacaaja: Pria Diduga Bakar Hutan Baluran, Ditangkap Petugas
“Ini bukan patungan untuk beli hutan. Hutan itu tidak sesederhana tinggal dibeli,” kata Feri.
Menurutnya, persoalan hutan berkaitan dengan banyak hal, mulai dari status lahan, hak masyarakat, perizinan hingga tata ruang. Karena itu, perlindungan hutan perlu dilakukan melalui organisasi dan kelompok masyarakat yang memiliki pengalaman serta dasar hukum yang jelas.
Ia mencontohkan Yayasan Kalaweit yang bekerja bersama masyarakat lokal untuk mempertahankan kawasan hutan. Menurut Feri, masyarakat tetap bisa memperoleh manfaat ekonomi dari lahannya tanpa harus menjualnya kepada perusahaan.
“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat yang hidup bersama hutan ini punya kapasitas untuk mempertahankan hutannya,” ujarnya.
Feri menilai sebenarnya berbagai organisasi dan komunitas yang bergerak di bidang konservasi sudah tersedia. Persoalannya, mereka membutuhkan dukungan agar kegiatan di lapangan bisa berjalan lebih luas.
“Organisasinya sebenarnya sudah ada. Orang-orangnya juga sudah ada. Yang sering tidak ada itu kapasitas pendanaannya,” katanya.
Dana tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti patroli kawasan, pemetaan, penguatan legalitas, pembibitan, restorasi hingga pencegahan kebakaran.
Selain Kalaweit, Feri juga menyebut Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) dan Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) sebagai organisasi yang telah lama menjalankan upaya konservasi dan pemulihan hutan.
Ia memperkirakan jika gerakan tersebut mampu mengumpulkan dana hingga Rp50 miliar, dukungannya bisa menjangkau kawasan hutan dalam skala besar. Namun, menurutnya, keberhasilan tidak seharusnya hanya dilihat dari nominal donasi.
“Ukuran keberhasilannya bukan berapa banyak uang yang kita kumpulkan,” tuturnya.
Yang lebih penting, kata Feri, adalah memastikan hutan tetap berdiri, ekosistem pulih, habitat satwa terjaga dan masyarakat sekitar mendapatkan manfaat ekonomi dari upaya menjaga lingkungan.
“Selama hutannya tetap berdiri, karbon tetap tersimpan, habitat satwa tetap ada, risiko kebakaran bisa ditekan, sumber air tetap terjaga,” ujarnya.
Melalui gerakan “Patungan untuk Hutan”, Feri berharap masyarakat bisa ikut menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan hutan, bukan hanya ketika bencana kebakaran sudah terjadi.
Ia menilai dukungan publik dapat menjadi sumber kekuatan bagi masyarakat dan organisasi yang selama ini berada di garis depan menjaga hutan. (dul)

