Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Telur, Susu, dan Website: Jurus Mahasiswa Undip Bantu ABK Belajar Mandiri
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Pendidikan

Telur, Susu, dan Website: Jurus Mahasiswa Undip Bantu ABK Belajar Mandiri

Mengemas telur dan membuat susu pasteurisasi ternyata bisa jadi cara untuk melatih kemandirian anak berkebutuhan khusus (ABK). Ide unik ini dikembangkan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) lewat Sapa ABK, yang memadukan aktivitas peternakan dengan teknologi digital untuk membantu orang tua dan terapis memantau perkembangan anak.

T. Budianto
Last updated: September 4, 2026 2:49 pm
By T. Budianto
5 Min Read
Share
SAPA ABK: Tim PKM-PM dari Universitas Diponegoro mengadakan pertemuan dengan Komunitas Gracias di Banyumanik, Semarang, untuk memperkenalkan program Sapa ABK, kemarin. (Foto: Ist)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Siapa sangka mengemas telur dan bikin susu pasteurisasi bisa jadi bagian dari latihan anak berkebutuhan khusus (ABK)? Di tangan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip), aktivitas yang kelihatannya sederhana itu justru diolah menjadi program untuk melatih motorik, kognitif, hingga kemandirian anak.

Bukan cuma mengandalkan terapi tatap muka, Undip juga membawa aktivitas tersebut ke dunia digital lewat Sapa ABK. Sistem ini memungkinkan orang tua mendokumentasikan latihan anak di rumah, sementara terapis tetap bisa memantau dan memberikan evaluasi tanpa harus selalu menunggu jadwal terapi berikutnya.

Program tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) bersama Komunitas Gracias di Banyumanik, Kota Semarang.

Komunitas yang menjadi wadah swadaya ABK tersebut menghadapi keterbatasan tenaga terapis. Saat ini, satu orang terapis harus menangani sekitar 15 anak dengan kebutuhan yang beragam.

Akibatnya, terapi tatap muka hanya bisa dilakukan secara berkala, sekitar satu bulan sekali. Di luar jadwal tersebut, komunikasi antara orang tua dan terapis sebelumnya lebih banyak dilakukan melalui grup WhatsApp.

Baca juga: FPP Undip dan Pertamina Bikin KKN Naik Kelas di Pedurungan

Persoalannya, informasi penting soal latihan dan perkembangan anak bisa saja tenggelam di antara ratusan pesan. Orang tua pun membutuhkan panduan yang lebih jelas agar latihan tetap bisa dilakukan di rumah secara terstruktur.

Dari situ, tim mahasiswa Undip yang terdiri atas Tri Wahyu Utami, Dwi Noviyani, Shafira Cahaya R, Malvin Bima Santiko, dan Fransiskus F. SinagamengembangkanSistem Analisis Perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus (Sapa ABK).

Di bawah bimbingan dosen Ir Daud Samsudewa, SPt, MSi, PhD, IPM,Sapa ABK tidak sekadar membuat website. Tim menggabungkan Home Program berbasis aktivitas vokasional peternakan dengan sistem pemantauan digital.

Aktivitas peternakan dipilih karena bisa dimodifikasi menjadi kegiatan konkret yang mudah dilakukan dan disesuaikan dengan kemampuan anak. Salah satunya adalah mengemas telur. Aktivitas ini dirancang untuk melatih koordinasi motorik halus sekaligus kemampuan mengikuti instruksi secara berurutan.

Beri Stimulasi

Ada pula kegiatan membuat susu pasteurisasi yang ditujukan untuk memberikan stimulasi kemampuan kognitif serta melatih kemandirian dasar. Agar program tidak berhenti sebagai aktivitas sesaat, tim menyusun lima modul kurikulum sebagai panduan Home Program. Materi tersebut kemudian diintegrasikan ke platform digital melalui laman sapaabk.com.

Ketua Tim PKM-PM Undip, Tri Wahyu Utami mengatakan, website tersebut dirancang sebagai alat pemantauan sekaligus penghubung antara orang tua dan terapis.

“Website ini kami rancang sebagai alat pemantauan sekaligus penghubung. Orang tua dapat mengunggah video latihan anak di rumah secara berkala. Nantinya, terapis dapat melihat video tersebut, melakukan evaluasi, serta memberikan umpan balik melalui platform,” jelas Tri.

Dengan sistem ini, aktivitas anak di rumah bisa terdokumentasi dan menjadi bahan evaluasi. Pemantauan pun tidak harus menunggu sesi terapi tatap muka berikutnya.

Sejak 27 Juni hingga 3 September 2026, laman Sapa ABK tercatat telah mendapat 2.338 kunjungan. Ada pula 28 pengguna terdaftar, terdiri atas 25 orang tua, satu terapis, dan dua administrator. Dalam periode yang sama, tercatat 57 unggahan video aktivitas anak serta 53 laporan perkembangan yang telah divalidasi oleh terapis.

Baca juga: Undip Kembangkan Sentra Domba Terpadu di Desa Tumbrep

Tim Undip juga tidak ingin Sapa ABK hanya hidup selama program mahasiswa berlangsung. Untuk menjaga keberlanjutan, dibentuk empat pilar kader penggerak di lingkungan Komunitas Gracias, yakni Kader Kurikulum, Kader Website, Kader Video Tutorial, dan Kader Sarana Prasarana.

Kaderisasi tersebut diharapkan membuat pengelolaan Home Program dan platform digital bisa terus berjalan meski masa pendampingan mahasiswa telah selesai.

Program ini juga sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Bermutu dan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, khususnya dalam memperluas dukungan dan pendampingan bagi ABK serta keluarganya.

Pada akhirnya, teknologi memang tidak bisa menggantikan peran terapis, begitu pula sebaliknya. Tapi ketika telur, susu, orang tua, terapis, dan website bisa berada dalam satu sistem, setidaknya latihan anak tidak lagi harus menunggu kalender berganti. (tebe)

You Might Also Like

Gubernur Luthfi Ajak Mahasiswa “Ngintil Sehari” Jadi Kepala Daerah, Biar Nggak Cuma Demo Doang!

Dusun Buddhis Krecek Mulai Dilirik Wisatawan

Jateng Gaspol Bikin Dokter Spesialis Baru

Sarasehan Diaspora NU di 5 Benua, ISNU Jateng: Santri Go Global, Indonesia Maju!

Biaya Sekolah SD Ugal-ugalan, Butuh Regulasi Batas Atas-Bawah

TAGGED:abkfppKomunitas Graciassdg 10sdg 4undip
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article 756 Buruh PT SGS Kena PHK, Pemprov Cari Jalan Biar Bisa Kerja Lagi
Next Article Bukan Cuma Garam, Jetis Punya “Harta” dari Bibir Pantai Purworejo

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno.

Pohon Tumbang 2 Nyawa Pengguna Jalan di Semarang, MTI: Bukan Sekadar Musibah

10 Perda Surakarta Dicek, Ada yang Harus “Dipensiunkan”

KAMAR MAYAT - Korban tewas diantar ke ruang jenazah. (grafis/wahyu)

Polisi Ungkap Identitas Korban Tertimpa Pohon Tumbang di Pandanaran

Semarang Mau Tangguh sampai 2045, Tapi Sampah Masih Suka Nyangkut

Dunia Hiburan Semarang, Lampu Masih Nyala, Tapi Bisnis Mulai Redup

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Pendidikan

Mahasiswa Jangan Cuma Rapat: Taj Yasin Ajak Turun Tangan Beresin Masalah Sosial

Februari 10, 2026
Pendidikan

Final Cerdas Cermat Kalbar Makin Riuh, Sambas Ikut Buka Suara

Mei 18, 2026
Pendidikan

Heboh Banget Guru ASN Diberhentikan, Ini Alasannya

Desember 30, 2025
Pendidikan

Perkuat Kualitas Akademik, FPP Undip Gelar Workshop RPS OBE-SDGs

Mei 13, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Telur, Susu, dan Website: Jurus Mahasiswa Undip Bantu ABK Belajar Mandiri
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?