Garry Satrio N adalah mahasiswa jurusan Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo.
Hasrat meraih impian pada dasarnya adalah bagian dari insting alamiah manusia untuk bertahan hidup.
Impian tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia selalu berbenturan dengan kenyataan hidup pemiliknya. Semua manusia memiliki impian. Namun, di dalam perjalanannya, ada yang mendapatkan kemudahan. Ada pula yang merengkuh kesukaran.
Sebagian lain orang berkata bahwa ketimpangan ini bukanlah kebetulan, tetapi ada penyebabnya. Kita tidak bisa sekadar menyimpulkan bahwa seseorang mencapai titik A murni karena garis takdir. Seringkali itu terjadi karena ia melakukan sesuatu, atau memiliki perangkat pendukung (privilese) yang mengantarkannya ke titik tersebut.
Syahdan, kita dihadapkan dengan suatu kondisi krisis. Untuk mewujudkan sesuatu, ada kesan hal itu teramat sukar dilakukan. Apakah zaman yang semakin tua, atau memang seperti ini alurnya? Terkadang terbersit tanya di kepala, inikah kehidupan itu? Bagi banyak orang, begitu sulitnya mewujudkan impian. Inikah wujud sebuah keadilan?
Dalam buku Sapiens, Yuval Noah Harari menjelaskan bahwasanya yang membikin manusia berkuasa atas bumi ini adalah kemampuannya mempercayai mitos atau cerita fiksi. Kepercayaan yang disepakati bersama ini menciptakan solidaritas. Itulah yang membentuk kekuatan manusia untuk saling bersinergi. Sayangnya, sikap individualisme hari ini telah mengubah cerita kolektif tersebut menjadi narasi yang baru.
Ketika mendengar kata “impian”, yang terbayang di kepala kita adalah rentetan kemungkinan. Konon, jika ada anak orang kaya berkata, “aku ingin menjadi kaya”, itu bukanlah hal sukar.
Sebaliknya, jika ada anak miskin mengucapkan kalimat serupa, hal itu sering kali dianggap mustahil. Jawaban klise yang paling sering terdengar untuk menjelaskan fenomena ini Adalah kemiskinan struktural.
Kemiskinan tersebut lahir bukan tanpa sebab. Ia lahir dari cerita usang yang tercipta sejak awal sebelum revolusi industri hingga hari ini. Dari hegemoni kepentingan satu raja pada masa lampau, hingga kepentingan seorang pemilik modal (owner) hari ini. Dan hal itu pada praktiknya diselaputi oleh sikap dan watak kerakusan.
Jika meminjam sudut pandang Karl Marx, keadaan ini terjadi karena ketidakadilan atas struktur sosial dan monopoli kepemilikan alat produksi. Terlihat jelas, bukan? Ketimpangan inilah yang membuat dunia seakan tidak adil.
Jika kembali meminjam istilah dalam buku Sapiens, cerita yang melingkupi kita hari ini terlalu kelam untuk dipercayai. Namun, sialnya, narasi itu sudah tertanam di dalam kepala setiap insan. Lalu, bagaimana dengan nasib impian setiap manusia? Haruskah ia tetap ada?
Di tengah himpitan struktur sosial yang eksploitatif dan sering kali mematikan kemungkinan tersebut, pertanyaan di atas justru menemukan urgensinya. Ketika kenyataan material menolak berpihak, mimpi tidak serta-merta mati. Ia bertransformasi dari sekadar target pencapaian menjadi mekanisme pertahanan diri.
Hasrat meraih impian pada dasarnya adalah bagian dari insting alamiah manusia untuk bertahan hidup. Ada secercah cerita yang menarik mengenai hal ini dalam buku Sang Alkemis karya Paulo Coelho. Seorang pemuda yang sedang menggebu-gebu mewujudkan mimpinya bertemu dengan seorang penjaga toko kristal. Sang pemuda ini memiliki keyakinan teguh bahwa, “jika seseorang memiliki mimpi, maka semesta akan bahu-membahu mewujudkannya”.
Dalam pertemuan itu, sang pemuda menanyakan perihal impian si penjaga toko yang ingin pergi ke Mekkah. Menariknya, penjaga toko justru tidak ingin mewujudkannya. Alasannya sederhana tetapi mendalam: impian itulah yang selama ini membikin dia tetap bersemangat menjalani hidup. Keadaan tersebut tentu berbanding terbalik dengan pemahaman idealis sang pemuda.
Dari sanalah terlihat nyata bahwa impian adalah bagian terpenting dari hidup manusia. Entah manusia itu bersikeras mewujudkannya, atau sekadar menjadikannya angan belaka. Impian tetaplah cerita sesungguhnya yang melatarbelakangi kehidupan manusia dalam segala aspek.
Pada muaranya, betapapun kemiskinan struktural yang lahir dari kerakusan perlahan mengubur narasi kesetaraan. Mimpi nyatanya tak lantas mati. Ia hanya bertransformasi menjadi mekanisme pertahanan diri.
Layaknya angan sang penjaga toko kristal, hal-hal yang diimpikan akan menjelma sebagai “mitos personal” yang berfungsi sebagai perawat kewarasan. Tujuannya tentu guna melegitimasi lelahnya perjuangan hari ini yang telah diupayakan.
Inilah fiksi penyelamat yang membuktikan argumen Harari, bahwa sekeras apa pun tatanan eksploitatif ini menggilas, manusia akan senantiasa menyisakan satu ruang merdeka di kepalanya untuk terus merajut harapan.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

