BACAAJA, SEMARANG – Siswa SDN Pendrikan Lor 02 Kota Semarang menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di dalam kelas. Namun, tepat di atas kepala mereka, plafon yang sudah ambrol memperlihatkan rangka atap yang lapuk.
Sebagian langit-langit lain mulai mengelupas, membuat kegiatan makan dan belajar berlangsung di bawah bangunan yang sewaktu-waktu bisa runtuh.
Pemandangan itu terlihat di ruang kelas 2. Meski kondisi bangunan memprihatinkan, kegiatan belajar mengajar maupun pembagian MBG tetap berjalan karena sekolah belum memiliki ruang pengganti yang memadai.
Bacaaja: 261 Pegawai BGN Dicoret, Bersih-Bersih Internal Dimulai
Bacaaja: Survei SMRC: Tingkat Kepuasan ke Prabowo Anjlok 30 Persen dalam 9 Bulan
Kepala SDN Pendrikan Lor 2 Semarang, Dwi Hartiningsih, mengatakan program MBG di sekolah berjalan lancar sejak dirinya mulai bertugas sebagai kepala sekolah pada Januari lalu.
“MBG alhamdulillah bagus, berjalan lancar,” ujar Dwi.
Di sisi lain, Dwi mengaku selalu dihantui rasa khawatir dengan kondisi bangunan sekolah. Jika tak segera diperbaiki, apalagi sampai musim hujan tiba, ancaman makin besar.
“Saya waswas. Sekarang masih musim kemarau saja rayap terus berkembang. Nanti kalau musim hujan saya takut ada yang roboh lagi. Kalau memang membahayakan, anak-anak saya alihkan ke tempat yang lebih aman,” katanya.
Menurut Dwi, ruang kelas 2A, 2B, ruang UKS, dan perpustakaan menjadi bagian bangunan yang paling parah. Kusen-kusen kayunya sudah banyak dimakan rayap, sementara sebagian atap dan plafon rusak.
Sekolah yang memiliki 298 siswa itu sebenarnya sudah beberapa kali mengajukan renovasi ke Dinas Pendidikan.
Namun hingga kini, yang diperbaiki baru gedung di bagian belakang. Sementara empat ruangan yang rusak berat itu belum tersentuh renovasi selama sekitar 15 tahun. (bae)

