BACAAJA, SEMARANG- Di balik amblesnya jalan di Jembawan 1, Kalibanteng, Semarang Barat, muncul satu cerita yang ramai diperbincangkan warga, keberadaan ikan sapu-sapu di aliran sungai setempat.
Ikan yang selama ini dianggap hama itu ternyata cukup banyak hidup di sungai kawasan Kalibanteng Tepatnya di Jembawan, Bahkan bagi sebagian warga, menangkap sapu-sapu sudah menjadi aktivitas baru walaupun tidak dilakukan setiap hari.
Saat pagi hingga sore hari, beberapa warga ada yang memancing dan menjaring ikan Nila bersamaan untuk menangkap wabah Sapu- Sapu tersebut di sepanjang bantaran sungai. Ukurannya cukup besar dan jumlahnya disebut terus bertambah.
Baca juga: Ikan Sapu Sapu Dibasmi, Kenapa Malah Makin Susah, Begini Faktanya..
Manto (50), warga setempat, mengatakan ikan sapu-sapu memang sudah lama memenuhi sungai di kawasan itu. Menurut cerita warga, ikan tersebut diduga ikut menyebabkan tanah di bawah tanggul menjadi gerong atau berlubang.
“Jarene wong-wong niku gara-gara iwak sapu-sapu. Kan nggerus-nggerus terus nggawe gerong,” ujarnya, Kamis (7/5/2026). Ia menjelaskan, arus air yang menghantam tikungan sungai ditambah banyaknya lubang di bawah pondasi diduga membuat tanah semakin rapuh hingga akhirnya jalan ambles.
Meski begitu, warga sendiri belum bisa memastikan penyebab utama kerusakan tersebut. Sebab ada juga yang menilai faktor usia bangunan dan derasnya arus sungai turut memperparah kondisi tanggul.
Banyak Sapu-Sapu
Hal senada disampaikan Supat (70). Ia mengaku sering melihat banyak ikan sapu-sapu muncul di sungai, terutama saat sore hari. “Banyak sekali sapu-sapunya, Mas. Sore mulai naik semua cari makan,” katanya.
Menurutnya, dugaan ikan sapu-sapu merusak pondasi memang ramai dibicarakan warga. Namun ia tidak ingin langsung menyimpulkan tanpa kajian dari pihak terkait. “Kalau saya ya bisa percaya bisa tidak. Tapi memang bawah pondasi itu seperti gerong,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, aktivitas menjaring ikan sapu-sapu menjadi kegiatan baru di saluran Kalibanteng, Walaupun tidak dilakukan setiap hari. Sebagian warga bahkan menganggapnya bisa sebagai kebiasaan turun-temurun untuk mengurangi populasi ikan yang terus berkembang.
Baca juga: Dari Pembersih Akuarium Jadi Penguasa Sungai, Sapu-Sapu Bikin Resah
Kini warga berharap pemerintah tidak hanya memperbaiki jalan yang ambles, tetapi juga mengecek kondisi tanggul dan aliran sungai secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Sekarang warga berharap pemerintah nggak cuma tambal jalan yang retak, tapi juga benar-benar ngecek kondisi tanggul dan aliran sungainya. Karena kalau cuma aspalnya yang dibenerin sementara bawahnya masih kopong, ya ujung-ujungnya jalan bisa “logout” lagi pas musim hujan datang. (dul)

