Tajuk Rencana
KEINGINAN Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menjadikan ibu kota Jateng sebagai destinasi sport tourism merupakan langkah yang layak mendapat dukungan.
Di tengah persaingan antardaerah mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru, olahraga kini telah berubah menjadi industri yang mampu mendatangkan wisatawan, menghidupkan hotel, menggerakkan UMKM, hingga memperkuat citra sebuah kota.
Agustina bahkan menegaskan, pengembangan fasilitas olahraga modern merupakan bagian dari strategi menjadikan Semarang sebagai destinasi sport tourism yang semakin diperhitungkan.
Namun, target besar itu tidak boleh berhenti pada pembangunan lapangan, stadion, atau arena olahraga. Sport tourism bukanlah proyek beton. Ia adalah proyek membangun pengalaman.
Selama ini banyak daerah berlomba membangun fasilitas olahraga yang megah. Sayangnya, setelah pita peresmian dipotong, aktivitasnya kembali sepi. Arena menjadi monumen pembangunan yang sesekali dipakai, tetapi gagal menghadirkan perputaran ekonomi yang berkelanjutan. Kesalahan semacam itu jangan sampai terjadi di Semarang.
Olahraga hari ini bukan hanya soal atlet mengejar medali. Marathon, padel, tenis, basket, triathlon, balap sepeda, hingga fun run telah menjadi gaya hidup masyarakat urban. Orang rela terbang ke kota lain hanya untuk mengikuti lomba, berfoto di garis finis, mencicipi kuliner khas, lalu membagikan pengalaman itu ke media sosial. Nilai ekonominya justru lahir dari aktivitas di luar arena pertandingan.
Semarang sebenarnya memiliki modal yang tidak dimiliki banyak kota lain. Lokasinya strategis sebagai simpul transportasi di Pulau Jawa, memiliki kawasan Kota Lama yang berkelas internasional, wisata religi, wisata sejarah, wisata kuliner, pantai, hingga perbukitan yang dapat menjadi rute olahraga alam. Infrastruktur hotel juga relatif memadai untuk menampung ribuan peserta event nasional.
Karena itu, pembangunan sport tourism seharusnya dipandang sebagai integrasi antara olahraga, pariwisata, ekonomi kreatif, dan budaya lokal. Peserta lomba tidak hanya diajak berlari, tetapi juga menikmati lunpia, wingko babat, tahu gimbal, mengunjungi Kota Lama, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, hingga membawa pulang produk UMKM Semarang. Ketika itu terjadi, manfaat ekonomi akan menyebar jauh lebih luas daripada sekadar penjualan tiket pertandingan.
Hadirnya fasilitas olahraga modern dan langkah revitalisasi Stadion Tri Lomba Juang merupakan sinyal positif bahwa Pemkot mulai serius membangun fondasi sport tourism. Tetapi fondasi saja tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana fasilitas tersebut hidup sepanjang tahun melalui kalender event yang konsisten dan berkualitas.
Belajar dari kota-kota yang berhasil mengembangkan wisata olahraga, kekuatan mereka bukan hanya pada stadion, melainkan pada konsistensi penyelenggaraan event.
Kepastian Event
Setiap tahun masyarakat sudah hafal kapan marathon digelar, kapan kejuaraan sepeda berlangsung, kapan festival olahraga komunitas dilaksanakan. Kepastian agenda inilah yang membuat wisatawan menyusun rencana perjalanan jauh hari.
Semarang harus memiliki identitas yang sama. Jangan setiap tahun berganti konsep hanya karena pergantian kepemimpinan atau perubahan kebijakan anggaran. Brand sebuah kota dibangun melalui konsistensi, bukan improvisasi tanpa arah.
Tantangan lainnya adalah pelayanan publik. Sport tourism tidak akan berkembang apabila wisatawan masih dihadapkan pada kemacetan, parkir yang semrawut, trotoar yang tidak ramah pejalan kaki, transportasi umum yang belum terintegrasi, atau kebersihan kawasan wisata yang kurang terjaga.
Pengalaman peserta dimulai sejak mereka turun dari bandara, stasiun, atau terminal, bukan ketika aba-aba pertandingan dibunyikan. Di era digital, satu pengalaman buruk dapat menyebar lebih cepat daripada seratus baliho promosi. Sebaliknya, pengalaman menyenangkan akan menjadi iklan gratis yang jauh lebih efektif dibanding kampanye pemasaran bernilai miliaran rupiah.
Yang juga tidak boleh dilupakan adalah keterlibatan masyarakat. Sport tourism hanya akan berhasil bila warga menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton.
Komunitas olahraga, pelaku UMKM, pengelola hotel, pengusaha transportasi, hingga warga di sekitar lokasi event harus memperoleh manfaat ekonomi secara nyata. Semakin banyak pihak yang merasakan keuntungan, semakin besar pula rasa memiliki terhadap agenda tersebut.
Semarang memang pantas bercita-cita menjadi pusat wisata olahraga. Potensinya besar, infrastrukturnya terus berkembang, dan tren masyarakat terhadap gaya hidup sehat semakin meningkat.
Tetapi cita-cita besar membutuhkan kerja yang lebih besar pula. Yang dibutuhkan bukan sekadar lapangan baru atau stadion yang lebih cantik, melainkan ekosistem yang membuat setiap event menjadi alasan orang datang dan alasan mereka kembali.
Pada akhirnya, sport tourism bukanlah tentang siapa yang tercepat mencapai garis finis. Ukuran keberhasilannya justru terlihat setelah para peserta pulang. Apakah hotel penuh, UMKM laris manis, destinasi wisata ramai, dan nama Semarang semakin melekat sebagai kota tujuan olahraga. Jika jawabannya ya, berarti yang menang bukan hanya para atlet, melainkan seluruh warga kota.
Karena pada era saat ini, kota yang mampu menjual kenangan akan selalu lebih unggul daripada kota yang hanya sibuk membangun panggung. (*)

