BACAAJA, SEMARANG – Massa aksi Jateng Guyub menggelar aksi damai selama tiga hari, mulai Rabu-Jumat (22-24/7/2026), di depan kantor Gubernur Jawa Tengah. Pada hari kedua, massa Jateng Guyub fokus pada perjuangan isu-isu lingkungan.
Warga lereng Gunung Lawu mengaku mulai merasakan perubahan lingkungan yang tak pernah mereka alami sebelumnya. Debit mata air terus menyusut, banjir mulai muncul di kawasan pegunungan, hingga suhu udara yang terasa semakin panas. Kondisi itu membuat penolakan terhadap rencana proyek geothermal kembali menguat.
Keluhan tersebut disampaikan perwakilan Forum Rakyat Peduli Gunung Lawu, Ari Setianto, saat mengikuti aksi Jateng Guyub di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (23/7/2026).
Bacaaja: Dari Orasi ke Irama, Konser Perlawanan di Hari Kedua Aksi ‘Jateng Guyub’
Bacaaja: Massa Jateng Guyub Ruqyah Kantor Gubernur, Tabur Bunga dan Dupa di 8 Penjuru
Ari mengatakan, penolakan terhadap proyek geothermal bukan isu baru. Warga sudah menyuarakan penolakan sejak 2018 ketika proyek masih direncanakan di Tawangmangu. Kini, rencana tersebut bergeser ke Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.
“Selama ini di Lawu ada isu geothermal sejak 2018 dan berpindah-pindah lokasi. Sekarang bergeser ke Jenawi. Kami tetap konsisten menolak karena geothermal sampai sekarang belum bisa menjawab persoalan energi, justru masih menyimpan banyak dampak negatif,” katanya.
Menurut Ari, masyarakat belajar dari berbagai proyek geothermal di daerah lain yang dinilai memunculkan persoalan lingkungan, mulai dari berkurangnya sumber air, turunnya kesuburan tanah hingga munculnya lumpur panas.
Namun yang paling membuat warga khawatir, kata dia, kerusakan lingkungan justru sudah mulai terasa bahkan sebelum proyek geothermal berjalan.
Ia menilai pembangunan destinasi wisata yang semakin masif di lereng Gunung Lawu ikut mengubah kondisi kawasan hijau. Banyak objek wisata dibangun di bagian atas permukiman warga sehingga memengaruhi daya dukung lingkungan.
“Yang sekarang kami rasakan justru dampak dari pembangunan wisata. Debit air berkurang, saat musim hujan sekarang muncul banjir. Padahal daerah kami pegunungan dan dulu tidak pernah banjir. Baru dua tahun terakhir ini terjadi,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Yuni Olen (48), warga Kemuning. Ia mengaku sumber mata air yang selama ini menjadi andalan warga terus mengalami penurunan debit.
Saat musim hujan, air bahkan berubah keruh sehingga tidak lagi layak dikonsumsi. Banjir yang terjadi beberapa waktu lalu juga disebut telah merusak rumah warga.
“Kalau musim hujan sekarang air konsumsi sudah tidak bisa dipakai. Sumber mata air juga turun. Banjir kemarin sampai merusak rumah warga. Yang paling merasakan dampaknya itu perempuan karena mengurus kebutuhan air di rumah,” katanya.
Tak hanya persoalan air, Yuni juga merasakan perubahan suhu di kawasan Tawangmangu. Menurutnya, udara yang dulu identik dengan hawa dingin kini tidak lagi sesejuk beberapa tahun lalu.
Karena itu, warga khawatir jika proyek geothermal tetap dilanjutkan, tekanan terhadap lingkungan di lereng Gunung Lawu akan semakin besar.
“Kami tetap konsisten menolak geothermal sampai kapan pun karena di berbagai daerah proyek seperti ini selalu memunculkan persoalan dan penolakan masyarakat,” tegas Ari. (dul)

