BACAAJA, SEMARANG – Kehadiran Kopdes Merah Putih bukan untuk mematikan BUMDes yang lebih dulu eksis. Keduanya bisa bersinergi untuk kemajuan desa.
Pemprov Jawa Tengah mengingatkan agar kehadiran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) tidak malah bikin persaingan baru di tingkat desa.
Sebaliknya, Kopdes diminta jalan bareng dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) supaya ekonomi desa makin kuat, bukan saling sikut.
Bacaaja: Viral Mobil Kopdes Merah Putih Mogok di Salatiga, Netizen Sorot Kualitas Mahindra Scorpio
Bacaaja: Lewat KDMP, Negara Justru Bersaing dengan Rakyatnya Sendiri
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil (Dispermadesdukcapil) Jateng, Nadi Santoso, mengatakan hampir semua desa di Jawa Tengah sudah punya BUMDes.
Dari 7.810 desa, sebanyak 7.747 desa telah membentuk BUMDes, sementara 63 desa lainnya masih berproses.
Selain itu, 6.696 BUMDes juga sudah mengantongi status badan hukum.
“BUMDes di Jawa Tengah hampir seluruh desa sudah memiliki. Tinggal 63 desa yang belum membentuk BUMDes, sedangkan yang sudah berbadan hukum mencapai 6.696,” kata Nadi, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, kehadiran Kopdes Merah Putih seharusnya bukan untuk mengambil pasar yang sudah dikelola BUMDes. Justru keduanya bisa berbagi peran sesuai kebutuhan desa.
“Harapan kami tidak terjadi tumpang tindih. BUMDes dan koperasi desa harus bisa bersinergi dan saling memperkuat perekonomian desa,” ujarnya.
Nadi memberi contoh, Kopdes bisa berperan sebagai pemasok atau grosir barang, sementara BUMDes menjadi distributor atau mengembangkan unit usaha lain yang sesuai dengan potensi desa.
“Bisa saja koperasi menjadi grosir, kemudian BUMDes mengambil barang dari koperasi. Atau sebaliknya, BUMDes memasok produk ke koperasi. Yang penting keduanya saling mendukung,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan, jangan sampai keberadaan Kopdes justru mematikan usaha yang sudah lebih dulu hidup di desa, baik BUMDes maupun warung dan UMKM milik warga.
“Bukan hanya BUMDes yang harus dijaga, warung-warung dan usaha masyarakat juga jangan sampai terdampak. Ini menjadi pekerjaan rumah agar semua bisa berjalan bersama,” tegasnya.
Nadi menambahkan, Jawa Tengah sudah memiliki sejumlah BUMDes yang sukses menjadi contoh nasional, seperti BUMDes Desa Ponggok dan BUMDes Desa Sidowayah, yang mampu mengembangkan potensi wisata hingga menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes).
Menurutnya, kisah sukses tersebut bisa menjadi inspirasi agar semakin banyak desa membangun usaha yang produktif, mandiri, dan mampu menggerakkan ekonomi lokal tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan pemerintah. (*)

