BACAAJA, MADIUN- Komisi C DPRD Jateng berburu referensi ke Pabrik Gula Rejo Agung Baru, Kota Madiun. Tujuannya bukan sekadar studi banding, tapi mencari formula agar Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sektor pangan di Jateng bisa bekerja lebih efektif.
Salah satu yang jadi perhatian adalah tata kelola kemitraan antara pabrik dan petani tebu yang selama ini dijalankan PG Rejo Agung Baru. General Manager Unit PG Rejo Agung Baru, Imam Nur Slamet menjelaskan, perusahaan mengusung konsep “korporasi berbasis koperasi”.
Baca juga: Petani Tebu Blora Tak Mau Panennya Berakhir Jadi Cerita
Lewat pola ini, petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga menjadi bagian dari sistem produksi yang saling menguntungkan. “Melalui koperasi, produksi tebu dari petani bisa meningkat dan berkelanjutan. KUD bersama mitra petani menyiapkan lahan, membudidayakan tebu, hingga proses tebang, muat, dan angkut,” jelasnya.
Menurut Imam, kapasitas giling pabrik mencapai sekitar 6.000 ton tebu per hari. Pasokan sebesar itu hanya bisa terpenuhi jika hubungan dengan petani berjalan baik dan berkesinambungan. Dengan pola kemitraan tersebut, suplai bahan baku menjadi lebih stabil sehingga produksi gula kristal putih untuk kebutuhan masyarakat tetap terjaga.
Melihat sistem itu, Sekretaris Komisi C DPRD Jateng, Anton Lami Suhadi menilai, konsep serupa layak diterapkan oleh BUMD pangan Jateng, termasuk PT Jateng Agro Berdikari (JTAB).
Rantai Pasok
Menurutnya, kerja sama antara JTAB dan petani melalui pola koperasi bisa menjadi solusi untuk memperkuat rantai pasok komoditas pangan, khususnya tebu.
“Kalau pola seperti ini diterapkan, kinerja BUMD bisa lebih efektif dan efisien. Dampaknya, ketersediaan gula di Jawa Tengah juga lebih terjamin,” ujar Anton.
Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Jateng, Asrar menyoroti dukungan pembiayaan bagi petani. Ia menilai keberadaan koperasi yang memberikan akses pinjaman menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas.
Baca juga: Jateng Siap “Kunci” Lahan Pertanian Lewat Perda
Karena itu, ia mendorong agar BUMD perbankan di Jateng ikut mengambil peran dengan menyediakan skema kredit yang lebih berpihak kepada sektor pertanian dan perkebunan. “Kredit pertanian perlu diperkuat supaya produktivitas pertanian di Jateng ikut meningkat,” katanya.
Sebagai informasi, PG Rejo Agung Baru merupakan unit usaha PT PG Rajawali I, anak perusahaan IDFood, holding BUMN sektor pangan yang selama ini mengelola sejumlah pabrik gula di Indonesia.
Selama ini petani sering diminta meningkatkan produksi. Padahal, yang mereka butuhkan bukan cuma semangat, tapi juga sistem yang berpihak. Sebab, gula memang lahir dari tebu, tapi kesejahteraan petani lahir dari kemitraan yang manis, bukan sekadar janji yang manis. (tebe)

