BACAAJA, SEMARANG – Peringatan Bulan Bung Karno bertajuk “Djarek, Sepekan Bung Karno Dalam Gerak Rupa Suara Sastra” digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang, Selasa (30/6/2026) malam.
Berbagai komunitas seni dan budaya di Kota Semarang berkumpul menghadirkan pertunjukan musik, puisi, hingga teater sebagai bentuk penghormatan kepada Proklamator RI, Bung Karno.
Acara dibuka dengan penampilan seniman asal Lamongan, Rocky, yang tampil solo membawakan gitar dan pianika. Ia menyanyikan empat lagu, di antaranya Ayam Berkokok dan Gerilyawan, yang disambut hangat para penonton.
Bacaaja: Cerita Pilu Megawati: Soeharto Larang Jenazah Bung Karno Dimakamkan di TMP
Bacaaja: Fakta Tersembunyi di Balik 17 Agustus 1945, dari Malaria Bung Karno hingga Naskah di Tempat Sampah
Suasana kemudian semakin semarak dengan penampilan musik reggae dari seniman asal Semarang.
Puncak acara menghadirkan pertunjukan Teater Lingkar Semarang bertajuk “Seronce Melati Bagi Sang Pemimpin Besar Revolusi”. Ia tampil dalam 13 sesi.
Pagelaran Teater Lingkar memadukan musik tradisional Jawa seperti kendang dan bonang dengan instrumen modern, termasuk gitar dan drum. Lagu-lagu yang dibawakan juga menggabungkan nuansa tradisi dan modern sehingga menciptakan pertunjukan yang berbeda.
Ketua panitia, Kelana Siwi Kristianingtyas, mengatakan kegiatan tersebut merupakan inisiatif berbagai komunitas dan lembaga di Kota Semarang untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan Proklamator RI, Sukarno.
“Acara ini kami gelar dari berbagai komunitas dan lembaga yang ada di Kota Semarang ini untuk mengenang Bulan Bung Karno,” kata Kelana.
Menurutnya, peringatan ini penting karena banyak nilai yang pernah digariskan Bung Karno, terutama tentang Pancasila, mulai terabaikan dalam kehidupan berbangsa maupun di tingkat daerah.
“Kami melihat perjalanan negeri ini, baik secara nasional maupun daerah, ternyata di mana-mana kita sudah keluar dari apa yang pernah digariskan Bung Karno, apalagi terhadap Pancasila,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut juga terlihat dari berbagai persoalan yang terjadi di Kota Semarang, termasuk yang menyangkut masyarakat kecil dan dunia kebudayaan.
Karena itu, seni dipilih sebagai medium untuk mengingat kembali gagasan-gagasan Bung Karno tentang persatuan, kebangsaan, dan keberpihakan kepada rakyat.
Djarek, tema yang diusung dalam kegiatan ini merupakan akronim dari Djalannja Revolusi Kita, judul pidato kenegaraan yang disampaikan Presiden Sukarno pada peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus 1960.
Melalui Djarek, para pegiat seni berharap semangat Bung Karno tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga terus hidup lewat karya-karya budaya yang dekat dengan masyarakat. (bae)

