BACAAJA, SEMARANG – Menjelang Hari Buruh Internasional, suara buruh di Jawa Tengah kembali menguat. Isu klasik yang belum kelar-kelar, dari upah layak sampai sistem outsourcing—lagi-lagi jadi sorotan utama.
Koordinator Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (Kasbi) Jawa Tengah, Mulyono, bilang masalah upah masih jadi PR besar tiap tahun.
“Yang paling utama itu soal upah layak. Ini tiap tahun selalu jadi tuntutan karena memang belum ada keseimbangan,” ujarnya dalam diskusi publik “Titik Kumpul 2 SKS”, Rabu (29/04/2026).
Bacaaja: Pengusaha Jateng Tertekan Kenaikan BBM dan Bahan Baku, Produksi Terancam Turun
Bacaaja: Lemparan Batu dan Botol saat Aksi May Day, Berbuah Tuntutan Tiga Bulan Penjara
Nggak cuma soal gaji, praktik outsourcing juga disebut makin bikin resah. Menurut Mulyono, sekarang sistem ini sudah “kelewat batas” karena masuk ke pekerjaan yang sifatnya tetap, bukan lagi sementara.
“Outsourcing sekarang sudah masuk ke pekerjaan yang sifatnya terus-menerus. Ini jelas membahayakan bagi buruh karena tidak ada kepastian kerja,” tegasnya.
Dampaknya? Banyak pekerja hidup dalam ketidakpastian. Sudah kerja lama, tapi status tetap nggak jelas dan minim jaminan masa depan.
Isu lain yang ikut disorot adalah perlindungan buruh saat mengalami kecelakaan kerja. Mulyono menilai, masih banyak pekerja yang belum mendapatkan jaminan hidup yang layak setelah kejadian tersebut.
“Kami ingin pekerja yang mengalami kecelakaan kerja itu dijamin kehidupannya. Jangan sampai setelah tidak bisa bekerja, mereka ditinggalkan begitu saja,” katanya.
Di tengah kondisi ekonomi yang nggak pasti dan dunia kerja yang terus berubah, buruh juga didorong buat adaptasi. Salah satunya dengan punya skill tambahan di luar pekerjaan utama.
Mulai dari pelatihan menjahit, masak, sampai bikin usaha kecil dan koperasi, semua mulai digalakkan sebagai “plan B” buat bertahan.
“Kita dorong kawan-kawan buruh punya usaha sampingan. Ini penting sebagai jaring pengaman kalau terjadi masalah di tempat kerja,” jelasnya.
Meski membawa banyak tuntutan, buruh memastikan peringatan May Day tahun ini tetap berjalan damai. Fokusnya tetap satu: menyuarakan aspirasi tanpa bikin chaos.
“Kita ingin menyampaikan tuntutan dengan baik. Jangan sampai pesan buruh hilang karena kerusuhan,” pungkasnya. (*)

