BACAAJA, SEMARANG – Dunia usaha di Jawa Tengah lagi nggak baik-baik aja. Kenaikan harga BBM plus bahan baku yang makin mahal bikin banyak perusahaan mulai ngos-ngosan buat bertahan.
Ketua Dewan Pertimbangan Apindo Jawa Tengah, Frans Kongi, bilang kondisi ini udah mulai ganggu operasional industri di berbagai sektor. Nggak cuma satu-dua, tapi hampir merata.
“Kenaikan ini sangat terasa. BBM naik, bahan baku seperti plastik juga naik hampir 100 persen. Ini langsung memukul operasional perusahaan,” ujarnya dalam diskusi publik “Titik Kumpul 2 SKS” yang di selenggarakan bacaaja.co, Rabu (29/4/2026), jelang peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day.
Bacaaja: Mobil Avanza Terbakar setelah Isi BBM di SPBU Silayur, Pasutri Panik Lari Tunggang Langgang
Bacaaja: WFH Jumat di Semarang: Bukan Buat Rebahan, Tapi Biar Hemat BBM
Nggak berhenti di situ, situasi makin ribet gara-gara kondisi geopolitik global yang lagi panas. Jalur distribusi energi dunia ikut terganggu, termasuk Selat Hormuz yang jadi salah satu jalur penting pasokan minyak dunia.
Dampaknya? Perusahaan yang sebelumnya udah deal kontrak sama buyer, sekarang dipaksa nego ulang. Masalahnya, negosiasi ulang ini nggak gampang dan sering kali bikin rugi.
“Kita sudah tutup kontrak dengan buyer, tapi tiba-tiba harga naik. Mau tidak mau harus negosiasi ulang. Itu pun tidak gampang karena masing-masing pihak ingin tetap untung,” jelas Frans.
Masalah lain yang nggak kalah krusial: ketergantungan bahan baku impor. Banyak industri di Jateng masih bergantung dari luar negeri. Jadi begitu kondisi global goyang, langsung kena imbasnya.
“Sebagian besar bahan baku kita masih impor dari luar negeri. Ketika kondisi global terganggu, kita langsung terdampak,” katanya.
Kalau kondisi ini terus berlanjut, bukan nggak mungkin produksi bakal dikurangi. Bahkan, opsi pengurangan jam kerja juga mulai dipertimbangkan.
“Kalau keadaan terus seperti ini, produksi pasti dikurangi. Jam kerja juga bisa berkurang,” ujarnya.
Meski begitu, Frans menegaskan PHK bukan jadi pilihan utama. Soalnya, perusahaan juga mikir panjang—karyawan yang sudah terlatih justru aset penting.
“Karyawan itu sudah kita latih, sudah punya skill. Kalau dilepas, justru kita rugi. Jadi PHK itu bukan pilihan utama,” tegasnya.
Sebagai strategi bertahan, perusahaan sekarang lebih fokus ke efisiensi. Mulai dari hemat energi sampai penggunaan bahan baku yang lebih ketat, semua diatur biar tetap bisa jalan.
Di tengah tekanan ini, dunia usaha berharap pemerintah bisa cepat ambil langkah biar kondisi nggak makin berat.
“Kita harapkan kondisi ini tidak berlarut-larut. Dunia usaha butuh kepastian supaya bisa tetap bertahan,” pungkasnya. (*)

