BACAAJA, JAKARTA – Setelah kasus mega korupsi Badan Gizi Nasional (BGN) terbongkar dan puluhan ribu anak keracunan, eh pemerintah baru mengakui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaksanakan tanpa persiapan matang.
Pemerintah, melalui Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan ngakuin, banyak persoalan yang timbul dalam pelaksanaan MBG sebagai program prioritas Presiden Prabowo Subianto karena perencanaan yang tak matang sejak awal.
Kini, setelah berjalan lebih dari setahun, MBG banyak menimbulkan masalah. Banyak pekerjaan rumah (PR) yang belum terselesaikan.
Bacaaja: Kejagung Selidiki Dugaan 100 Dapur MBG Fiktif di Cilacap, dari Kuburan hingga Hutan
Bacaaja: Pengakuan Emak-emak Massa Bayaran Demo Dukung MBG: Dapat Uang Jajan, Seratus
Luhut ngaku, program sebesar MBG seharusnya disiapkan melalui kajian yang komprehensif sebelum dijalankan secara masif. Ia menilai banyak masalah yang terjadi sebenarnya bisa dihindari apabila proses perencanaannya dilakukan lebih baik.
“Masalah kita adalah ide-ide besar presiden tidak kita siapkan perencanaannya yang matang. Itu salah kita semua,” ujar Luhut dalam seminar di kantornya, Kamis (25/6/2026).
Salah satu yang menjadi sorotan adalah pelaksanaan MBG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Berdasarkan evaluasi DEN, ditemukan sejumlah persoalan data dan pelaksanaan di lapangan, bahkan setelah anggaran program sudah dicairkan.
“Karena ini sudah kejadian, enggak bisa dipotong begitu saja. Ternyata banyak data 3T yang enggak benar, padahal uangnya sudah keluar,” katanya.
Meski begitu, Luhut menegaskan pemerintah kini lebih fokus membenahi program daripada terus memperdebatkan kesalahan yang sudah terjadi. DEN pun terus memberikan masukan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) dan kementerian terkait untuk menyempurnakan pelaksanaan MBG.
Menurutnya, DEN telah melakukan kajian di sekitar 800 titik di berbagai daerah untuk memetakan persoalan kemiskinan sekaligus menyusun rekomendasi agar program MBG lebih tepat sasaran.
Luhut menilai pelaksanaan MBG saat ini sudah menunjukkan perbaikan. Tinggal dilakukan penyempurnaan di sejumlah aspek agar manfaat program semakin optimal.
“Saya kira sekarang sudah bagus. Tinggal kita poles kiri-kanan. Dalam setahun ke depan hasilnya akan jauh lebih baik,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif terhadap program tersebut. Menurutnya, pemerintah telah belajar dari berbagai kekurangan yang muncul di tahap awal pelaksanaan.
“Memang kemarin kita langsung jalan besar tanpa piloting. Tapi sekarang perbaikan terus dilakukan dan BGN juga sangat terbuka menerima masukan,” pungkasnya. (*)

