BACAAJA, SEMARANG- Bus Trans Semarang bukan sekadar transportasi umum. Bagi Erli (22), armada berwarna merah itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya sebagai mahasiswa yang harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain di Kota Semarang.
Saking seringnya menggunakan BRT, dirinya mengaku dalam sehari bisa naik bus hingga enam kali saat jadwal kuliah dan kegiatannya sedang padat. “Kalau lagi sibuk banget bisa sampai enam kali naik bus dalam sehari,” katanya, Kamis (25/6/2026).
Tidak memiliki kendaraan pribadi membuat Erli mengandalkan Trans Semarang untuk beraktivitas. Dari kampus, kos, hingga berbagai sudut kota, semuanya ia tempuh menggunakan BRT. Seiring waktu, ia bahkan sudah hafal jalur-jalur transit yang harus dilalui untuk mencapai tujuan.
Meski menjadi pengguna setia, Erli mengaku masih menemukan sejumlah hal yang membuatnya geregetan. Salah satunya ketika bus yang ditunggu justru melaju begitu saja tanpa berhenti di halte.
Baca juga: BRT Semarang Mulai Ganti Napas, 41 Bus Baru Sudah Jalan
“Kadang sudah nunggu lama, busnya malah lewat. Padahal enggak penuh. Itu yang bikin kesal karena kita sudah menunggu cukup lama,” ujarnya. Selain itu, ia juga menyoroti kondisi beberapa armada lama yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian lebih.
Mulai dari AC yang tidak berfungsi maksimal, kebersihan bus yang kurang terjaga, hingga pengeras suara pemberitahuan halte yang terkadang tidak menyala.
Di tengah rencana pengembangan bus listrik di Trans Semarang, Erli mengaku menyambut baik program tersebut. Baginya, keberadaan bus listrik bisa menjadi solusi untuk mengurangi polusi yang selama ini masih terasa dari sejumlah armada berbahan bakar solar.
“Kalau memang bisa mengurangi asap hitam yang sering keluar dari bus, tentu bagus. Soalnya asap itu bukan cuma mengganggu penumpang, tapi juga pengendara lain dan pejalan kaki,” tuturnya.
Mengurangi Pencemaran
Sementara bagi Balya Muhammad Musthofa (24), seorang pekerja yang juga rutin menggunakan layanan Trans Semarang, bus listrik merupakan langkah yang patut didukung karena dapat membantu mengurangi pencemaran udara di jalanan Kota Semarang.
“Kalau melihat kondisi sekarang, memang masih ada bus yang asap knalpotnya cukup mengganggu. Jadi menurut saya program bus listrik ini bagus dan layak didukung,” kata Balya.
Meski demikian, Balya berharap perubahan yang dilakukan tidak hanya berhenti pada pergantian armada. Sebagai pengguna, ia menilai ketepatan waktu dan kenyamanan perjalanan masih menjadi kebutuhan utama yang harus dibenahi.
“Yang paling penting buat saya itu tepat waktu. Orang yang naik transportasi umum kan biasanya punya tujuan dan jadwal masing-masing. Kalau harus menunggu terlalu lama juga kurang nyaman,” ujarnya.
Baca juga: Transportasi Hijau? Semarang Pilih Bus Listrik!
Baik Erli maupun Balya sama-sama berharap hadirnya bus listrik menjadi awal perbaikan layanan Trans Semarang secara menyeluruh. Mereka ingin transportasi publik tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga lebih nyaman, bersih, terawat, dan dapat diandalkan oleh masyarakat setiap hari.
Sebab bagi pengguna seperti Erli, yang bisa menghabiskan sebagian besar harinya di dalam bus, kualitas pelayanan menjadi hal yang sama pentingnya dengan inovasi transportasi yang sedang dibangun pemerintah.
Bus boleh berganti listrik, teknologi boleh makin canggih. Tapi kalau penumpang masih dibuat menunggu tanpa kepastian atau bus tetap melaju tanpa berhenti di halte, yang berubah mungkin cuma sumber energinya, bukan kualitas pelayanannya. (dul)

