BACAAJA, SEMARANG – Warga yang tinggal di kawasan pesisir Semarang dan Demak kembali mengingatkan pemerintah agar pembangunan tembok laut raksasa atau Giant Sea Wall Pantura Jawa benar-benar berpihak pada masyarakat.
Mereka khawatir proyek raksasa itu justru lebih banyak menguntungkan pemilik modal dibanding warga yang selama ini hidup berdampingan dengan banjir rob dan amblesan tanah.
Sikap itu disampaikan Aliansi Rakyat Miskin Semarang Demak (ARMSD), jaringan warga dari kampung-kampung pesisir yang selama bertahun-tahun terdampak rob dan penurunan tanah.
Baca juga: ARMSD Ingatkan Giant Seawall Bisa Jadi Bumerang
Koordinator ARMSD, Ahmad Marzuki, mengatakan warga pesisir seharusnya menjadi kelompok yang paling didengar dalam proses perencanaan Giant Sea Wall. Menurutnya, pembahasan proyek selama ini lebih banyak menyoroti pemerintah, akademisi, dan lembaga pengelola pendanaan.
“Menurut kami, kelompok yang tak kalah penting untuk terlibat dalam proyek ini adalah kami, warga yang tinggal di Pantura Jateng,” kata Marzuki melalui keterangan tertulis yang dikutip Minggu, (21/6/2026).
ARMSD menilai keterlibatan akademisi memang penting. Namun mereka berharap akademisi yang dilibatkan benar-benar membawa kepentingan masyarakat pesisir, bukan hanya mendukung proyek dari sisi teknis.
Pemodal Besar
Selain soal partisipasi warga, ARMSD juga mengingatkan adanya potensi kepentingan lain di balik pembangunan Giant Sea Wall. Mereka menilai istilah kepentingan rakyat kerap dipakai sebagai alasan, padahal manfaat terbesar justru bisa dinikmati kelompok pemodal besar.
“Nama rakyat dijual-jual, dioper ke sana kemari, tapi sebenarnya di balik itu ada kepentingan lain yang menjadi penumpang gelap, yaitu kepentingan para pemodal,” tegas Marzuki.
Menurut ARMSD, keberadaan Giant Sea Wall berpotensi memberi keuntungan besar bagi pemilik kawasan industri dan lahan reklamasi di sepanjang Pantura. Apalagi di sejumlah wilayah pesisir, sebagian besar lahan sudah dikuasai perusahaan-perusahaan besar.
Baca juga: Proyek Giant Sea Wall Pantura Dimulai
Mereka mencontohkan kondisi di Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Di kawasan itu, banyak lahan pesisir yang sudah berada di tangan pemodal sehingga manfaat pembangunan Giant Sea Wall dikhawatirkan lebih banyak dirasakan kalangan investor dibanding masyarakat pesisir.
Karena itu, ARMSD meminta pemerintah memastikan pembangunan Giant Sea Wall tidak hanya melindungi investasi dan aset bisnis. Mereka berharap proyek tersebut benar-benar menjawab kebutuhan warga yang selama ini menghadapi ancaman rob dan amblesan tanah.
Tembok laut mungkin bisa menahan air. Tapi yang paling sulit ditahan adalah pertanyaan warga: kalau airnya dibendung, apakah manfaatnya juga ikut berhenti di pintu proyek, atau benar-benar sampai ke rumah-rumah yang terendam? (bae)

