Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Bapenda: Pajak Hiburan 40 Persen Amanat UU, Pemkot Sudah Beri Masa Transisi bagi Pelaku Usaha
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Ekonomi

Bapenda: Pajak Hiburan 40 Persen Amanat UU, Pemkot Sudah Beri Masa Transisi bagi Pelaku Usaha

Pemerintah Kota Semarang menegaskan penerapan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) sebesar 40 persen untuk penjualan minuman beralkohol di sektor hiburan bukan kebijakan baru yang dibuat daerah.

T. Budianto
Last updated: Juni 20, 2026 2:13 pm
By T. Budianto
5 Min Read
Share
SOSIALISASI PBJT: Kegiatan sosialisasi Pengenaan Tarif PBJT yang dihadiri pelaku usaha yang tergabung dalam Pagersemar dan Bapenda Kota Semarang di Red Here Semarang, belum lama ini. (Foto: tebe)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG– Pemkot Semarang merespons keberatan sejumlah pengusaha hiburan yang tergabung dalam Paguyuban Pengusaha Hiburan Semarang (Pagersemar) terkait penerapan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) sebesar 40 persen.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Semarang, Diah Supartiningtias menegaskan, kebijakan tersebut bukan merupakan keputusan sepihak pemerintah daerah, melainkan pelaksanaan amanat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (HKPD).

Berdasarkan Pasal 58 ayat (2) UU HKPD, tarif PBJT atas jasa hiburan berupa diskotek, karaoke, kelab malam, bar, dan mandi uap atau spa ditetapkan paling rendah 40 persen dan paling tinggi 75 persen. “Atas amanah undang-undang tersebut, Pemerintah Kota Semarang menetapkan tarif paling rendah, yakni sebesar 40 persen,” kata Diah.

Ketentuan tersebut kemudian dituangkan dalam Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 10 Tahun 2023 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, yang secara tegas menetapkan tarif PBJT jasa hiburan tertentu sebesar 40 persen.

Baca juga: Pajak 40 Persen Bikin Pengusaha Hiburan Deg-degan

Selain itu, pengenaan pajak terhadap penjualan minuman beralkohol juga telah diatur dalam Peraturan Wali Kota Semarang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Peraturan Wali Kota Nomor 28 Tahun 2024 mengenai Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Pajak Daerah.

Dalam aturan tersebut ditegaskan bahwa penyajian minuman beralkohol di restoran, hotel maupun tempat hiburan dikenakan tarif khusus PBJT jasa hiburan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Meski demikian, Diah mengatakan pemerintah tetap memperhatikan keberlangsungan dunia usaha. Sebelum kebijakan diterapkan penuh, Bapenda telah melakukan sosialisasi, pendampingan teknis, hingga memberikan stimulus berupa pengurangan beban pajak selama masa transisi.

Stimulus tersebut diberikan sebesar 50 persen sepanjang 2025 hingga Juni 2026, kemudian sebesar 25 persen untuk periode Juli hingga Desember 2026.

“Kebijakan transisi ini diberikan agar pelaku usaha memiliki waktu yang cukup melakukan penyesuaian sistem usaha maupun administrasi perpajakannya,” ujarnya.

Menurut Diah, penerapan tarif 40 persen juga tidak dilakukan secara tiba-tiba. Pemerintah lebih dahulu melakukan harmonisasi regulasi daerah, penyesuaian sistem administrasi perpajakan, serta koordinasi dengan para pelaku usaha agar implementasinya berjalan tertib.

Kepastian Hukum

Ia menegaskan, tujuan utama kebijakan tersebut bukan semata-mata meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), melainkan memberikan kepastian hukum sekaligus memastikan seluruh wajib pajak diperlakukan secara adil sesuai ketentuan nasional.

“Pemerintah Kota Semarang menjalankan amanat undang-undang. Tujuan utamanya bukan mengejar PAD, tetapi memastikan kepastian hukum dan keadilan perpajakan,” katanya.

Terkait kekhawatiran pelaku usaha terhadap potensi penurunan omzet maupun daya beli masyarakat, Diah mengatakan pemerintah memahami kondisi tersebut. Karena itu, komunikasi dengan berbagai asosiasi usaha, mulai dari hotel, restoran, karaoke, bar hingga pelaku hiburan telah dilakukan sejak awal.

Ia juga menegaskan bahwa pada prinsipnya pajak daerah merupakan beban konsumen sesuai ketentuan perpajakan, sedangkan pelaku usaha hanya berfungsi sebagai pihak yang memungut dan menyetorkan pajak kepada pemerintah daerah.

Menanggapi adanya perbedaan tarif antara minuman beralkohol dan makanan atau minuman nonalkohol, Diah menjelaskan hal itu telah diatur langsung dalam UU HKPD.

Baca juga: Hiburan Makin Ngegas, Tapi Pajak Bikin Deg-degan

Minuman beralkohol dikenakan tarif khusus sebesar 40 hingga 75 persen, sedangkan makanan dan minuman nonalkohol tetap dikenakan PBJT sebesar 10 persen. “Pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan menetapkan tarif di bawah batas minimum yang telah ditentukan undang-undang,” tegasnya.

Dalam pelaksanaannya nanti, Bapenda akan memperkuat pengawasan melalui sistem pelaporan pajak berbasis digital. Seluruh pelaku usaha diwajibkan melakukan pemisahan transaksi atau split bill antara penjualan minuman beralkohol dan nonalkohol agar pengenaan tarif dilakukan secara tepat.

Apabila ditemukan ketidaksesuaian pelaporan maupun upaya penghindaran pajak, pemerintah dapat melakukan pemeriksaan serta menjatuhkan sanksi administratif sesuai ketentuan yang berlaku.

Diah menambahkan, Pemkot Semarang tetap berkomitmen menjaga keseimbangan antara optimalisasi penerimaan daerah, kepastian hukum, iklim investasi, serta pengembangan sektor pariwisata.

“Kami akan terus membuka ruang komunikasi dengan pelaku usaha, asosiasi, dan masyarakat agar implementasi kebijakan ini berjalan efektif tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkasnya. (tebe)

You Might Also Like

Ziarah ke Makam Kartini: Perempuan Nggak Cukup Pintar, Harus Punya Arah

Ancaman Pangan hingga Kesehatan, Kemarau Bikin Rawan Gagal Panen dan ISPA Meningkat

Mahfud MD Ungkap Mark-up Proyek Kereta Cepat Whoosh, Singgung Jokowi

Wali Kota Semarang: Jadi Pemimpin Itu Bukan Cuma Gagah, Tapi Juga Rajin Baca!

Menteri LH: Maaf, Belum Ada yang Lulus Adipura 2025

TAGGED:bapenda kota semarangheadlinepagersemarpbjt 40%
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article PENUMPANG KERETA - Ilustrasi penumpang kereta api baru saja turun dari kereta di stasiun wilayah Daop 4 Semarang. (ist) 19 Penumpang KA Diturunkan Paksa, Nekat Merokok di Dalam Gerbong Kereta
Next Article Piala Dunia Selalu Punya Cara Menyatukan Banyak Orang

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

MINTA MAAF--Dokter Benny C. Sihombing meminta maaf usia berkomentar sinis di media sosial terhadap warganet yang curhat soal layanan pengguna BPJS. (ist)

Dokter Penghujat Pasien BPJS Ramai-ramai Bilang Maaf setelah Korban Meninggal Dunia

TILANG - Ilustrasi polisi lalu lintas (Polantas) melakukan tilang manual terhadap pengendara yang melanggar aturan lalu lintas.

Polisi Kembali Berlakukan Tilang Manual? Kakorlantas Bilang Begini

PASIEN BPJS MENINGGAL - Ucapan duka cita atas kabar meninggalnya Yurizal Tri Chaerawan. (ist)

Viral Keluhan Pasien BPJS Ditanggapi Sadis Dokter hingga Korban Meninggal, RSUP dr Sardjito Buka Suara

Penduduk Indonesia Tembus 290 Juta Jiwa

Nyaris Batal Berangkat, Tim POTBI Jateng Pulang Bawa Gelar Juara

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Fokus

WFH atau “Weekend Tipis-Tipis”? Produktivitas Dipertanyakan

April 7, 2026
PIMPINAN LEGISLATIF - Wakil Ketua DPRD Jateng dari Fraksi Golkar, M Saleh.
Ekonomi

Apresiasi Program Speling, Saleh: Perluas hingga Masuk Desa Terpencil

Juni 11, 2026
Info

WFH di Jateng Belum Fix

Maret 25, 2026
PASAR TERBAKAR--Pedagang dan warga melihat lapak yang terdampak kebakaran Pasar Modern BSB, Minggu (26/7/2027). (ist)
Info

Pasar Modern BSB City Semarang Terbakar, 50 Kios Terdampak

Juli 26, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Bapenda: Pajak Hiburan 40 Persen Amanat UU, Pemkot Sudah Beri Masa Transisi bagi Pelaku Usaha
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?