BACAAJA, ENDE – Suasana di SDN Wolomoni, Desa Niawula, Kabupaten Ende, NTT, mendadak tegang, Sabtu (6/6/2026). Orang tua murid, guru, sampai warga adat turun langsung ke sekolah buat menolak dugaan penggusuran paksa area sekolah.
Aksi penolakan itu viral usai videonya ramai beredar di media sosial. Salah satunya diupload oleh akun Instagram @wajah_indonesia.
Dalam video tersebut, warga terlihat berusaha menghalau proses pembongkaran yang disebut bakal dipakai untuk pembangunan gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Bacaaja: Bangunan KDMP Tutup Jalan Umum, Dandim Temanggung Ajak Warga Iuran Bikin Jalan Baru
Bacaaja: Dampak KDMP! Dana Desa di Jateng Susut Parah, Sekitar 70 Persen
Banyak warga mengaku nggak habis pikir kenapa area sekolah justru jadi sasaran proyek pembangunan.
Buat mereka, pendidikan anak-anak seharusnya jadi prioritas utama, bukan malah dikorbankan.
Menurut keterangan warga setempat, para guru, orang tua murid, hingga tokoh adat atau Mosalaki berkumpul di lokasi untuk mempertahankan lingkungan sekolah.
“Saat ini mereka sudah lakukan perusakan sekolah, yang ikut melakukan salah satunya anggota Babinsa,” ujar seorang warga dalam video yang beredar.
Warga juga menyebut aksi penggusuran itu diduga dilakukan atas perintah pemerintah daerah. Namun saat ditanya soal surat izin atau dasar pembongkaran, warga mengaku belum mendapat jawaban yang jelas.
Kasus ini langsung memancing reaksi keras netizen. Kolom komentar media sosial dipenuhi kritik soal pembangunan yang dianggap lebih mementingkan proyek dibanding pendidikan anak-anak.
Nggak sedikit juga yang menyoroti dugaan keterlibatan oknum aparat di lokasi kejadian.
Beberapa netizen bahkan ramai-ramai menandai akun pejabat negara dan instansi pemerintah supaya kasus ini mendapat perhatian lebih luas.
Di sisi lain, publik juga mulai mempertanyakan prioritas pembangunan yang dinilai nggak berpihak pada dunia pendidikan.
Apalagi sebelumnya sempat ramai soal kondisi sekolah di beberapa daerah yang masih minim fasilitas, bahkan ada murid yang harus belajar di bawah pohon.
Sampai sekarang, polemik dugaan penggusuran SDN Wolomoni masih terus jadi sorotan publik.
Warga berharap pemerintah daerah maupun pusat segera turun tangan dan mencari solusi supaya aktivitas belajar mengajar anak-anak nggak terganggu. (*)

