BACAAJA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah makin nggak baik-baik aja. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026) pagi, rupiah kembali ambruk hingga nyaris menyentuh Rp18 ribu per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 10.13 WIB, rupiah melemah 0,49 persen ke posisi Rp17.926 per dolar AS.
Angka ini bikin rupiah jadi mata uang dengan pelemahan paling dalam di kawasan Asia pagi ini.
Bacaaja: Saat Rupiah Terus-terusan Nyungsep, Presiden Prabowo Buka Kran Impor Pangan dari Prancis
Bacaaja: Rupiah Lagi Goyang, Omongan Desa Tanpa Dollar Malah Ramai
Setelah rupiah, mata uang Asia yang ikut melemah adalah ringgit Malaysia yang turun 0,25 persen. Disusul baht Thailand minus 0,09 persen, yuan China turun 0,05 persen, dan peso Filipina melemah 0,02 persen.
Sementara beberapa mata uang Asia lainnya justru masih sanggup bertahan di zona hijau. Dollar Taiwan naik 0,12 persen, won Korea Selatan menguat 0,07 persen, dan yen Jepang naik tipis 0,04 persen.
Melemahnya rupiah terjadi di tengah tekanan pasar global yang masih tinggi. Meski indeks dollar AS (DXY) sedikit turun ke level 99,20, tekanan terhadap mata uang negara berkembang masih terasa kuat.
Nggak cuma rupiah, pasar saham Indonesia juga ikut kena imbas.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung dibuka di zona merah dan terus tertekan sepanjang pagi.
Per pukul 09.58 WIB, IHSG turun 72 poin atau 1,17 persen ke level 6.123.
Tekanan jual terlihat mendominasi pasar sejak awal perdagangan. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 523 saham turun, sementara cuma 135 saham yang naik.
Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia juga cukup ramai. Volume perdagangan tercatat mencapai 10,64 miliar saham dengan nilai transaksi Rp6 triliun lebih.
Pelemahan rupiah kali ini kembali memunculkan kekhawatiran publik, terutama karena posisi kurs sudah makin dekat ke level psikologis Rp18 ribu per dolar AS. (*)

