Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Matinya Altruisme?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Matinya Altruisme?

Redaktur Opini
Last updated: Juni 3, 2026 9:08 am
By Redaktur Opini
7 Min Read
Share
SHARE

Made Supriatma, peneliti di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.

Hidup sosial, politik, dan bahkan keagamaan kita, diatur oleh pemikiran transaksional yang sama. Diatur oleh keserakahan yang sama.

 

Serangan terhadap film dokumenter Pesta Babi karya Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono datang dari semua arah. Belum lama yang lalu, beredar video Mama Yasinta yang mengatakan dia tidak mengijinkan video dirinya dipakai dalam dokumenter ini.

Seperti yang dikatakan oleh dua sutradara film ini, kita tidak tahu apa yang terjadi pada Mama Yasinta di pedalaman Papua sana. Kalau pun Mama Yasinta memilih untuk berbalik posisi, apa yang bisa kita lakukan? Bukankah inti dari film ini adalah bahwa semua orang adalah “agency” atau subyek bagi dirinya sendiri?

Film ini ingin memberikan kesempatan bagi Mama Yasinta dan orang-orang seperti dirinya untuk bisa bersuara. Selama ini mereka tidak punya suara. Film dan kerja-kerja pemberdayaan yang dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil bertujuan untuk memberi kesempatan bagi orang seperti Mama Yasinta bersuara.

Intinya adalah bagaimana orang-orang yang tidak bisa bersuara ini bisa memiliki suara. Orang-orang yang dikalahkan memiliki kekuatan. Dan mereka yang tersingkir, tidak dianggap, memiliki kekuatan supaya juga diperhitungkan.

Kemudian, ada serangan terhadap orang-orang yang membantu mereka yang terpinggirkan ini. Orang yang mencoba menyampaikan suara-suara bisu dan dibisukan ini. Tentu ini klasik: shoot the messenger! Hantam mereka yang menyampaikan pesannya.

Serangan terhadap orang-orang yang membantu Mama Yasinta dan komunitasnya ini sangat marak akhir-akhir ini. Tidak saja dia datang dari para influencer atau buzzer. Ia juga datang dari jendral, pejabat, hingga uskup agung!

Salah satu yang klasik adalah seperti yang dikatakan oleh Kasad Jendral Maruli Simanjuntak. “Bikin film kan mahal? Dari mana uangnya?” Si uskup agung, yang tampak sekali belum menonton filmnya tapi sudah berkomentar, juga menanyakan hal yang sama. Siapa yang memberi dana? Bahkan lebih dari Kasad yang militer, uskup agung ini bertanya jangan-jangan film ini bertujuan untuk melepas Papua dan menyerahkannya kepada satu negara adidaya.

Para buzzer pun sibuk mengulik berbagai data dan berusaha menghubungkan film dengan konspirasi dana asing. Tujuannya jelas: bahwa film ini adalah bagian dari konspirasi dan pembuatnya adalah antek-antek asing. Serangan terhadap the messenger ini tentu bertujuan untuk mengaburkan message yang ingin disampaikan. Artinya, serang pembawa pesannya supaya pesannya itu sendiri tidak sampai.

Dalam pengertian ini, semua messengers seperti para sutradara, kru film, orang-orang yang ada di film, semua mereka adalah bagian dari konspirasi asing ini. Mama Yasinta dalam hal ini hanya alat. Sebelum ini Mama Yasinta sangat aktif menyuarakan hak-hak masyarakat adat. Dia ke Jakarta untuk ikut gugatan masyarakat sipil atas Proyek Strategis Nasional. Dia bahkan ada di Jayapura saat launching film Pesta Babi ini. Namun, kemudian dia berbalik arah. Para buzzer beramai-ramai mengunggah video bahwa sekarang dia mendukung Proyek Strategis Nasional di Merauke!

Sekali lagi, sejauh ini kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Mama Yasinta. Namun, apa pun posisi Mama Yasinta sekarang, apakah itu akan menghapus malapetaka ekologis, sosial, dan ekonomi yang diakibatkan oleh PSN?

Satu persoalan yang selalu menggoda pikiran saya adalah mengapa selalu saja kerja-kerja seperti ini, yang berusaha memberikan hak kepada mereka yang dihilangkan haknya, suara kepada mereka yang dibisukan, tongkat kepada mereka yang dilumpuhkan, selalu berusaha dijatuhkan oleh soal uang? Siapa yang mendanai proyek ini? Ah, ini pasti bagian dari skema menjatuhkan Indonesia!

Ini terjadi karena, menurut saya, mereka tidak memiliki argumen apa pun untuk menunjukkan yang sebaliknya. Fakta di lapangan bicara kuat sekali: ribuan bulldozer dan puluhan ribu tentara diterjunkan untuk menggusur hutan-hutan dan penduduk yang ada di dalamnya.

Kemudian, mengapa mereka sangat terobsesi pada uang? Pada siapa yang mendanai? Sederhana saja menurut saya: mereka memang beroperasi di wilayah itu. Sistem sosial dan politik kita sangat transaksional. Orang memilih karena bansos atau amplop. Orang menjabat karena mampu menyediakan uang. Bahkan orang menjadi tentara atau polisi karena membayar. Untuk naik jabatan juga harus membayar.

Di negeri kita ini tidak ada altruisme—orang yang rela berkorban untuk orang lain tanpa mengharap balasan apa pun. Para agamawan rajin menyerukan ini: demi surga. Para pejabat khususnya di masa Orde Baru rajin berujar “tanpa pamrih” yang lebih berlaku untuk orang lain bukan diri sendiri.

Film ‘kan mahal, siapa yang bayar? Itu pertanyaan seorang jendral yang kekayaannya sangat fantastis. Dan para buzzer yang jelas dibayar itu berusaha membongkar siapa yang mendanai film ini. Bahkan pertanyaan itu keluar dari Uskup Mandagi, Uskup Agung! Mandagi pernah marah-marah karena kalangan gereja-gereja Kristen dan Katolik di Papua menyerukan ketidaksetujuan terhadap PSN. Dia bilang, PSN memberikan pekerjaan untuk orang Papua. Supaya orang Papua bisa makan nasi.

Tidak ada dalam pikiran si uskup ini bahwa makan sagu, patatas, atau keladi itu sama terhormatnya dengan makan nasi. Mandagi pun otak dan pemikirannya sama seperti mereka yang terobsesi dengan uang ini. Pada 2021, dia menerima Rp 2,4 milyar dari anak perusahaan Korindo group. Dan, perusahaan yang dimaksud juga ada dalam film Pesta Babi.

Jadi, demikianlah saudara-saudara. Hidup sosial, politik, dan bahkan keagamaan kita diatur oleh pemikiran transaksional yang sama. Diatur oleh keserakahan yang sama. Bajunya saja yang berbeda-beda: safari putih pejabat, seragam militer, dan jubah uskup!

Sehingga ketika ada orang-orang yang mau bertindak altruistik, untuk mereka itu anomali. Bahkan dianggap ancaman atas stabilitas uang yang menjadi dunia mereka. Sehingga mereka melihat dunia yang penuh konspirasi: ada kekuatan asing yang ingin menguasai kekayaan yang dalam pikiran serakah mereka adalah monopoli mereka.

Saya percaya, altruisme tidak mati. Anda yang nobar dan diskusi Pesta Babi, Anda yang menyuarakan ketidakadilan yang dialami Andrie Yunus, Anda yang berdiri bersama orang-orang yang digusur, dan lain sebagainya menunjukkan itu.

Terakhir, saya menonton wawancara Uskup Mandagi (cari sendiri di media online) di mana dia mendoakan mereka yang mengkritik dirinya dan keuskupan yang dia pimpin, “Supaya kita bersama masuk surga,” katanya. Yakin mau berbagi surga dengan orang seperti Uskup Mandagi? Saya sih pilih masuk neraka. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Bagaimana Orang Jawa Mengungkapkan Rasa Cinta

Tobatlah Kalian yang Mengaku Seniman!

Sihir Media Sosial dan Otak yang Pelan Tapi Pasti Menjadi Tumpul

Dari Rob sampai COP: Dilema-Dilema Keadilan Iklim

Degradasi Organisasi Mahasiswa: Hidup Segan Mati Tak Mau!

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Saat Difabel Boyolali Minta Akses, Bukan Iba
Next Article Ekspor Ngebut, Cabai Ikut Melambung

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

EVAKUASI BARANG BUKTI - Polisi mengevakuasi sepeda motor N-Max yang mengalami kecelakaan menabrak truk yang sedang diparkir di pinggir jalan, di Jalan Arteri Yos Sudarso, kawasan Cipta, Bandarharjo, Semarang Utara, Rabu (3/6/2026). (dul)

Niat Menepi Buat Istirahat, Truk yang Dikemudikan Broto Jadi Sasaran Tabrak N-Max

PUTUSAN SELA--Majelis hakim membacakan putusan sela kasus TPPU terdakwa Gus Yazid di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (3/7/2026). (bae)

TPPU Korupsi BUMD Cilacap: Eksepsi Kandas, Gus Yazid Bersiap Hadapi Saksi dan Bukti Jaksa

LAYANI PELANGGAN--Pelanggan warteg melayani pembeli di Semarang, Rabu (3/7/2026). (bae)

Dolar Melesat Rupiah Ambruk, Pelanggan Warteg Mulai Tinggalkan Lauk Ayam

BERI KETERAGAN - Kepala Dinkes Semarang, Abdul hakam, memberi keterangan kepada sejumlah awak media. (dul)

Jangan Jauhi ODHIV, Dinkes Semarang: HIV Nggak Nular dari Salaman atau Makan Bareng

Jalur Prestasi Kini Punya Racikan Baru, TKA Ikut Menentukan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Menimbang Keadilan Upah di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

November 10, 2025
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membentuk Tim Transformasi Reformasi Kepolisian di saat Presiden Prabowo juga sedang membentuk Tim Reformasi Kepolisian dari eksternal kepolisian. Foto: dok.
Opini

Polisi Masa Kini: Antara Transformasi Serius dan Upgrade Aplikasi yang Masih Loading

September 15, 2025
Opini

Eksistensi Sedekah Bumi di Tengah Hegemoni Budaya Industri

Mei 11, 2026
Opini

Bisakah Kita Memulai Revolusi dari Secangkir Kopi?

April 6, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Matinya Altruisme?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?