Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Melepaskan Belenggu Validasi di Media Sosial
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Melepaskan Belenggu Validasi di Media Sosial

Redaktur Opini
Last updated: Desember 9, 2025 9:05 am
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Abdullah Ulul Albab, mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, UIN Walisongo Semarang.

Melepaskan validasi bukan berarti jadi egois atau tidak peduli sama sekali dengan orang lain. Ini tentang menempatkan diri sendiri di prioritas utama.

 

Pernahkah kamu bertanya pada diri sendiri: “Apakah saya sudah benar-benar jadi diri sendiri, atau cuma versi yang orang lain mau lihat?” Pertanyaan itu sering mengganjal di kepala saat kita scrolling media sosial, melihat teman memamerkan foto saat liburan mewah, tubuh ideal, atau gaya hidup yang seolah sempurna.

Tanpa sadar, kita mulai membandingkan, meniru, lalu lupa siapa kita sebenarnya. Inilah belenggu validasi, yaitu kebutuhan untuk selalu disetujui orang lain, yang membuat kita justru kehilangan identitas.

Manusia memang makhluk sosial, tapi ketergantungan pada “like”, komentar positif, dan pujian sudah kelewatan. Kita memilih baju bukan karena nyaman, tapi karena “pasti banyak yang suka foto ini”. Kita memilih jurusan kuliah bukan karena minat, tapi karena “orang tua bangga”.

Kita bahkan mengubah cara bicara, tertawa, atau menangis agar terlihat lebih “acceptable”. Hasilnya? Kita jadi asing dengan diri sendiri. Wajah di cermin masih sama, tapi hati terasa kosong.

Fenomena ini semakin parah di era media sosial. Banyak sekali yang hidup dengan FOMO (fear of missing out) terhadap budaya, penampilan, hingga gaya hidup dari orang lain. Takut ketinggalan tren, takut tidak terlihat keren, takut dikira kuno.

Beberapa orang bahkan rela begadang edit foto, belanja barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, atau pura-pura bahagia di story hanya agar tidak dianggap “gagal hidup”. Kita membingkai realitas sendiri (framing) supaya terlihat lebih indah di mata orang lain, padahal di dalamnya kita lelah sekali.

Lalu, bagaimana cara lepas dari belenggu ini?

Saya megutip dari pemikiran Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialisme Prancis. Menurutnya, kebebasan manusia itu absolut. Kita mungkin tidak bisa memilih dilahirkan, tidak bisa memilih orang tua, tidak bisa memilih masa lalu. Tapi kita selalu punya kebebasan untuk memberi makna pada hidup kita.

Setiap detik, kita memilih: mau ikut arus atau berenang melawan arus. Pilihan itu mutlak milik kita, tidak bisa diambil orang lain, tidak bisa disalahkan pada keadaan.

Sartre juga mengingatkan, kebebasan absolut ini datang bersama tanggung jawab total. Kalau kita memilih menjalani hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain, maka kita sendirilah yang bertanggung jawab atas rasa hampa itu. Tidak bisa menyalahkan orang tua, teman, pacar, apalagi algoritma media sosial.

Semua konsekuensi, termasuk rasa cemas yang menusuk ketika kita sadar “ini bukan aku”, adalah buah dari pilihan kita sendiri. Sartre menyebut rasa cemas itu dengan istilah anguish, kecemasan eksistensial.

Awalnya memang menakutkan. Ketika kita berhenti mencari validasi, dunia terasa sepi. Tidak ada lagi pujian instan, tidak ada lagi “kamu hebat” dari orang lain. Tapi justru di saat itulah kita mulai mendengar suara diri sendiri yang selama ini tenggelam oleh kebisingan pendapat orang lain.

Kita mulai bertanya: “Aku suka warna apa? Aku nyaman pakai baju model begini? Aku sebenarnya mau jadi apa?” Melepaskan validasi bukan berarti jadi egois atau tidak peduli sama sekali dengan orang lain. Ini tentang menempatkan diri sendiri di prioritas utama.

Ketika kita sudah utuh sebagai manusia, baru kita bisa memberi yang tulus kepada orang lain: bukan karena ingin dipuji, tapi karena memang itu yang kita mau.

Mulai hari ini, cobalah satu langkah kecil. Pakai baju yang kamu suka meski tidak sedang tren. Unggah foto tanpa filter kalau memang itu wajah aslimu. Katakan “tidak” pada undangan yang sebenarnya tidak kamu inginkan.

Rasakan kecemasan itu datang, lalu biarkan berlalu. Karena di balik kecemasan itu, ada kebebasan yang selama ini kamu cari. Tidak perlu berharap disukai semua orang. Cukup jadi diri sendiri dan itu sudah lebih dari cukup. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Ada Kalanya Tak Perlu Menolak Lupa

Kisah tentang Ramadan Bagi Orang-Orang yang Tak Punya Pilihan

Iman dan Nilai-Nilai Kemanusiaan di Hadapan Ancaman Akal Imitasi

Matinya Altruisme?

Tidak Seharusnya Logat “Lo-Gue” Menjadi Superior dalam Pergaulan, Apalagi Ini di Semarang

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Tersangka korupsi Bank Jateng keluar kantor kejaksaan langsung pakai rompi tahanan. (bae) Kasus Baru Nih, Masih Anget! Korupsi Bank Jateng Rp13 Miliar
Next Article Akhirnya.. Bupati Mirwan Diberhentikan, Ini Pltnya yang Resmi Gantikan Sementara

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

DEMO--Massa dari kelompok Pati Ora Sepele (POS) berorasi meminta koruptor dihukum berat. (bae)

Bakal Rame Terus Nih Sidang Sudewo, Dikawal Fans dan Haters sampai Vonis

Desa yang Diminta Mandiri, Tetapi Dikunci dari Luar

Jateng Banjir Wisatawan, Diserbu 30,95 Juta Orang Plesiran dalam Tiga Bulan

Ilustrasi polisi sedang melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP.) (grafis/wayu)

Kasus Kematian Sutrimo Penjaga Rumah Febrie Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya, Keluarga Curigai Hal Ini

PROTES HARGA PAKAN - Peternak di Temanggung membagikan 5.000 ayam petelur kepada warga, sebagai bentuk protes atas mahalnya harga pakan ternak, Senin (10/8/2026). Menurut peternak, lebih ayam itu dibagikan kepada warga daripada mati di kandang. (*)

Demo Harga Pakan Mahal Tak Terjangkau, Peternak Temanggung Bagikan Gratis 5.000 Ayam Petelur

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Sebelum Menikah Prioritas Saya adalah Menghafal Alquran

April 27, 2026
Opini

Eksploitasi Berdalih Swasembada Pangan

April 15, 2026
Opini

Orang Jawa Itu Manusia Kerja Sekaligus Manusia Doa

Mei 13, 2026
Opini

Berbagi Itu Indah, Bergibah Itu Nirfaedah

Februari 24, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Melepaskan Belenggu Validasi di Media Sosial
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?