Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Menaja Keterkaitan Gula dengan Perayaan Kebahagiaan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Menaja Keterkaitan Gula dengan Perayaan Kebahagiaan

Redaktur Opini
Last updated: Mei 21, 2026 12:34 pm
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Ridho Pratama Satria adalah dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman.

Perayaan kebahagiaan di hari raya adalah awal mula kemunculan gula dalam perayaan kebahagiaan.

 

Di Indonesia, kita pasti familiar dengan perayaan hari-hari besar keagamaan yang menghidangkan makanan dan minuman manis. Terutama sekali hari-hari besar keagamaan seperti Hari Raya Idulfitri dan Natal yang selalu dirayakan dengan penuh kebahagiaan.

Beberapa makanan manis yang biasa dihidangkan adalah kue nastar, putri salju, brownies, hingga cokelat. Uniknya kue-kue manis itu memiliki bahan dasar yang sama, yaitu gula. Namun, apakah kita pernah bertanya, mengapa gula sangat dekat dengan perayaan-perayaan kebahagiaan?

Kedekatan gula dalam perayaan kebahagiaan bisa dijelaskan secara ilmiah. Ketika kita mengonsumsi makanan dan minuman manis, maka lidah kita akan mendeteksi rasa manis itu melalui reseptor rasa. Kemudian, hasil deteksi itu akan dikirimkan ke otak ke dalam bentuk sinyal.

Ketika sinyal sampai, maka otak melepaskan hormon dopamin (atau yang dikenal sebagai hormon kesenangan). Jadi, hormon dopamin inilah yang memberikan kita perasaan senang dalam kurun waktu cepat dan signifikan, sehingga kita ingin mengulangi konsumsi makanan dan minuman manis secara berulang kali.

Ketika kita masih kecil, orang tua kita sering melarang kita untuk mengonsumsi makanan dan minuman manis. Agar larangannya efektif, orang tua menakut-nakuti anaknya dengan berbagai macam analogi yang menakutkan. Contohnya, jika makan permen gigi kita akan sakit, gigi kita akan bolong, atau bahkan kita akan ompong.

Pada akhirnya, ketakutan itu membekas dalam rekaman memori anak-anak secara efektif. Namun, ketakutan ini seakan menghilang ketika kita merayakan hari-hari besar keagamaan. Ketika kita telah berpuasa selama sebulan lamanya, maka kita merayakannya dengan penuh kebahagiaan.

Anak-anak akan merayakan kebahagiaan mereka dengan cara mengonsumsi makanan dan minuman manis, tanpa perlu merasa takut dengan larangan-larangan orang tuanya. Jadi bisa dikatakan, perayaan kebahagiaan di hari raya adalah awal mula kemunculan gula dalam perayaan kebahagiaan.

Ketika anak-anak beranjak dewasa, mereka mulai pergi meninggalkan rumah dan orang tuanya. Hal ini bisa dilihat ketika anak-anak yang lulus SMA dan berganti status menjadi mahasiswa. Secara umum, mereka akan meninggalkan kampung halaman dan orang tuanya agar mereka bisa melanjutkan pendidikan mereka (karena secara umum, lokasi-lokasi kampus ada di perkotaan).

Di saat mereka telah jauh dari orang tua, maka larangan-larangan yang mereka dapatkan mulai longgar bahkan terlupakan, terutama sekali larangan-larangan untuk mengonsumsi makanan dan minuman manis.

Mereka mulai mencuri-curi kesempatan untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang manis atas nama kebahagiaan. Kondisi ini bisa mengacu ke konsep “treat” yang berarti suguhan atau traktiran. Namun secara konsep, “treat” adalah hadiah yang didapatkan seseorang setelah mengerjakan suatu tugas.

Secara umum, hadiah yang didapatkan adalah makanan dan minuman manis seperti kue cookies, ice cream, dan cokelat. “Treat” tidak khusus mengacu kepada makanan, tapi juga bisa mengacu pada minuman manis seperti kopi susu, matcha, dan lainnya. Biasanya, mahasiswa melakukan “treat” setelah mereka mengerjakan suatu tugas tertentu seperti selesai mengerjakan ujian akhir semester, seminar proposal, serta ujian skripsi.

Hubungan gula dan perayaan kebahagiaan juga muncul pada situasi lain. Dan yang paling mencolok adalah perayaan hari kasih sayang atau hari valentine. Pada hari ini, orang-orang akan memberikan hadiah kepada orang yang mereka sayangi. Hadiah itu biasanya berbentuk bunga dan cokelat.

Perayaan hari kasih sayang tidak hanya dilakukan di kalangan anak muda saja. Semua orang bisa merayakannya tanpa mengacu kepada rentang usia tertentu, terutama sekali bagi orang yang telah menikah, maka mereka bisa memberikan hadiah kepada pasangan mereka.

Lewat perayaan hari kasih sayang ini saja, kita sudah bisa membayangkan betapa kuatnya hubungan gula dan perayaan kebahagiaan. Orang-orang yang sedang berbahagia dan ingin merayakan kebahagiaannya akan memberikan makanan manis berupa cokelat kepada orang yang mereka sayangi. Dan perayaan hari kasih sayang terus dilakukan dari tahun ke tahun oleh semua pihak.

Kita sulit membantah hubungan erat antara gula dan perayaan kebahagiaan. Namun, penjelasan di atas tidak bisa dijadikan alasan pembenaran agar kita bisa semena-mena mengonsumsi makanan dan minuman manis yang tinggi kandungan gulanya dengan alasan perayaan kebahagiaan.

Kita harus ingat, mengonsumsi gula secara berlebihan memberikan dampak buruk bagi kesehatan kita. Contohnya ialah permasalahan di gigi kita, seperti karies atau gigi berlubang. Dampak terburuknya adalah, kita bisa terkena penyakit mengerikan seperti penyakit diabetes melitus bahkan gagal ginjal.

Oleh karena itu, kita harus bijaksana dalam konsumsi gula. Jangan sampai dampak-dampak buruk di atas datang membawa kesedihan kepada kita—hanya karena kita merayakan hal-hal yang telah membuat kita bahagia. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Bisakah Kita Memulai Revolusi dari Secangkir Kopi?

Degradasi Organisasi Mahasiswa: Hidup Segan Mati Tak Mau!

Mengapa Perlakuan Hukum Terhadap Koruptor Berbeda?

Sekolah Enam Hari, Solusi atau Nostalgia?

Mentalitas “Jalur Ordal” Ternyata Bisa Bikin Negara Gagal

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article PAKAI ROMPI--Petugas kejaksaan memakaikan rompi tahanan AKPB Basuki usia sidang vonis. (bae) AKBP Basuki Dihukum 6 Tahun Penjara, Polri Didesak Segera Lakukan Pemecatan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Menaja Keterkaitan Gula dengan Perayaan Kebahagiaan

PAKAI ROMPI--Petugas kejaksaan memakaikan rompi tahanan AKPB Basuki usia sidang vonis. (bae)

AKBP Basuki Dihukum 6 Tahun Penjara, Polri Didesak Segera Lakukan Pemecatan

Agustus Nanti Matahari Rasanya Dekat, Kemarau Datang Lebih Cepat

Uangnya Segunung, Program Makan Gratis Kini Mulai Disorot KPK

PERSIAPAN JATENG FAIR 2026 - Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menerima jajaran PT PRPP Jawa Tengah di kantornya, Rabu (20/5/2026). Pertemuan tersebut membahas persiapan gelaran Jateng Fair 2026. (ist)

Jateng Fair 2026 Bakal Ada MMA Cewek sampai Konser SID di PRPP, Catat Tanggalnya!

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Krisis Identitas Seorang Santri Ketika Menjadi Mahasiswa Baru

Januari 23, 2026
Opini

Menimbang Dampak Ketergantungan Manusia terhadap Akal Imitasi

Desember 17, 2025
Opini

Manusia di Bawah Rezim Perut Lapar

November 20, 2025
Opini

Fenomena Drama China: Fantasi Utopis dalam Negara yang Distopik

Januari 15, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Menaja Keterkaitan Gula dengan Perayaan Kebahagiaan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?