BACAAJA, SEMARANG – Anak muda Semarang sekarang makin akrab sama bahasa viral TikTok, istilah Twitter, sampai slang media sosial. Tapi di balik itu, ada satu hal yang mulai jarang terdengar di tongkrongan: dialek khas Semarangan.
Kalimat-kalimat ceplas-ceplos khas Kota Lumpia seperti “ndes”, “ki ndes”, sampai “matamu ik” yang dulu hampir selalu muncul di tongkrongan, sekarang mulai kalah sama bahasa gaul, bahasa slang di media sosial, yang dianggap lebih relate sama generasi sekarang.
Fenomena ini diungkapkan Udin Larahan, pemilik Angkringan West Semarang. Menurutnya, perubahan cara anak muda nongkrong ikut memengaruhi cara mereka berbicara sehari-hari.
Bacaaja: Dialek Semarang yang Kian Tenggelam di Kota Sendiri
Bacaaja: Seni Kampung di Semarang: Ada, Tapi Kerap “Nyala” lalu “Redup”
“Sekarang anak muda lebih sering ikut bahasa yang viral di media sosial, jadi logat daerah mulai jarang terdengar,” ujar Udin saat ditemui di Angkringan West, Rabu (13/5/2026).
Kalau dulu, nongkrong bisa sampai berjam-jam cuma buat ngobrol ngalor-ngidul, sekarang suasananya mulai beda. Tongkrongan yang dulu jadi tempat lahirnya candaan dan istilah khas Semarang, perlahan mulai tergeser sama dunia digital.
“Kalau dulu hiburannya ya nongkrong. Dari nongkrong itu muncul candaan, bahasa khas, sampai gaya ngomong yang akhirnya kebawa terus,” katanya.
Udin bilang, generasi sekarang lebih cepat nyerap bahasa yang lagi viral di internet dibanding mempertahankan logat daerah sendiri. Akibatnya, gaya ngomong khas Semarang makin jarang dipakai, terutama di kalangan remaja.
Padahal menurutnya, bahasa Semarangan itu bukan sekadar logat medok biasa. Ada suasana akrab, spontan, dan ceplas-ceplos yang jadi identitas orang Semarang saat ngobrol sama teman.
“Bahasa Semarang itu bukan cuma logat, tapi bagian dari suasana tongkrongan dan cara orang Semarang bergaul sehari-hari,” jelasnya.
Yang menarik, beberapa kata yang sering dianggap kasar sama orang luar justru jadi bentuk keakraban buat warga Semarang sendiri. Kalimat seperti “matamu” atau “ndes” sering dipakai buat bercanda antar teman dan malah bikin obrolan terasa lebih cair.
Belum benar-benar punah

Meski mulai jarang terdengar, Udin merasa bahasa Semarangan sebenarnya belum benar-benar hilang. Di beberapa warung kopi, angkringan, sampai tongkrongan malam, logat khas itu masih sesekali muncul.
Sebagai orang yang tiap hari ketemu banyak anak muda di angkringannya, ia merasa tongkrongan masih jadi salah satu tempat penting buat menjaga bahasa daerah tetap hidup.
“Kalau bahasa Semarang hilang, suasana khas nongkrong dan candaan orang Semarang juga ikut berubah,” ujarnya.
Di tengah derasnya pengaruh media sosial dan tren bahasa gaul internet, Udin berharap anak muda Semarang tetap pede pakai logat daerah sendiri. Karena buatnya, bahasa bukan cuma soal komunikasi, tapi juga identitas khas Kota Semarang yang sayang kalau sampai hilang pelan-pelan. (dul)

