BACAAJA, KUDUS- Krisis kepemimpinan lagi melanda sekolah dasar di Kudus. Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) mencatat sekitar 130 SD saat ini belum punya kepala sekolah definitif.
Kepala Disdikpora Kudus, Harjuna Widada bilang, angka ini berpotensi terus naik. Soalnya, tiap bulan ada sekitar 15 guru yang pensiun, dan sebagian di antaranya adalah kepala sekolah. “Jumlahnya bisa terus bertambah karena ada yang masuk masa purna tugas setiap bulan,” jelasnya.
Baca juga: Sekolah Swasta Minta “Dilirik” Serius, Bukan Nunggu Sisa Kuota
Biar nggak makin kosong, Disdikpora sekarang lagi “ngebut” dorong guru-guru yang memenuhi syarat buat ikut seleksi kepala sekolah. Targetnya jelas: kursi kepsek di tiap SD bisa segera terisi secara definitif.
Tapi masalahnya nggak sesederhana itu. Minat guru buat ikut seleksi ternyata lagi turun. Alias, nggak semua yang memenuhi syarat langsung tertarik jadi kepala sekolah.
Padahal, syaratnya sendiri sudah cukup jelas: minimal lulusan S1/D4, pernah ikut diklat calon kepala sekolah, punya pangkat minimal III/B, sampai punya sertifikat Guru Penggerak.
Animo Menurun
Belum lagi harus punya nilai Penilaian Kinerja Guru (PKG) dengan kategori baik. Lengkap, tapi tetap aja belum banyak yang “angkat tangan”. “Animo memang menurun, ini jadi tantangan kami,” kata Harjuna.
Sambil nunggu solusi, sekolah-sekolah yang kosong tetap berjalan dengan sistem “pelaksana tugas” alias Plt. Jadi tetap ada yang pegang kendali, meski sifatnya sementara.
Dari total 426 SD di Kudus, 397 di antaranya sekolah negeri, jumlah yang kosong ini jelas nggak sedikit. Artinya, hampir sepertiga sekolah lagi jalan tanpa kepala sekolah definitif.
Baca juga: Guru Diminta Upgrade Cara Main Abad ke-21
Di sisi lain, masuknya guru PPPK sedikit membantu menutup kekurangan tenaga pengajar akibat pensiun. Jadi untuk urusan belajar-mengajar masih relatif aman.
Tapi beda cerita kalau bicara soal manajemen sekolah. Tanpa kepemimpinan yang jelas, arah kebijakan dan peningkatan mutu pendidikan bisa ikut “ngambang”.
Sekolah tetap jalan, guru tetap ngajar, murid tetap belajar. Tapi tanpa kepala sekolah, rasanya kayak kapal tanpa kapten, nggak langsung tenggelam, tapi juga nggak jelas mau berlayar ke mana. Mungkin sekarang bukan cuma murid yang harus naik kelas… tapi gurunya juga perlu “naik level”. (tebe)

