BACAAJA, SEMARANG – Sidang tuntutan AKBP Basuki dalam kasus kematian dosen Untag, kembali ditunda. Penundaan dua kali mulai memunculkan kecurigaan dari pihak keluarga korban.
Pengacara korban, Zainal Abidin Petir, menilai penundaan ini bukan sekadar hal teknis biasa. Ia bahkan mengaku mendengar kabar yang beredar soal kemungkinan tuntutan yang tidak maksimal.
“Tuntutannya itu kan maksimal 7 tahun, tapi saya mendengar desas-desus bahwa tuntutannya itu tidak sampai 7 tahun. Padahal telah menyebabkan matinya seseorang,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Bacaaja: Fakta Balik Layar Terungkap di Persidangan: AKBP Basuki Muluskan Jalan Levi jadi Dosen Untag
Bacaaja: Jaksa Ungkap Kejamnya AKBP Basuki: Teman Wanitanya Sekarat, Eh Malah Ditinggal Tidur
Zainal menyinggung posisi terdakwa sebagai perwira menengah Polri. Ia mempertanyakan apakah status tersebut ikut memengaruhi proses penuntutan hingga berlarut-larut.
“Korbannya dosen yang menjadi idola keluarga loh, dia mati bersama perwira menengah Polri dari Polda Jawa Tengah. Apakah gara-gara ini perwira Polri sehingga tuntutannya sampai ditunda,” ucapnya.
Ia juga menyoroti dinamika di ruang sidang saat hakim mempertanyakan kesiapan jaksa. Menurutnya, sempat ada momen ketika jaksa tidak mau membuka alasan penundaan.
“Ketika ditanya oleh hakim, jaksanya kan menyampaikan bahwa ini tidak bisa diungkapkan di muka persidangan. Kan enggak boleh, hakim marah kan tadi,” katanya.
Belakangan, jaksa mengakui bahwa rencana tuntutan masih dikonsultasikan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah. Hal ini justru makin menambah tanda tanya di benak tim kuasa hukum korban.
Ia pun mengajak publik ikut mengawal jalannya persidangan agar proses hukum berjalan transparan. Zainal menilai, minimnya sorotan publik sebelumnya membuat proses sidang sempat berjalan tanpa perhatian luas.
“Saya minta masyarakat untuk ikut mengawal proses persidangan AKBP Basuki. Kalau tidak dikawal, ya seperti ini,” ucap dia.
Zainal juga meminta jajaran kejaksaan, baik di tingkat kota maupun provinsi, menjaga integritas dalam menangani perkara ini. Ia berharap tuntutan yang diajukan nantinya benar-benar mencerminkan rasa keadilan.
“Sudahlah dituntut yang maksimal saja. Biar institusi Kejaksaan Negeri Semarang itu menjadi baik, berintegritas,” pintanya. (bae)

