Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Di Tugurejo, Nyawa Dipertaruhkan di Palang Swadaya
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Di Tugurejo, Nyawa Dipertaruhkan di Palang Swadaya

Di saat kota makin sibuk dan teknologi makin canggih, ada satu titik di Semarang yang masih jalan pakai cara lama, bahkan terlalu sederhana buat urusan keselamatan. Di Tugurejo, bukan sistem yang jaga warga, tapi warga yang jaga diri sendiri.

T. Budianto
Last updated: Mei 5, 2026 4:15 am
By T. Budianto
5 Min Read
Share
LINTASI REL: Seorang pengendara motor melihat situasi saat hendak melintas rel kereta api di kawasan Tugurejo, Tugu, Semarang, Senin (4/5/2026). (Foto: dul)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Di tengah derasnya arus kendaraan dan mobilitas Kota Semarang, masih ada perlintasan kereta api yang berjalan dengan sistem sederhana bahkan bisa dibilang seadanya.

Di kawasan Tugurejo, keselamatan pengguna jalan belum sepenuhnya ditopang oleh sistem resmi, melainkan bergantung pada kesadaran warga dan kewaspadaan penjaga palang manual.

Perlintasan yang menghubungkan RT 6 dan RT 11/RW 1, ini menjadi jalur alternatif bagi warga sekitar. Aktivitas lalu lintas di titik tersebut tergolong ramai, mulai dari pengendara motor, mobil, hingga pelajar dan warga yang beraktivitas sehari-hari. Namun di balik ramainya aktivitas itu, tersimpan potensi bahaya yang tidak kecil.

Usman (60), penjaga palang di lokasi tersebut, sudah hampir dua tahun menjalankan tugasnya. Setiap hari, ia harus sigap memperhatikan kondisi rel dan arus kendaraan, tanpa bantuan sistem otomatis. “Kadang orang cuma tengak-tengok saja, padahal kereta sudah dekat. Ya jelas bahaya,” ujarnya, Senin (4/5/2026).

Baca juga: Ketika Disiplin Diabaikan, Wajar Bila Tragedi Berulang di Perlintasan Kereta

Tidak ada alarm otomatis, tidak ada palang elektrik, bahkan tidak ada sistem peringatan yang memadai. Semua bergantung pada pengamatan langsung dan komunikasi sederhana. Dalam kondisi tertentu, keputusan harus diambil dalam hitungan detik.

Menariknya, selama Usman berjaga, belum pernah terjadi kecelakaan di titik tersebut. Namun kondisi ini bukan berarti aman. Justru, menurutnya, situasi tersebut lebih tepat disebut “beruntung”.

Sebab, fasilitas yang ada saat ini jauh dari kata ideal. Palang yang digunakan merupakan hasil swadaya masyarakat, begitu pula dengan sistem penjagaannya. “Ini semua dari warga. RT yang ngurus, bukan dari kelurahan apalagi Pemkot,” kata Usman.

Inisiatif warga ini lahir dari kebutuhan mendesak akan keselamatan. Tanpa menunggu bantuan pemerintah, masyarakat sekitar bergotong royong membangun palang sederhana agar risiko kecelakaan bisa ditekan.

Ditanggung Warga

Namun upaya tersebut tentu memiliki keterbatasan. Selain dari sisi fasilitas, persoalan juga muncul dari aspek pendanaan. Biaya operasional, termasuk gaji penjaga, sepenuhnya ditanggung oleh warga.

Dalam sebulan, dana sekitar Rp1 juta dikumpulkan untuk membayar dua orang penjaga yang bertugas secara bergantian. Dengan nominal tersebut, masing-masing penjaga hanya menerima bagian yang sangat minim dibandingkan dengan beban tanggung jawab yang mereka pikul. “Ya sedikit, tapi tanggung jawabnya besar,” tutur Usman.

Di sisi lain, perhatian dari pemerintah dinilai masih belum terasa. Bahkan, menurut Usman, hingga saat ini belum ada keterlibatan nyata dari pihak kelurahan maupun pemerintah kota dalam pengelolaan perlintasan tersebut.

Kondisi ini memperlihatkan adanya celah dalam sistem pengelolaan perlintasan sebidang, terutama di titik-titik yang tidak masuk dalam prioritas utama pembangunan infrastruktur.

Baca juga: Sengkarut Perlintasan KA di Jalan Nasional Banyak Telan Korban, Pemerintah Abai?

Padahal, dengan frekuensi kereta yang cukup sering melintas, sekitar setiap satu jam sekali risiko kecelakaan tetap tinggi, terlebih jika pengguna jalan tidak disiplin.

Keberadaan penjaga palang manual seperti Usman menjadi garda terdepan dalam menjaga keselamatan. Namun tanpa dukungan sistem yang memadai, peran tersebut menjadi sangat berat dan penuh risiko.

Apa yang terjadi di Tugurejo menjadi potret nyata bahwa keselamatan di jalan tidak selalu hadir dari sistem yang canggih. Di beberapa titik, keselamatan justru lahir dari kepedulian warga yang berusaha melindungi lingkungannya dengan segala keterbatasan yang ada.

Meski demikian, upaya swadaya ini seharusnya tidak menjadi solusi jangka panjang. Tanpa dukungan infrastruktur yang layak dan perhatian dari pemerintah, perlintasan seperti ini akan terus berada dalam bayang-bayang bahaya.

Sebab pada akhirnya, keselamatan bukan hanya soal ada atau tidaknya palang, tetapi bagaimana sistem dan kesadaran berjalan beriringan untuk melindungi setiap nyawa yang melintas.

Di Tugurejo, teknologi boleh ketinggalan, tapi kepedulian warga jalan terus. Ironisnya, saat sistem belum hadir, justru warga yang jadi “fitur keselamatan utama”. Masalahnya, ini bukan aplikasi yang bisa di-update, sekali lengah yang dipertaruhkan bukan data, tapi nyawa. (dul)

 

Tulisan ini bagian dari fokus utama bacaaja.co pekan ini, “Keselamatan dan Kenyamaanan Berkendara di Kota Semarang”. (Red)

You Might Also Like

Macet Datang, Tol Jateng Siap ‘Disulap’ Kalau Udah Nggak Gerak

Semarang Mau 2026 Lebih ‘Hijau’, Agsutina Gaspol di Pangan & Lingkungan

Kata Mas Tri Sastra Nggak Bikin Kaya, tapi Kenapa Masih Banyak yang Bertahan?

Kemenhub RI: 38,7 Juta Pemudik Masuk ke Jateng

Dari Sampah Jadi Listrik: Pemprov, Pemkot Semarang dan Pemkab Kendal Teken PKS

TAGGED:daop 4headlinekeselamatan berkendarapemkot semarangpemprov jatengperlintasan sebidang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kasus Ponpes Pati Bikin Geram: Kemenag Minta Pelaku Dihukum Berat
Next Article Pengacara keluarga korban, Zainal Petir, mengungkapkan kekecewaan pada Senin (4/5/2026), karena sidang tuntutan AKBP Basuki terus ditunda. (bae) Pengacara Korban Endus Aroma Tuntutan Ringan untuk AKBP Basuki, Kasus Dosen Untag Tewas

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Audit Diprotes, Kades Hoho Siap Lawan Lewat Jalur Hukum

Seleksi Perangkat Desa Mandek, Bupati Banjarnegara Tahan Pengangkatan Perangkat Purwasaba

KIAI CABUL - Kiai Ashari, pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo, Pati, mengaku wali untuk memanipulasi psikologi korban. Kiai Ashari mencabuli 50 santriwati, mayoritas korban berasal dari keluarga rentan.

The Power of Kiai Ashari: Cabuli 50 Santriwati, Bebas Berkeliaran Gak Ditahan, Polisi Kalah Sakti?

Ratusan SD di Kudus Tanpa Kepsek, Guru Diajak Naik Level

Aktivis BEM FH Undip cs mengirim amicus curiae ke MK. (ist)

BEM FH Undip Kirim Amicus Curiae ke MK, Kritisi UU TNI yang Problematik

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Taj Yasin: Wayang Nggak Cuma Buat Orang Tua

Desember 28, 2025
Info

Hati-Hati Ya, Mudik Lebaran 2026 Cuacanya Masih Ekstrem

Februari 21, 2026
Info

Gak Ada Gebrakan, UMP Jateng 2026 Masih akan Jadi Terendah Nasional?

Desember 18, 2025
Info

Luthfi Ajak DPRD Jadi ‘Super Team’ Bangun Daerah

April 16, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Di Tugurejo, Nyawa Dipertaruhkan di Palang Swadaya
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?