Danang Lawu S., adalah mahasiswa Institut Seni Indonesia Denpasar.
Seniman yang mewajarkan kekerasan seksual, body shaming, dan objektifikasi perempuan lalu berlindung di balik alasan “memenuhi selera pasar”, adalah seniman sampah….
Enam belas mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia menjadi bulan-bulanan warganet Indonesia akibat dugaan kasus pelecehan seksual. Mereka dipermalukan dan dicaci maki dalam sebuah forum sidang terbuka di hadapan ribuan mahasiswa lain. Apa sebenarnya yang mereka lakukan hingga dihinakan sedemikian rupa? Mereka berkelakar vulgar tentang mahasiswi dan dosen di dalam sebuah grup obrolan daring. Sekali lagi, tindakan itu dilakukan secara “Tertutup” di grup obrolan pribadi.
Peristiwa ini adalah alarm keras bagi kita semua, teristimewa bagi para seniman. Kita sangat sadar bahwa hingga detik ini, masih banyak seniman yang melanggengkan blue jokes (lelucon cabul) dalam interaksi sehari-hari maupun di atas panggung. Sebagai individu dengan latar belakang Seni Pedalangan, saya terlalu sering menyaksikan para praktisi seni melempar banyolan yang selalu tak jauh-jauh dari alat kelamin. Perlu saya katakan bahwa ini sebuah kegoblogan yang harus segera disudahi.
Dunia telah berubah. Paradigma pengetahuan dan standar moralitas publik semakin mengglobal. Dulu, Anda mungkin merasa gagah ketika melontarkan lelucon tentang ukuran dada perempuan. Atau bercerita tentang betapa perkasanya Anda di atas ranjang. Namun, sekarang gigi Anda bisa saja remuk dihantam paving bila melontarkan candaan semacam itu.
Ya, guyonan seksis adalah salah satu bentuk kekerasan seksual & rape culture (budaya perkosaan), juga catcalling (contoh: “suit suit, cewek!”). Tapi kedua perilaku ini, para dalang dan seniman lain juga sering melakukannya. Sebenarnya mau dibawa ke mana kesenian kita kalau senimannya saja menjadi pelaku kekerasan seksual? Bagaimana bisa seni, yang semestinya membebaskan jiwa manusia, yang katanya perlu banyak olah rasa, yang dianggap membuat IQ dan EQ pelakunya menjadi lebih tinggi, justru sekarang tidak membuat seniman serta penikmatnya berbudi luhur?
Guyonan seksis sama sekali tidak lucu. Kalau Anda masih menganggapnya lucu, justru menjadi tanda bahwa otak Anda dan penikmat guyonan Anda “kurang seperempat”. Seniman yang mewajarkan kekerasan seksual, body shaming, dan objektifikasi perempuan lalu berlindung di balik alasan “memenuhi selera pasar”, adalah seniman sampah yang memang sepatutnya kita ludahi ramai-ramai.
Bukan bermaksud bias, tapi faktanya kita hidup di negara yang dipenuhi orang-orang berpikiran patriarki. Saya tahu betul bahwa memproduksi lelucon cabul adalah jalan pintas yang paling mudah. Tapi kalau jadi seniman Cuma cari gampangnya, tak mau susah mikir, malas berkreasi, sudah pantaslah bila ia disebut seniman impoten. Atau barangkali tak layak juga disebut seniman.
Seniman adalah sosok yang selalu menjadi ‘supply driven’, senimanlah yang memegang kendali penuh atas tontonan yang disajikan ke khalayak. Publik tidak pernah datang dengan tuntutan agar seorang sinden bergoyang sensual di atas panggung. Tak pernah jua memaksa sinden memakai kain jarik ketat agar lekuk pinggulmya terekspos. Tetapi dalanglah yang menyajikan semua itu untuk pertama kali!
Di dunia seni, memang ada yang namanya erotika. Seniman teater dan perfilman tentu tak asing lagi dengan istilah male & female gaze. Namun, di sinilah pentingnya literasi bagi seniman agar paham bedanya erotisme dan vulgarisme. Erotisme berfokus pada kedalaman emosional serta psikologi ketertarikan.
Tubuh manusia dikelola sebagai instrumen puitik yang merangsang penonton untuk mengapresiasi dan merenungkan makna di balik ketubuhan yang ditampilkan. Bukan vulgarisme yang sekadar memancing birahi murahan dengan sengaja memberi belahan tinggi pada jarik para sinden. Kalau ini diterus-teruskan, ijinkan saya bertanya: apa bedanya seni kita dengan blue film?
Kita sepatutnya bersyukur telah diwarisi konsep Purusa lan Pradana (lingga yoni) oleh nenek moyang kita. Sensualitas diakui sebagai hal yang sangat penting sekaligus sakral, yang sangat nista apabila dimaknai secara cabul. Ini adalah konsep lokal tentang apa yang dimaksud erotisme tadi. Saya sendiri sangat kagum dengan kesenian Janger di Bali, yang walau hanya menampilkan tari dan nyanyian yang berpasang-pasangan. Namun, amatlah sarat akan erotika yang mapan.
Tanpa gerakan, nyanyian, atau busana yang cabul, penonton muda akan secara tidak sadar menggigit jari mereka sendiri secara girang ketika menonton Janger. Pertunjukan ini beresonansi kuat dengan dinamika asmara mereka. Sementara bagi generasi tua, menonton Janger secara instan membuat hidup mereka menjadi lebih bergairah karena merangsang pikiran mereka untuk mengingat masa mudanya yang ternyata penuh warna juga, seperti janger dan kecak yang Ia tonton itu.
Perlu juga kita menilik seni Tayub Tuban klasik. Sangat jarang ditemukan penonton yang berani bertindak kurang ajar kepada sinden karena sosok sinden ditempatkan pada posisi yang sakral dan terhormat. Para pengibing menari perlahan dengan mata terpejam, meresapi karawitan dan lantunan suara sinden yang seolah menerbangkan jiwa mereka ke antariksa raya. Utang-utang sejenak dilupakan, hanya rasa tentrem bahagia yang ada di dalam kalbu. Betapa indahnya bila para seniman masa kini berkreasi secara matang serta mau belajar dari apa yang telah diwariskan para leluhurnya.
Kembali ke awal tulisan ini. Enam belas mahasiswa pelaku kekerasan seksual di awal tulisan ini melakukan aksinya di ruang tertutup yang tidak semestinya isi chat tersebut diketahui oleh publik. Namun, di lain sisi, sebagian dari Anda justru dengan bangga dan terang-terangan menyajikan kebejatan itu di atas panggung terbuka.
Saya sekadar mengingatkan, anak muda zaman sekarang punya kesadaran dan daya kritis yang jauh lebih tajam. Apabila Anda menolak untuk sadar, peribahasa Jawa ula marani gebug (ular yang sengaja menghampiri pentungan) adalah deskripsi paling tepat untuk kebebalan Anda. Anda seperti sedang menggali kuburan karir Anda sendiri, atau seperti menyerahkan leher kepada algojo yang siap memancung Anda.
Memang perlu banyak seniman yang cerdas, tetapi butuh lebih banyak pula penonton yang bijak. Rape culture bukan budaya kita. Mulai dari sekarang, boikot seniman yang menormalisasi kekerasan seksual dan mengeksploitasi perempuan! (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

