Syauqibillah Prabowo adalah mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Tinggal di Bebengan, Boja, Kendal.
Kita tidak hanya berhenti peduli pada dunia. Kita juga berhenti peduli pada diri kita sendiri.
Dunia ini tidak sedang baik-baik saja. Dan kali ini kalimat itu bukan sekadar kalimat klise. Di satu daerah, bencana datang bertubi-tubi hanya dalam satu tahun, dari banjir, longsor, kebakaran hutan, gempa, hingga abrasi.
Angkanya bisa dihitung, tapi kehilangan yang ditinggalkan tidak pernah benar-benar tercatat. Rumah hilang bisa dibangun kembali, tapi rasa aman yang ikut hilang sering kali tidak pernah kembali dengan utuh.
Di tempat lain, manusia masih sibuk membicarakan kemungkinan perang berikutnya. Seolah-olah kehancuran selalu butuh versi yang lebih besar. Tapi yang lebih mengganggu bukan itu. Yang lebih mengganggu ialah betapa cepatnya kita terbiasa dengan berbagai bencana itu.
Di sebuah dusun kecil, Dusun Somopuro, Desa Bebengan, Kecamatan Boja, Kendal, misalnya. Udara tak lagi sesejuk dulu. Sawah berkurang sedikit demi sedikit lalu menghilang digantikan rumah-rumah kembar. Kebun sengon yang dulu berdiri kini hanya tinggal berdiam di ingatan. Semua tetap berjalan, seolah perubahan itu bukan kehilangan. Tapi kemajuan yang tidak perlu dipertanyakan.
Anak-anak yang tumbuh hari ini mungkin tidak pernah tahu seperti apa rupa tempat ini sebelumnya. Dan kita? Kita tetap ngopi. Membicarakan hidup, uang, masa depan, dan cinta, ketika dunia sedang berubah terlalu cepat. Tentang tragedi perang, ada yang menanggapinya serius, tetapi ada pula ada yang menganggapnya sebagai bercandaan belaka, bahkan ada yang sama sekali tidak peduli.
“Ah, itu jauh. Kita ‘kan di Indonesia, Bro.” Lalu tertawa. Dan semuanya terasa normal. Seolah-olah jarak bisa menjadi alasan untuk tidak merasa terlibat, dan waktu bisa membuat segala sesuatu terasa tidak mendesak.
Di sudut lain, ternyata ada yang diam-diam mulai menanam. Mengantisipasi bila terjadi krisi pangan. Ada yang memelihara ayam. Menyimpan kemungkinan untuk bertahan. Mereka tidak banyak bicara, tetapi memahami sesuatu yang mereka takutkan mungkin akan benar-benar terjadi. Yang banyak bicara justru kita yang tidak benar-benar melakukan apa-apa.
Di tengah semua itu, muncul satu pemikiran yang sulit dihindari: mungkin kita memang harus egois. Mungkin bersikap peduli itu terlalu berat. Mungkin memahami dunia itu terlalu melelahkan. Mungkin satu-satunya cara untuk tetap waras adalah dengan tidak terlalu peduli. Hidup saja untuk diri sendiri. Ambil yang bisa diambil. Nikmati yang ada.
Terdengar masuk akal. Dan justru itu yang berbahaya. Karena tanpa sadar, kita mulai terbiasa. Terbiasa melihat kerusakan. Terbiasa mendengar ancaman. Terbiasa tidak melakukan apa-apa dan menyebutnya sebagai hal realistis belaka. Padahal mungkin itu hanya bentuk lain dari menyerah. Putus asa.
Kita tidak benar-benar menjadi kuat. Kita hanya menjadi kebal. Dan kebal ternyata bukan berarti sehat. Karena di titik tertentu, kita tidak hanya berhenti peduli pada dunia. Kita juga berhenti peduli pada diri kita sendiri. Dan mungkin tanpa kita sadari, kita tidak sedang bertahan. Kita hanya sedang perlahan-lahan menghilang. Dan yang paling menakutkan, kita tidak akan pernah sadar kapan terakhir kali kita benar-benar hidup. Hidup hanya menunda kekalahan.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


