BACAAJA, SEMARANG – Di tengah laju pembangunan kota yang semakin cepat, kampung kerap kali hanya dipandang sebagai ruang tinggal biasa. Gang sempit, rumah berhimpitan, dan aktivitas harian warga sering dianggap sebagai hal yang “biasa saja”.
Padahal, jika dilihat lebih dekat, kampung justru menyimpan identitas yang membentuk wajah kota itu sendiri.
Hal ini dibahas dalam program Lakon Lokal di kanal YouTube Bacaajadotco yang dipandu oleh Widyanuari Eko Putra bersama narasumber Purna Cipta Nugraha.
Dalam obrolan tersebut, Purna menegaskan bahwa kampung bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang hidup yang penuh dengan sejarah, budaya, dan praktik ekonomi lokal.
“Banyak yang lupa bahwa di level kota, kampung itu sebenarnya pusat identitas kota,” ujarnya, di Lakon Lokal di kanal YouTube Bacaajadotco.
Menurutnya, setiap kampung memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa digantikan oleh kawasan lain. Ada kampung yang dikenal dengan kerajinan tertentu, ada yang kuat di tradisi budaya, hingga ada yang menjadi pusat aktivitas ekonomi tertentu.
Ia memberi contoh sederhana namun menarik. Ada kampung kecil di Semarang yang hanya terdiri dari dua RT, tetapi mampu menjadi salah satu penghasil daging kambing terbesar di kota tersebut.
“Misalnya ada kampung cuma dua RT, tapi produksi daging kambing terbesar di Semarang. Itu kan luar biasa,” jelasnya, di Lakon Lokal di kanal YouTube Bacaajadotco. Yang tayang Senin (10/11/2025)
Namun sayangnya, banyak cerita seperti ini tidak pernah tercatat. Tidak ada dokumentasi, tidak masuk dalam narasi besar kota, bahkan sering kali tidak diketahui oleh warganya sendiri.
Akibatnya, kampung perlahan kehilangan identitasnya. Ketika pembangunan datang tanpa mempertimbangkan aspek lokal, kampung bisa berubah, bahkan hilang, tanpa meninggalkan jejak yang berarti.
Di titik inilah pentingnya melihat kampung bukan hanya sebagai ruang fisik, tetapi sebagai bagian dari memori kolektif kota. (dul)


