Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Puisi Tak Kenal Nama: Cerita Triyanto Soal Meja Redaksi yang Sering Bikin Penyair Tersinggung
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Lakon Lokal

Puisi Tak Kenal Nama: Cerita Triyanto Soal Meja Redaksi yang Sering Bikin Penyair Tersinggung

R. Izra
Last updated: Januari 4, 2026 12:46 pm
By R. Izra
3 Min Read
Share
Sastrawan kawakan asal Semarang, Triyanto Triwikromo (kiri), saat berbincang dengan host Lakon Lokal.
Sastrawan kawakan asal Semarang, Triyanto Triwikromo (kiri), saat berbincang dengan host Lakon Lokal.
SHARE

SEMARANG, BACAAJA — Puisi yang sampai ke meja redaksi biasanya tidak datang dalam keadaan kosong.

Ia membawa banyak hal: nama penulis, latar belakang, bahkan kadang bisik-bisik soal “orang dalam”. Tapi di situlah, menurut Triyanto Triwikromo, puisi justru harus dilepaskan dari semua embel-embel itu.

Saat menjadi redaktur sastra Suara Merdeka, Trianto memilih satu sikap sederhana: membaca teksnya dulu, melupakan siapa penulisnya.

Bacaaja: Kata Mas Tri Sastra Nggak Bikin Kaya, tapi Kenapa Masih Banyak yang Bertahan?
Bacaaja: Ketika AI Ikut Nulis, Sastra Masih Perlu Manusia? Simak Kata Sastrawan Semarang

Nama besar atau nama baru, penyair lokal atau luar daerah, semua diperlakukan sama. Yang dipertimbangkan hanya satu puisi itu bekerja atau tidak.

Prinsip itu membuat meja redaksi tidak selalu jadi tempat yang menyenangkan. Kritik datang dari berbagai arah. Ada yang merasa puisinya layak dimuat karena sudah lama menulis.

Ada juga yang kecewa karena merasa satu daerah tidak diberi cukup ruang. Tapi bagi Triyanto, redaksi bukan panggung solidaritas, melainkan arena seleksi.

Ia mengaku tidak pernah berniat menutup pintu bagi penyair Jawa Tengah atau Semarang. Banyak puisi dari daerah ini tetap dimuat.

Masalahnya sederhana: tidak semua naskah siap tampil. Dan tidak semua penulis siap mendengar itu.

Di redaksi, puisi bukan soal curhat. Puisi adalah hasil kerja. Ia harus punya daya, punya tekanan, dan punya kebaruan.

Kalau lemah, ya dikembalikan. Kalau belum matang, ya ditolak. Triyanto menyebut sikap ini sebagai bagian dari pendidikan mental penyair.

Proses saling kritik itu justru membentuk ekosistem sastra yang lebih sehat. Penyair belajar bahwa menulis bukan soal diterima atau tidak hari ini, tapi tentang bagaimana teks terus diperbaiki.

Meja redaksi, dalam pandangan Mas Tri, seharusnya menjadi tempat latihan bukan tempat mencari pengakuan instan.

Cara pandang itu juga ia bawa ketika memilih karya. Ia tidak ingin redaksi hanya diisi suara yang itu-itu saja. Dunia sastra, menurutnya, harus diajak bertanding lebih luas.

Puisi dari mana pun bisa masuk, asal kuat. Dengan cara itu, redaksi menjadi ruang pertemuan ide, bukan sekadar kumpulan nama.

Di titik ini, puisi dan redaksi saling membutuhkan. Puisi perlu redaksi agar diuji. Redaksi perlu puisi agar tetap hidup. Hubungannya tidak selalu manis, tapi jujur.

Dan barangkali, justru dari ketegangan itulah puisi menemukan bentuk terbaiknya. (dul)

You Might Also Like

Dari Jasa Bersih-bersih Lewat Aplikasi, Mbak Dwi Punya Segudang Cerita

Dampak Merger 9 LPM, Persma UIN Walisongo Keluhkan Hilangnya Identitas

6 Mahasiswa KKN UIN Walisongo Hanyut di Kendal, 4 Ditemukan Meninggal

Purna Cipta Hysteria: Kampung, Identitas Kota yang Sering Terlupakan

5 Tempat Sahur Murah dan Ramai di Semarang, Mana yang Kamu Suka?

TAGGED:lakon lokalmeja redaksipuisisastrawanSemarangtriyanto triwikromo
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ke Mana Paspampres Venezuela? Masa Presiden Gampang Banget Ditangkap!
Next Article Sururi, pendekar penggerak penanaman mangrove di pesisir Semarang. Kenalan Sama Pak Sururi, Orang Biasa dengan Aksi Luar Biasa Jaga Pesisir Semarang

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Dialek Semarangan Tumbuh dari Terminal sampai Bioskop

Hormuz Memanas, Trump Santai Sebut Amerika Kini Mirip Bajak Laut

Film Pesta Babi Ramai Dicekal, Malah Bikin Publik Makin Kepo

Adakah Vaksin Hantavirus?

Sst.. Libur Iduladha Bisa Panjang Kalau Pintar Ngatur Cuti

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Salah satu lahan di bsb yang dulu penuh dengan pohon sekarang menjadi perumahan selasa (10/3/2026). (dul)
Info

Kawasan Atas Berubah Jadi Hutan Beton, Warga Semarang Khawatir Tambah Sering Kebanjiran

Maret 10, 2026
Warga ramai-ramai menyelamatkan pengendara motor yang terseret derasnya arus banjir di Kawasan Industri Candi Semarang, Kamis (26/2/2026).
Info

Banjir Parah Terjang Kawasan Industri Candi Semarang: Mobil Terendam, Motor Terseret Arus

Februari 27, 2026
Books Bos di Jl. Dorang No.7, Dadapsari, Kec. Semarang Utara, Kota Semarang, nyediain buku-buku impor dengan harga miring.
Info

Hidden Gem Perbukuan di Semarang, ‘Books Bos’ Sediain Buku Impor Harga Lokal

Januari 7, 2026
Pengunjung memadati area Semarang Zoo.
Plesir

Semarang Zoo Tambah Rame saat Nataru, Sehari Tembus Ribuan Pengunjung

Desember 29, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Puisi Tak Kenal Nama: Cerita Triyanto Soal Meja Redaksi yang Sering Bikin Penyair Tersinggung
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?