BACAAJA, SEMARANG – Ketika abrasi bikin laut makin dekat dan tambak pelan-pelan lenyap, banyak orang memilih pindah.
Namun Sururi berani beda. Alih-alih pergi, ia memilih bertahan dan melawan, pakai cara yang sederhana: nanam mangrove.
Cerita ini dimulai awal 1990-an. Saat itu, abrasi di pesisir Semarang makin parah. Jalan dari rumah ke tambak yang dulu 70 meter, sekarang tinggal kenangan.
Bacaaja: Kata Mas Tri Sastra Nggak Bikin Kaya, tapi Kenapa Masih Banyak yang Bertahan?
Bacaaja: Pemuda Desa Ciptakan Wayang Raksasa di Kuwondogiri, Jadi Ikon Budaya Tahun Baru Hijriyah
“Yang penting kampung saya tidak hilang,” kata Pak Sururi.
Sekitar tahun 1995, tanpa modal besar dan tanpa dukungan ramai-ramai, ia menanam mangrove pertamanya. Sendiri. Pelan. Tapi konsisten.
Awalnya, perjuangannya sering dipandang sebelah mata. Dari warga sekitar sampai lembaga yang bergerak di isu lingkungan, banyak yang meragukan.
Tapi Sururi tetap jalan. Dengan bismillah dan keyakinan, ia terus menanam meski hasilnya belum kelihatan.
Tahun demi tahun berlalu, hasilnya mulai nyata. Mangrove tumbuh, menguat, dan menyebar dari Mangunharjo ke Mangkang Wetan, Mangkang Kulon, hingga Randugarut.
Sekarang, hampir 80 hektare pesisir Semarang terlindungi. Abrasi berkurang, tanah selamat, dan ekosistem laut kembali hidup.
Di balik keberhasilan itu, ada pengorbanan besar. Sururi pernah berutang ke bank, bahkan menggadaikan rumah demi beli bibit. Tapi semua itu terbayar: kampung tetap ada, warga lebih aman, dan alam kembali seimbang.
Hampir 30 tahun kemudian, mangrove yang ia tanam berdiri jadi tameng alami pesisir.
Sururi mungkin bukan siapa-siapa di headline besar, tapi jasanya nyata, menjaga Semarang supaya enggak tenggelam pelan-pelan. (dul)

