BACAAJA, JAKARTA — Dulu lagu Sukatani ‘Bayar, Bayar, Bayar’ hilang dari peredaran setelah nyenggol polisi. Kini, nasib serupa dialami album Cita-citaku (Ga Jadi Polisi) milik penyanyi cilik Gandhi Sehat
Ya, dunia musik anak lagi rame, tapi bukan karena lagu baru yang bikin gemas. Album Cita-citaku (Ga Jadi Polisi) milik penyanyi cilik Gandhi Sehat mendadak ditarik dari peredaran, padahal belum lama dirilis.
Gandhi sendiri bukan penyanyi biasa. Bocah 6 tahun asal Sleman ini baru saja merayakan ulang tahun sekaligus meluncurkan albumnya pekan lalu. Tapi euforianya nggak berlangsung lama. Tiba-tiba semua lagu hilang.
Bacaaja: Drama Hukum di Medan: Korban Pencurian Jadi Tersangka, Polisi Bilang Begini
Bacaaja: Suami Korban Jambret Jadi Tersangka, Kompolnas Sentil Polisi: Hukum Bukan Cuma Soal Pasal
Lewat pernyataan resmi di Instagram, tim manajemen menjelaskan kalau album itu sejak awal dibuat sebagai karya seni — terinspirasi dari cerita polos seorang anak kecil.
“Album ini dibuat berdasarkan sudut pandang anak usia 6 tahun,” tulis manajemen.
Konsepnya simpel: jujur, lugas, dan khas dunia anak-anak. Tapi ternyata, respons publik nggak sesederhana itu.
Banyak tafsir dan beragam reaksi
Setelah rilis, album tersebut langsung memicu beragam reaksi di ruang publik. Ada yang menganggapnya unik, ada juga yang menafsirkannya ke mana-mana.
Melihat diskusi makin melebar, manajemen akhirnya ambil rem darurat.
“Setelah melihat dinamika serta berbagai penafsiran yang berkembang, kami memutuskan untuk menghentikan peredarannya,” lanjut pernyataan itu.
Sekarang? Seluruh lagu dan konten terkait sudah dihapus dari kanal resmi Gandhi.
Manajemen juga memberi garis tegas: kalau masih ada lagu yang beredar di luar kanal resmi, itu bukan lagi tanggung jawab mereka.
“Segala bentuk penyebaran ulang bukan menjadi tanggung jawab kami,” tulisnya.
Mereka juga menegaskan satu hal penting, keputusan ini bukan karena tekanan pihak mana pun. Alias bukan “ditarik paksa”.
“Ini murni bentuk tanggung jawab kami sebagai kreator dan untuk menghindari kesalahpahaman,” jelas manajemen.
Dari kado ulang tahun jadi kontroversi
Yang bikin publik makin kaget, album ini sebenarnya dirilis sebagai bagian dari perayaan ulang tahun Gandhi. Harusnya jadi momen bahagia, malah berubah jadi perbincangan panas.
Fenomena ini lagi-lagi nunjukkin satu hal: di era digital, karya bisa viral dalam hitungan jam, tapi juga bisa “menghilang” secepat itu.
Sekarang pertanyaannya: ini cuma langkah hati-hati, atau tanda kalau ruang publik kita makin sensitif terhadap karya — bahkan yang datang dari suara anak-anak? (*)


