BACAAJA, BOYOLALI – Kasus dugaan pengiriman video tidak senonoh yang menyeret seorang camat di Kabupaten Boyolali terus menjadi sorotan. Korban berinisial TA (19) mengaku mengalami tekanan setelah melaporkan kejadian yang dialaminya.
Perempuan tersebut mengatakan, dirinya justru diminta meminta maaf kepada camat yang dilaporkannya. Hal itu terjadi setelah keluarganya menyampaikan aduan kepada Pemerintah Kabupaten Boyolali.
Menurut pengakuan TA, peristiwa bermula saat ia masih bekerja di sebuah toko roti milik camat tersebut.
Pada 30 Maret 2026, ia mengaku menerima dua kiriman video yang memperlihatkan terlapor dalam kondisi tanpa busana.
Saat menerima kiriman itu, TA mengaku sangat terkejut. Awalnya ia masih berpikir kemungkinan video tersebut terkirim secara tidak sengaja.
Namun hingga malam hari, ia mengaku tidak menerima penjelasan ataupun klarifikasi dari pengirim. Karena merasa tidak nyaman, ia akhirnya memutuskan memblokir nomor telepon tersebut.
Peristiwa itu kemudian diceritakan kepada keluarganya hingga akhirnya dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten Boyolali.
TA mengaku situasi justru semakin membuatnya tertekan setelah proses pengaduan berjalan.
Ia menyebut sebelum mediasi digelar, dirinya mendapat desakan agar meminta maaf kepada camat yang dilaporkan.
Menurut pengakuannya, kepala desa tempat tinggalnya juga sempat dihubungi terkait persoalan tersebut.
TA mengatakan dirinya merasa kecewa karena berharap persoalan itu diselesaikan dengan itikad baik, bukan dengan tekanan.
Ia juga mengaku merasa direndahkan dan mengalami beban psikologis setelah menerima kiriman video tersebut.
Saat kejadian berlangsung, TA diketahui memang masih bekerja di tempat usaha milik camat yang kini menjadi terlapor.
Ia mengungkapkan sebelumnya sudah mengajukan pengunduran diri, tetapi diminta tetap bekerja sementara waktu untuk membantu proses pelatihan pegawai baru.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Boyolali melalui Sekretaris Daerah M. Syawaludin menyampaikan bahwa Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) telah memanggil camat yang bersangkutan guna memberikan klarifikasi.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, pemerintah daerah menyebut keterangan dari terlapor menyatakan bahwa video tersebut terkirim karena kesalahan atau salah kirim.
Pemkab Boyolali juga menyampaikan bahwa kedua belah pihak telah dipertemukan dalam proses klarifikasi.
Menurut Syawaludin, dari hasil pemeriksaan sementara tidak ditemukan komunikasi lanjutan yang mengarah pada dugaan pelecehan setelah video tersebut terkirim. Ia juga menyebut terlapor telah menyampaikan permintaan maaf atas kejadian itu.
Meski demikian, pengakuan korban dan penjelasan dari pihak pemerintah menunjukkan adanya perbedaan pandangan mengenai kronologi maupun penyebab peristiwa tersebut. Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perhatian publik dan terus menuai beragam tanggapan. (*)

